Freedom, pameran terbaru dari STELLARISSA mengajak kita memasuki ruang kontemplatif di mana adibusana (couture), fotografi, film, dan seni kriya (craftsmanship) melebur menjadi satu.
Berlangsung di D'Gallerie, Jakarta Selatan, koleksi yang menjadi pusat pameran ini menghadirkan interpretasi feminitas yang emosional. Berikut sorotannya:
8 Karya Couture Putih:
Seluruh siluet hadir dalam palet putih bersih, diipilih sebagai simbol yang membuka ruang bagi kemurnian.
Manipulasi Tekstil Tingkat Tinggi:
STELLARISSA mengeksplorasi perpaduan material organdy, lace (renda), tulle, dan duchess satin. Berbagai jenis renda secara khusus dibongkar dan direkonstruksi menjadi komposisi yang benar-benar baru.
Lebih dari 40 Jam Pengerjaan Kriya:
Dedikasi terhadap seni kriya ditunjukkan melalui pembentukan siluet organik menggunakan cetakan batu alam dan proses vitrifikasi celup resin (resin-dip).
9 Jenis Material Manik & Teknik Tambour:
Eksperimen artistik pada material table memamerkan buket bulu-resin yang dijahit tangan menggunakan teknik tambour, menciptakan kedalaman tekstur.
STELLARISSA menggandeng deretan seniman ternama untuk menerjemahkan makna "kebebasan" melalui lensa medium mereka masing-masing:
Galuh Anindita & MAHIJA (Perhiasan/Seni Objek): Terinspirasi puisi Le Cygne karya Stéphane Mallarmé, instalasi ini mengambil siluet angsa sebagai simbol transformasi dan kerinduan.
Indra Leonardi (Fotografi): Sang maestro fotografi menghadirkan karya WED | 31.07.2024 | 08, bagian dari proyek tahunan 365. Ia menangkap cahaya yang berlalu dan kehidupan sehari-hari sebagai meditasi visual.
Asmara Abigail & Reuben Tourino (Film Pendek & Arahan Visual): Lewat film pendek berjudul Freedom, keduanya mengambil inspirasi dari Isadora Duncan, penari revolusioner yang menolak aturan balet tradisional. Gerak tubuh dalam film ini menjadi bentuk ekspresi kebebasan emosional.
Trifitria Nuragustina
Topic
#feminaFashion