Foto: 123RF
Kabar baiknya, seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi digital, muncul beberapa aplikasi keuangan yang memudahkan masyarakat belajar keuangan. Menurut Aidil Akbar, perencana keuangan independen, meski kehadiran aplikasi-aplikasi perencanaan keuangan sangat bagus untuk sarana edukasi, sayangnya tidak banyak membantu pengambilan keputusan seseorang dalam keuangannya.
"Manfaatnya mungkin hanya sekitar 20%. Karena dalam hal keuangan, sebanyak 70 % hingga 80% dipengaruhi oleh emosi atau faktor psikologis. Karena itu berkonsultasi pada perencana keuangan tetap dibutuhkan."
"Ketika dilakukan analisa, ternyata kemampuan finansial mereka tidak mendukung rencana tersebut. Dari situ bisa diketahui bahwa ada keinginan yang lebih besar dari orangtua untuk menyekolahkan anaknya ketimbang kebutuhan pendidikan anak yang sebenarnya. Toh, untuk mendapatkan pendidikan yang layak tidak harus ke Amerika, bukan?" jelasnya.
Aidil kemudian menyimpulkan bahwa kondisi dan tekanan hidup di suatu kota berpengaruh terhadap cara seseorang mengelola keuangan.
"Dari pengalaman saya memberikan edukasi tentang perencanaan keuangan di beberapa daerah di Indonesia, masyarakat yang tinggal di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi, memiliki pemahaman tingkat literasi keuangan yang lebih tinggi ketimbang di daerah lainnya. Dari sini saya menyimpulkan, kondisi dan tekanan hidup di suatu kota memengaruhi penduduknya dalam hal mengelola keuangan.
"Di Bandung dan Surabaya, yang termasuk kota besar di Indonesia, ternyata literasi keuangan penduduknya masih di bawah 50%. Karena itu, edukasi keuangan memang sangat dibutuhkan untuk masyarakat kita. Bisa dimulai dari hal sederhana. Misal, menentukan perencanaan keuangan untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Anda boleh mengunakan aplikasi untuk melakukan perhitungannya, namun untuk pengambilan keputusannya tetap dibutuhkan seorang ahli keuangan yang bisa membimbing Anda," Aidil menegaskan. (f)
Topic
#aturgaji