Foto: Dok. La Maison Patisserie
Sebagai fashion blogger, bagaimana akhirnya cinta pastry?
Saya awalnya dibuat penasaran oleh toko pastry yang menjadi antrean berjam-jam. Karena itu, saya lalu mengeksplorasi dunia pastry melalui pendidikan Diplôme de Pâtisserie di Le Cordon Bleu. Saya akhirnya memahami makna produk ini adalah sebagai karya seni dan kompleks.
LMP memberikan pemahaman warga Medan terhadap French pastry yang sesungguhnya. Bagaimana menurut Anda?
Ya, kini warga Medan mulai mengenal French pastry yang ditangani serius dan mulai mengapresiasi seni dalam bentuk hidangan. Banyak yang datang dari kota lain dan negara tetangga dan menjadikannya oleh-oleh Medan.
Apa hal-hal out of the box yang Anda lakukan hingga macaron LMP jadi omongan?
Seberapa penting media sosial?
Media sosial memungkinkan brand untuk mendapatkan update mengenai keinginan konsumen. Bobot kepentingan yang membuat akun Instagram LMP dikelola tim kreatif yang berusaha keras memberikan konten menarik. Mungkin, karena kepopuleran akun ini pula yang menyebabkan pop up booth kami di WTF Market di Jakarta beberapa bulan lalu diserbu pembeli.
Kemasan eksklusif menjadi daya tarik. Seserius apa pembuatannya?
Tiap tahun saya mencari desainer yang berbeda. Karakter desainer yang beragam inilah yang dibuat sejalan dengan kreasi unik LMP. Produksi dilakukan secara seasonal dan terbatas untuk merangsang minat pembeli.
LMP memproduksi merchandise yang cocok untuk gaya hidup anak muda. Apa saja ini?
Sampai saat ini sudah ada apron, smartphone casing, dan wooden box journal untuk memperkuat branding. (f)
Baca Juga:
- TocToc, Restoran Pembicaraan Dunia dari Seoul
- Menu Spring-Summer dari ST.ALi Jakarta
- Demam Japanese Cheese Tart
Topic
#millennialmanual