Foto: Shutterstock
Sebelum pandemi tiba, perayaan ini selalu dimeriahkan dengan berbagai perlombaan seru. Lomba makan kerupuk, lari kelereng, dan balap karung, selalu diadakan untuk anak-anak merasakan nilai-nilai perjuangan. Namun, untuk ibu-ibu, biasanya ada yang namanya lomba menghias tumpeng.
Tumpeng selalu ada dalam acara perayaan. Ukurannya yang besar dan rupanya yang megah, menjadi sebuah simbol pada suatu acara. Selain nasi yang dibentuk kerucut menyerupai sebuah gunung, beramacam-macam lauk selalu menemani.
Tumpeng adalah nasi yang dibentuk kerucut. Umumnya dibuat dari nasi putih, nasi kuning, atau nasi gurih. Merupakan budaya masyarakat jawa yang tertera dalam Serat Centhini. Disebut juga dalam naskah sastra Ramayana, Arjuna Wijaya, dan Kidung Hasra Wijaya sebagai hidangan dalam berbagai pesta.
Tak pernah diketahui dengan pasti sejak kapan tumpeng mulai dikenal. Yang jelas, kehadiran nasi berbentuk kerucut, disertai lauk-pauk pilihan ini, begitu sarat makna. Ada 16 jenis tumpeng yang dikenal dalam budaya Jawa. Bentuk yang menjulang ke atas, menyimpan harapan agar kehidupan manusia makin ‘naik’ atau ‘tinggi’.
Sebagai Simbol Permohonan
Bentuknya dianalogikan sebagai gunung Mahameru, yang dalam kepercayaan Hindu merupakan tempat bersemayamnya para dewa.Oleh karena itu, tumpeng tidak disajikan sembarangan untuk keperluan sehari-hari. Ia hadir dalam upacara penting untuk mengingatkan manusia kepada Tuhannya.
Tumpeng merupakan singkatan dari “tumapaking penguripan, tumindak lempeng tumuju Pangeran.” Artinya, berkiblatlah kepada pemikiran bahwa manusia itu harus hidup menuju jalan Tuhan.
Masyarakat Jawa tradisional percaya bahwa ada kekuatan gaib (red: Tuhan) yang mempengaruhi hidup mereka. Karena itu tumpeng hadir sebagai simbol permohonan kepada Yang Kuasa.
Kalimat-kalimat tersebut berasal dari Al Quran, surat Al Isra ayat 80, yang berarti: “Ya Tuhan, masukanlah aku dengan sebenar-benarnya masuk dan keluarkanlah aku dengan sebenar-benarnya keluar serta jadikanlah dari-Mu kekuasaan bagiku yang memberikan pertolongan”.
Beberapa ahli tafsir percaya ayat ini merupakan doa Nabi Muhammad SAW saat akan hijrah ke Madinah. Maka, jika seseorang menyajikan tumpeng, berarti ia sedang memohon pertolongan kepada Sang Pencipta agar terhindar dari keburukan dan memperoleh kemuliaan. Dan, itu semua akan didapatkan jika kita berusaha dengan sungguh-sungguh.
Selama ini, masyarakat Indonesia terbiasa melakukan prosesi potong tumpeng. Tumpeng dipotong bagian pucuknya oleh si pemilik acara, untuk diberi kepada orang yang dituakan atau dihormati. Selanjutnya, tumpeng boleh disantap oleh semua tamu yang hadir, sebagai perlambang berbagi rezeki. Namun, sejatinya, tumpeng seharusya tidak dipotong bagian pucuknya, tapi dikeruk dari bawah hingga menuju puncaknya.
Arti Lauk Pauk Pada Tumpeng
Ayam
Ikan
Mewakili hewan air. Dulu, ikan lele sering digunakan. Karena hidupnya yang selalu berenang di dasar sungai atau kolam, ikan lele dimaknai sebagai kerendahan hati. Falsafah ini diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ikan bandeng juga sering disajikan dengan harapan rejeki yang selalu melimpah seperti banyaknya duri dalam ikan bandeng.Ikan teri
Telur
Sayur
Kangkung: Manusia diharapkan dapat hidup dimana saja dan dalam kondisi apapun seperti kangkung yang dapat hidup di darat dan air.
Bayam: Melambangkan kehidupan yang tentram.
Taoge: Selain menjadi lambang kesuburan dan kemudahan, taoge juga mengandung makna kreativitas tinggi.
Labu siam/kluwih: Sebagai pengharapan rejeki berlebih dan kepintaran yang unggul . (Luwih=lebih).
Kacang panjang: Hadir utuh, tidak dipotong. Memiliki makna panjang umur. Selain itu diharapkan manusia selalu perpikir panjang sebelum bertindak. Kacang panjang utuh umumnya tidak hadir sebagai lauk, tapi sebagai hiasan yang mengelilingi tumpeng atau ditempelkan pada badan tumpeng.
Selain lauk di atas, biasanya ada lauk lain yang disajikan, seperti perkedel kentang, tahu tempe bacem, kering tempe kentang, dan variasai lainnya. (f)
Baca juga:
6 Hal Yang Tak Kamu Ketahui Tentang Tempe
Daun Jati Menjadikan Gudeg Berwarna Gelap. Ini Alasannya!
Sejarah Satai Rembiga Khas Lombok