Food Story
10 Hari Menikmati Hasil Laut Kei

12 Feb 2020


Kepulauan Kei. (dok.ACMI)

ACMI (Aku Cinta Makanan Indonesia) kembali membuka keindahan kuliner Indonesia melalui perjalanan ke Kepulauan Kei, Maluku Tenggara.

Diutus Ade Putri Paramadita, Public Relations Manager ACMI, untuk mengeksplorasi gaya makan lokal tersebut. ACMI mengajak serta Debryna Dewi, seorang dokter dan seniman sourdough yang pernah bertugas di Kei.
 
Berlangsung di Ramurasa Cooking Studio, Kemang, digelar sharing session bertajuk  “#WhenIn Kei: Menelusuri Satu Lagi Hidden Gem di Timur Indonesia” dengan keduanya sebagai host.


Tampilan langka kenari dengan kulitanya. (dok.ACMI)
 
Ade bercerita mengenai perjalanan udara ke Ambon yang berlanjut ke Langgur di Pulau Kei Kecil, kota yang jadi pusat ekonomi.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 33,000 jiwa, ini kecamatan dengan penduduk terbanyak di Provinsi Maluku Tenggara. Penduduk dari Kei Besar dan Tanimbar Kei mengunjunginya berkala untuk membeli bahan pokok. 
 
Jalan beraspal yang licin menjadi penghubung antar wilayah di Kei Kecil, ditunjang jejeran cottage di Pasir Panjang. Sunset di sini memesona, ditemani pasir pantai yang seakan-akan sehalus tepung.

 

Santapan sea urchin! (dok.ACMI)

 
Dari Kei Kecil, dibutuhkan sekitar 60 menit menggunakan speed boat menuju Kei Besar. Pulau ini lebih luas, namun tak seramai Kei Kecil. Pemandangan cantiknya banyak, mulai dari pantai, air terjun, hingga pegunungan.

Di Kei Besar, Ade dan Debryna pergi mencari gurita hingga bulu babi (sea urchin). Padahal di Jakarta, keduanya bahan mahal di banyak restoran Jepang.  
 


Hasil tangkapan segar. (dok.ACMI)
 
Di Tanimbar Kei, mereka menemui konsep bakar batu. Berbeda dengan versi Papua yang memakai batu sungai, teknik di sini mengandalkan batu laut yang berpori.  Memang, penghantar panasnya tak secepat batu sungai, namun batu laut tetap bisa mematangkan makanan walau lebih perlahan. 
 
Advertisement
Di dalam keranjang anyam daun kelapa, dimasukkan buru hotong, sejenis serealia endemik yang ditanak dengan santan. Serelia ini dicampur enbal
(sejenis singkong) tumbuk dan kelapa parut. 


Campuran yang nikmat begitu saja ini ditutup dengan ‘satai’ dari protein sumber laut, seperti kepiting, lobster, udang, ikan, atau kerang. Semua diposisikan melintang pada sisi atas keranjang, lalu ditutup helaian daun besar.

Proses panggang berlangsung empat jam dalam lubang buatan sedalam 80 cm yang ditumpuk batu-batu laut.


“Prosesnya lebih seperti mengukus dan mengasap” ujar Ade. 

Hasilnya, buru hotong yang memadat mirip kue basah, dilembabkan tetesan kaldu seafood. Gurih, alami. Begini lah nampaknya seafood menyedapkan masakan di pulau yang bukan penghasil rempah.
 

Sourdough enbal dan keju vegan kenari. (foto: TN)
 
Di Tanimbar Kei tak ada punya aliran listrik. Sinyal telpon pun sulit menembus daerah ini. 


"Mandi pun enggak pake lampu. Dan ketika mengguyur air, airnya air asin dari laut!" ujar Ade, berseloroh tentang kehidupan unik dekat dengan alam. 

Tanpa intervensi kehidupan modern, Ade dan Debryna merasakan hari-hari sarat interaksi antar manusia. Di antara obrolan dan ngumpul-ngumpul, warga kerap melakukan bakar batu. Terdapat empat agama yang menyebar pada 500 jiwa di sini dan sebuah kehidupan yang rukun. 

 

Debryna Dewi memasak Woku Ayam dengan kenari Kei. (Foto: TN)
 
Di tengah sharing session, Debryna memasak bahan baku yang dibawa dari Kei. Chef dan media diajaknya bersantap enbal kelapa, enbal kukus, hotong, woku ayam kenari, juga sourdough enbal yang disertai vegan cheese dari kenari.
 
Kabarnya, ACMI tengah menyiapkan sebuah tur kuliner ke wilayah ini. Tertarik menantang sisi adventurir Anda dalam berburu makanan? Ikuti informasinya di ACMI! (f)
 

Baca juga: 
Belanja Ikan di Muara Baru, Yuk!
Hans Christian Menuju Pelabuhan Baru
Tomasso Mengenang Florence


 

Trifitria Nuragustina


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?