Food Review
Di Pangium, Melestarikan Sekaligus Merayakan Perubahan Hidangan Peranakan Jadi yang Utama

29 Mar 2025

Pangium, restoran berbintang Michelin yang terletak di Singapore Botanic Gardens (situs UNESCO World Heritage), adalah destinasi kuliner yang memadukan warisan Peranakan dengan sentuhan kontemporer.

Di bawah naungan COMO Group, bangunannya yang stand-alone memancarkan nuansa zen berkat palet warna netral dan desain minimalis. Teduhnya lokasi ini menciptakan atmosfer eksklusif bagi restoran milik Chef Malcolm Lee—salah satu pionir kuliner Peranakan modern di Singapura.
 
Nicola LeeAcademy Chair untuk 50 Best Restaurants wilayah South East Asia - South, menemani makan siang Femina yang dirancang oleh Singapore Tourism Board. Nicola telah mengikuti perjalanan Chef Malcolm sejak Candlenut—restoran Peranakan pertamanya—meraih bintang Michelin pada 2016, sekaligus menjadikannya restoran Peranakan pertama yang menyandang penghargaan Michelin. 
 
Chef Malcolm piawai mengolah tradisi menjadi sesuatu yang segar, terutama lewat penyajian visual yang estetis. Dedikasinya pada slow cooking berteman eksperimen baru turut membuat Pangium masuk dalam "Asia’s 50 Best Discovery." 
 
Pangium menghidangkan Straits cuisine (masakan Peranakan) dengan interpretasi modern. Ini aliran kuliner yang lahir dari akulturasi budaya Tionghoa, Melayu, dan Indonesia selama berabad-abad di Semenanjung Malaka (khususnya Penang, Malaka, dan Singapura).

Ciri khasnya mencakup penggunaan rempah kompleks (seperti lengkuas, kunyit, dan serai) serta bahan fermentasi (contoh: Cincalok, tempoyak). Nama "Pangium" sendiri diambil dari pohon keluak (Pangium edule), bahan utama dalam masakan Peranakan seperti Ayam Buah Keluak.
 
Dalam buku menunya, Malcolm menulis:
We’re not just preserving heritage, we’re celebrating the constant arrival of new influences and adapting them into our cuisine.
 
Advertisement
Seri "Menu No.8" mencerminkan filosofi ini melalui kreasi seperti:

Polo Bun: Roti ala Hong Kong berisi manisan buah kundur, daging babi, ketumbar, dan lada Kampot.
 
Rawon Wagyu: Satai shortrib wagyu dan tendon dari Westholme, disajikan dengan rawon (sup hitam Jawa) dan misoa.
 
Nasi Ulam: Beras premium wuchang (impor Beijing) dipadukan dengan woku kakap merah, telur Mangetsu (peternakan Jepang), dan tumisan kari babi.
 
Pong Tauhu Soup: Bakso campuran babi, udang, dan daging kepiting salju dengan kuah shellfish—elevasi dari hidangan rumahan Peranakan klasik.
 
Untuk penutup, Kueh Ambon (bika ambon) dan Roselle & Watermelon Sorbet disajikan bersama kue-kue Melayu-Peranakan lainnya.

Alih-alih mengolah plated dessert, Chef Malcom memperlihatkan kekayaan koleksi kue-kue lokal dan menyajikannya sebagaimana adanya (walau lebih dalam potongan yang lebih mungil), mengapresiasi simplicity.

Di Singapura yang metropolitan, restoran seperti ini menjadi pengingat akan akar budaya sekaligus terobosan gastronomi. (f)
 

Trifitria Nuragustina


Topic

#singaporeMichelin, #singapore, #kuliner

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?