BELANJA IKAN SEGAR
Mengikuti saran KKP, femina menuju lokasi wisata ini menjelang magrib, menyusuri Jalan Muara Baru Raya yang di sisi kanan-kirinya dipadati warteg, rumah makan Padang, hingga rumah makan coto Makassar. Areanya padat warga. Makin malam, makin ramai. Penduduk Jakarta Utara menjadi target utama, termasuk penghuni area Kelapa Gading yang doyan jajan.
Hilda D. Rani, Ketua Perum Perindo Pusat, menyambut femina. Ia menunjukkan maket pasar. Lantai dasar diisi ruang pertemuan, area bongkar muat, 896 kios basah, hingga area pengepakan. Menyusuri kios basah, femina melihat beragam hasil laut, mulai dari rajungan Lampung, ikan layur Sukabumi, ikan selar Pulau Seribu, kakap merah Papua, kepiting bakau Indramayu, hingga marlin fillet Bitung. Pedagangnya beragam, dari Makassar, Madura, Surabaya, dan yang terbanyak dari Serang.
Lantai sedikit licin di beberapa tempat, dari air yang bercampur minyak alami ikan, juga dari baskom perendam ikan dan yang mengalir dari proses pembersihan. Kenakan boots Anda. Banyak kuli bergegas mengantar hasil laut dari satu los ke los lainnya. Anak-anak disarankan melihat suasana perdagangan dari lantai atas.
Selain versi segar (istilahnya ‘ikan harian’), dijual tampungan cold storage dari ikan yang volumenya banyak, seperti tongkol, ikan layang, dan ikan kembung. Rata-rata perdagangan hasil laut adalah 30 ton per hari.
Nafsu makan bangkit membayangkan ikan-ikan dipanggang di atas bara api. Saat melihat ikan tenggiri utuh yang besar dan gendut, langsung kebayang untuk bikin pempek di rumah. Bawa cooler box untuk membawa pulang hasil laut yang masih segar ini. Pasti kalap melihat udang yang sebesar telapak tangan orang dewasa.
Di lantai atas terdapat 155 kios maritim. Rencananya akan diisi penjual produk kering berisi olahan ikan dan alat penunjang, mengutuhkan konsep one-stop shopping PIM Muara Baru. Warteg dan kedai kopi dari pasar lama migrasi ke area kering ini. Pedagang kini bisa lebih nyaman jajan dan ngopi.
Trifitria Nuragustina
Topic
#pasar, #ikan