Fiction
Tarian Cinta Lumba-Lumba [1]

5 Dec 2016


Bagian I
           
            Rayuan ombak Pantai Lovina terlalu indah pagi ini. Selalu, seperti ada kekuatan magnet menarikku ke sini, padahal satu jam lagi aku harus tampil dalam pertunjukan sirkus lumba-lumba. Di kejauhan, aku melihat beberapa lumba-lumba meloncat ke udara. Para wisatawan yang berada di atas jukung, memberi tepuk tangan. Kulambaikan tanganku ke arah lumba-lumba itu, menitipkan salam Lado, lumba-lumba jantan berhidung botol,  ‘muridku’ yang sekarang “terpenjara’ di sebuah tempat wisata.
            Pantai Lovina bukan main cantiknya pagi ini. Penuh dengan jukung, dengan layar aneka warna. Layar-layar jukung itu membuat pantai ini dari kejauhan seperti arena layang-layang,  menghadirkan perasaan indah dan damai.  
            Seekor lumba-lumba, membalas lambaianku dengan loncatan yang sangat memukau. Membalas lambaianku? Rasanya aku terlalu gede rasa. Tak bisa kupungkiri, kawanan mamalia yang sangat cerdas itu telah memikat hatiku.   Aku jatuh cinta pada mereka lima tahun lalu, ketika mengikuti PKL di pantai ini. Mungkinkah yang meloncat tadi,  kekasih hati Lado?
            Aku bersiap meninggalkan pantai. Sudah satu jam aku di sini, merenungi perjalanan hidupku yang seperti nano-nano, kadang-kadang manis, lain waktu  asam, bahkan sering terlalu pahit.
              Dua jam lagi,  aku dan Lado cs akan tampil dalam sebuah pertunjukan sirkus  lumba-lumba.
            Rawit, seorang ibu muda penjual aneka suvenir, setengah berlari mengejarku. Ia sudah sangat mengenalku, karena aku terlalu sering ke sini.
            “Suvenirnya ada yang baru ini, Kak Beca,” kata Rawit, sambil menyodorkan sebuah selendang bernuansa Bali. Ia memanggilku Kak, karena dia tahu aku berasal dari Danau Toba.
            “Aji kuda niki?” tanyaku dalam bahasa Bali,  sambil menunjuk sebuah selendang yang ada renda merahnya.
            “Dua ratus ribu, Kak. Enggak mahal, kok.  Bagus selendang ini, bisa Kakak pakai dalam pertunjukan sirkus lumba-lumba.”
            “Ah, arga nai tahe,” balasku dalam bahasa Batak. Ia terbelalak.
            “Bahasa apa itu, Kak?”
            “Bahasa Jepang!” kataku tertawa. “Itu bahasa daerahku. Artinya mahal sekali. Tapi, sudahlah, saya ambil satu, deh, selendangnya.”                                                                        
            “Matur su, Kak. Semoga Kak Beca cepat dapat jodoh.”
            Hampir saja aku mencubitnya. Handphone-ku tiba-tiba berbunyi. Dari pimpinanku di kantor,  sang pemilik kekuasaan tak terbatas.
            “Kamu di mana, Beca?” suara Pak Bagus, seperti dinginnya es yang membeku. Tidak pernah ada kehangatan.
            “Saya masih di Lovina, Pak.”
            “Cepat ke sini, persiapkan pertunjukanmu.”
            Dia pria yang dingin, keras, dan tidak pernah bisa bersikap manis. Tidak hanya
kepadaku, tapi juga kepada semua anak buahnya. Wajar saja menurutku dia bersikap seperti itu,  karena dia anak pemilik hotel berbintang itu. Kalau bukan karena jatuh cinta pada Lado, tak akan kutinggalkan kolam ikan mas dan lele kami di Samosir, di sebuah pinggiran Danau Toba. 
            Tidak sampai satu jam dari Pantai Lovina, Singaraja, aku sudah sampai  di tempatku bekerja. Inilah Dipo, tempat Lado  ‘ditawan’. Di hotel berbintang lima  merangkap  tempat wisata elite inilah aku berkarier,  bersahabat dengan lumba-lumba yang tersiksa batinnya tiap hari.  Mereka benar-benar sensitif, emosinya seperti manusia. Kadang-kadang aku bahkan lupa, mereka bukan lumba-lumba, tetapi orang-orang terdekatku. Sering, jika bersama mereka, terutama jika ada Lado, aku teringat Bapak dan Mak di kampung.
            Semua sudah siap. Pakaianku sudah kuganti dengan seragam pertunjukan yang  seksi, tapi sopan. Inilah panggung pertunjukanku, dunia  yang sesungguhnya kunikmati, tapi sungguh menikam jantungku. Aku bisa menikmati, karena aku mencintai  lumba-lumba itu. Tapi,  tiap kali mereka mempertunjukkan keterampilan mereka  seperti berhitung, meloncat, menari-nari di udara, menerobos lingkaran api, aku yang merasa sangat tersiksa. Lumba-lumba itu sangat stres melakukannya, karena sudah ‘disiksa’ sebelum pertunjukan.
            “Kamu sudah siap, Sayang?” pasanganku di panggung, Bens, mencubit lembut pipiku.
            Aku  menatapnya dengan rindu. Dia bukan saja pasanganku di panggung pertunjukan, tapi mungkin, jika Tuhan menghendaki, suatu saat akan menjadi pasangan hidupku.  Kami bertemu di sini, dan aku jatuh cinta padanya.  Jatuh cinta, dalam kapasitas wanita dewasa dengan pria matang. Aku salut pada kesabarannya menjinakkan beberapa lumba-lumba dengan kasih sayangnya yang tulus. 
             Ia pria yang sangat romantis, tapi pembicaraannya padaku tak pernah mengarah ke pernikahan.
            Di depanku, ada laut buatan yang  sudah dijejali  dengan klorin.  Di mana Lado?   Aku tahu dia sedang tidak mood, karena setelah pertunjukan kemarin sore, kudengar Made memukul ekornya. Seandainya aku adalah pemilik kawasan wisata ini, aku akan menyuruh Lado bermanja-manja saja di air, bahkan mungkin, diam-diam akan kulepaskan dia ke Pantai Lovina. Biar dia bertemu dengan para kekasih hatinya.
            Lado dan dua lumba-lumba lain sebentar lagi siap beraksi. Mereka akan menerobos lingkaran api yang disiapkan petugas. Aku benar-benar tegang, takut mereka tidak mampu memberikan pertunjukan yang memuaskan. Jika itu terjadi, tidak akan ada ikan mullet untuk makan siang mereka.  Bagus, maksudku Pak Bagus, akan sangat marah, dan menyuruh petugas menghentikan pemberian ikan, sampai mereka ‘bertobat’.
            Istlah itu, ciptaan Pak Bagus. Ia memandang  kesalahan lumba-lumba sama peringkatnya dengan kesalahan manusia. Umurnya hanya beda dua tahun di atasku, tapi ia sudah menduduki posisi manajer. Dulu, dulu sekali, sebelum aku jatuh cinta pada Bens, sebuah rasa pernah kupendam untuknya. Tapi, cinta itu akhirnya kubiarkan terbang ditiup angin ribut,  karena dia pria yang tidak cocok dengan kepribadianku.
            Air disemburkan Jack ke wajahku. Saudara sepupu Lado itu ingin menggodaku.  Barangkali dia tahu, aku juga sedang stres.  Tak puas hanya menyemburkan air,  Jack menyentuh pipiku, seakan memohon, supaya dia tidak tampil dalam pertunjukan. Apa dayaku, aku hanya bawahan yang tunduk pada perintah atasan.
 
****
            Kurasa, nasibku sama dengan lumba-lumba di sini. Dipaksa melakukan hal
yang tidak disukai, tapi harus dilakukan, demi menyenangkan orang lain. Bedanya, orang lain bagi lumba-lumba adalah penonton dan penguasa wisata ini. Sedang aku, orang lain itu adalah bapakku, seseorang yang sangat kuhormati dan kusayangi.
            Tadi malam, Bapak meneleponku lagi. Membuat perasaanku sungguh stres!        
            Stres? Kupandangi ‘murid-murid’-ku yang sedang dilatih keras oleh instruktur. Made kembali memukul ekor Lado. Entah kenapa, ‘murid’ yang satu itu lebih sering dipukul. Padahal, di antara teman-temannya, Lado yang paling cerdas. Stres jugakah ‘murid-murid’-ku itu? Dunia mereka adalah lautan bebas. Dunia liar, tapi indah, yang tidak ada aturan dan penyiksaan.
            Apakah aku akan seperti lumba-lumba itu, jika kupaksakan menikah dengan pria pilihan Bapak? Di usia tuanya, Bapak tiba-tiba menjadi sangat naif. Di zaman supercanggih ini masih saja ada perjodohan ala Siti Nurbaya.
            Pikiranku lari ke rumahku, di Samosir. Di sana,  istanaku yang kecil  dikelilingi mangga Samosir yang berbuah lebat kalau lagi musim.  Di belakang rumah, ada kolam ikan mas dan lele, yang kupastikan terbengkalai sekarang. Kedua kolam itu dibuat Bapak untuk bahan eksperimenku  sebagai mahasiswi fakultas perikanan sekaligus cikal bakal usaha perikanan jika aku sudah lulus kuliah.  Saat penelitian, aku pulang dari kampusku di Medan, dan kolam ciptaan Bapak kuobrak-abrik. Hasilnya, aku lulus dengan nilai memuaskan.
            Tak susah bagiku menjelaskan ketika dosen pengujiku menyerang dengan banyak pertanyaan sederhana, tapi menjebak. Ikan dan air adalah bagian yang sangat akrab denganku sejak kecil. Danau Toba sangat dekat dari rumah kami.  Ke sanalah aku sering menemani Bapak memancing ikan mas dari atas solu, semacam perahu kecil di daerahku.
            Di samping kiri kanan rumah, terhampar sawah yang luas. Terbayang  sosok Bapak ketika marsuan,  berteriak-teriak memanggilku supaya membawa kopi hangat dan singkong rebus ke sawah. Beliau sangat melindungiku karena aku anak satu-satunya. Ketika kuputuskan meninggalkan rumah menjadi pelatih lumba-lumba setelah menjadi sarjana perikanan,  ia sakit dua minggu. Anehnya, Mamak melarangku pulang menjenguk Bapak.
            Dan tiga bulan lalu, Bapak begitu gencar menjodohkanku dengan seorang pria.
            “Siapa dia, Bapak?” tanyaku iseng.
            “Haholongan, pariban-mu. Sebenarnya, sejak kau dan Holong masih anak-anak di kampung, Bapak dan mamak Holong sudah menjodohkan kalian, meskipun  enggak serius.”
            Kutahan emosiku. Aku tak mau memprotes, tapi nama pria itu,  sungguh membuatku  kecewa. Tak mungkin aku bisa mencintainya.
            Pria pilihan Bapak yang hendak dijodohkan padaku, sungguh tak kusangka adalah Haholongan! Dia adalah teman bermainku semasa kecil di Samosir. Holong adalah pariban-ku,  lebih jelasnya saudara sepupuku. Bapakku dan ibunya saudara kandung!
            “Kawin dengan pariban sudah enggak zaman lagi, Bapak,” kataku
sedikit emosi tadi malam di telepon.
            “Kenapa memang, Boru?
            “Kuno, Bapakku.”
            “Jangan terlalu maju pikiranmu, hasianku. Kuno katamu, tapi nyatanya adat kita memang begitu. Banyak yang kawin sama pariban, dan bahagia seperti....”
            “Seperti dalam dongeng picisan?” potongku cepat.
            “Memang ada dongeng picisan? Bukannya roman picisan yang ada?”
            “Itu bahasaku saja, Bapakku Jelek.”
            “Kujitak nanti kamu, Butet!”
            Aku tahu Bapak sedang bahagia. Ia akan memanggilku Butet, jika suasana hatinya sedang bagus.
            “Menikahlah dengan Holong, Boru.  Dia pria yang pantas untukmu.”
            “Holong  saudara sepupuku, Bapak. Bapak dan mamaknya saudara kandung!”
            “Justru itulah tujuan perjodohan dengan pariban dalam adat kita. Supaya kekerabatan dan kekeluargaan tetap terjalin manis. Sayang jika kalian berdua kawin dengan orang di luar keluarga besar kita.”
            “Saya enggak bisa, Bapak.”
            “Kamu tahu, berapa sinamot yang disiapkan untuk melamarmu?”
            “Saya enggak perlu tahu, Bapak.”
            “Kita bisa bikin pesta seminggu di pinggir Danau Toba!”
            Aku tak mengomentari.
            “Benaran, kamu enggak ingin tahu?”
            “Enggak, Bapak.
            “Satu M, Boru.”
            “Apa itu M? Mandi maksudnya?” tanyaku, sengaja mengalihkan.
            “Satu miliar, Boru!”
            “Enggak saya pikirkan, Bapak.”
            “Tangkang nai ho, boruku.”
            Kututupi wajahku, dan segera kusudahi pembicaraan. Betapa matrenya bapakku, sejak aib itu terjadi dua tahun lalu. 
 
****
            Aku bukan raja parhata, yang mengerti sejarah dan seluk-beluk adat Batak. Aku dibesarkan dalam suasana adat Batak yang kental. Tetapi, akal sehatku tidak bisa menerima perjodohan antar-pariban. Jika kukatakan naif, Bapak bisa jatuh sakit lagi. Bapakku masih kolot. Mungkin, orang sezaman Bapak, menganggap perjodohan antar- pariban masih logis dengan alasan utama supaya kekerabatan antara saudara laki-laki dan saudara perempuan sekandung tetap terjalin manis.
            “Kau sudah siap, Beca?” Bens mengulang pertanyaannya, memenggal lamunanku.
            Aku diam.
            “Kau kenapa?”
            Aku menatapnya, kesal bercampur rindu.  Laki-laki yang kucintai, tapi entah sampai kapan hubungan ini terkatung-katung.
            “Tadi malam Bapak meneleponku, Bens.”
            “Beliau sehat, ‘kan?”
            “Sehat,” kataku tawar.  “Aku yang tidak sehat.”
            Bens tertawa, dan mengacak lembut rambutku.
Advertisement
            “Hatiku yang tidak sehat,” ulangku, memancing responsnya.
            Dia diam, seperti mengerti alam pikiranku yang kacau, tapi tidak bisa melakukan tindakan apa pun!
            “Keluarga Namboru, dua hari lagi datang melamarku, dan Bapak menyuruhku pulang kampung.”
            Kulihat rahangnya mengeras.
            “Kau akan menerimanya?”
            “Kau ingin, aku menerimanya?” suaraku sinis. “Baik, aku akan menerimanya, jika itu maumu.”
            Matanya menyambar, menatap mataku. Aku membuang muka, karena kulihat ada luka dalam matanya.
            “Rebecca!!”  Bagus, maksudku Pak Bagus, setengah berlari menghampiri kami.
            “Ya, Pak.”
            “Berapa kali aku bilang, jangan panggil saya Bapak! Saya belum jadi bapak!”
            “Maaf, saya sering lupa.”
            “Lado tidak mau masuk ke dalam arena pertunjukan, Beca!”
            “Mungkin dia kelelahan, terlalu banyak tampil dalam pertunjukan. Kudengar Made memukul ekornya kemarin sore,” kataku jengkel.
            “Maafkan, saya yang menyuruhnya, karena....”
            “Kita terlalu memeras tenaga mereka. Jangan salah, lumba-lumba adalah mamalia paling cerdas, tapi  mereka juga sensitif.”
            “Pasti mood-nya sedang berantakan, karena kekasih hatinya juga sedang galau,” kata Bens, melirikku dengan pandangan menggoda.
            “Siapa kekasih hatinya?” Pak Bagus mengarahkan pandangannya ke arahku.
            “Rebecca-lah. Lado paling dekat dengan Rebecca. Dia pasti sedih, karena Rebecca juga sedang sedih.”
            “Sedih kenapa?”                                                                                                 
            “Sedih belum gajian, Pak,” jawabku cepat, sebelum sang penguasa itu  bertanya banyak.
            “Tolonglah, Beca, amankan dulu Lado. Bujuk dia supaya mau tampil dalam
pertunjukan ini. Kalau dia sudah oke, lumba-lumba yang lain juga oke.”
            “Baiklah!” aku berdiri kesal.
            Aku menuju tempat Lado, di sebuah lautan kecil buatan.  Tempat ini hanya diketahui orang dalam. Orang luar tak pernah melihat, bagaimana instruktur melatih mereka dengan sangat keras. Memukul ekornya jika mereka malas, tidak memberi makan sampai mereka lemas.  Selalu kukatakan, latihlah dengan penuh kasih sayang, tapi para instruktur di sini tidak pernah peduli. Masalah pribadi mereka, sering terbawa-bawa, tersalur kepada lumba-lumba dengan melatih penuh kemarahan.  
            Aku mengangkat tangan kananku ke udara.  Itu bahasa cintaku dengan Lado. Sedangkan mengangkat tangan kiri adalah bahasa cintaku untuk Jack.  Tidak ada respons dari Lado. Biasanya, jika kulakukan kode persahabatan kami, ia akan cepat merespons.
            Kulemparkan seekor ikan mullet abu-abu.
            Ia tidak bergerak.
            “Lado, ke sinilah, Sayang.”
            Satu menit kemudian, ia meloncat ke udara. Detik berikutnya, ia sudah mencium pipiku.
            “Lado, mengapa kau sedih?”                                                                           
            Lado menggeleng-gelengkan kepalanya.
            “Aku baru dari Pantai Lovina, menitip salammu buat para pacarmu di sana.”
            Wajah lucunya   makin lucu, dan matanya berbinar menatapku.
            “Berapa, sih, pacarmu, Lado?”
            Wajahnya mendadak murung.
            “Lima?” aku mengangkat kelima jariku.
            Lado menggeleng.
            “Berapa, dong?   Pacarmu ada tiga, ya?”  Aku mengacungkan tiga jariku.
            Ia menggeleng kesal, dan detik berikutnya ia meloncat satu kali ke dalam air.
            “Oh, cuma satu pacarmu?”
            Ia muncul dari dalam air,  mencium pipiku sekali saja. Itu artinya, pacarnya cuma satu.
            “Kalau pacar saya, kamu tahu berapa, Lado?”
            Lado membuat dua kali loncatan.
            “Kamu salah besar, Lado. Pacarku cuma satu. Cuma Bens!”
            Ia tetap menjawab dengan dua loncatan. Aku tertawa geli.
            “Kau  mau bikin aku tertawa, ya.  Pacarku, cuma satu, Lado sayang. Cuma Bens,  jangan salah, ya.  O, ya, kamu kangen  pada pacarmu?”
            Raut mukanya yang lucu  tiba-tiba menjadi sangat memilukan.
            “Sabarlah, suatu saat kau akan berkumpul kembali dengan kekasih hatimu.”
            Kulihat  wajah Lado kembali menjadi lucu.
            “Dia punya ikatan batin yang kuat denganmu,” suara Pak Bagus mengagetkanku. “Seperti anak dengan ibunya, jika ibunya sedih, secara alamiah anaknya juga akan sedih, dan sebaliknya.”
            “Terima kasih, Pak, pujiannya berlebihan. Aku juga galak, lho.”
            “Masa?”
             “Waktu kecil, aku sering bertengkar dengan anak laki-laki.”
            “Kau sangat keibuan, Beca. Pantas saja semua lumba-lumba di sini sangat sayang padamu.”
            Aku kaget. Sejak kapan dia pandai memujiku? Laki-laki angkuh, yang memerintahkan pendidikan sangat keras kepada lumba-lumba!
           
            Ini Minggu pagi yang cerah dan indah. Kursi-kursi di pertunjukan sirkus lumba-lumba sebentar lagi akan terisi penuh. Pak Bagus sedang memberikan pengarahan kepada anak buahnya di sebelah kanan panggung pertunjukkan. Aku mundur, tidak jadi masuk. Lebih baik cepat menghindarinya, takut perasaan lama yang sudah diterbangkan angin ribut itu, kembali datang mengacaukan perasaanku.
            Aku menghampiri Bens yang sudah menungguku di belakang panggung pertunjukan.
            “Kok, cemberut?” sambutnya hangat, sambil memeluk pinggangku.
            “Lagi stres!”
            “Stres kenapa, Sayang?”
            Segala sikapnya padaku adalah sikap pria dewasa yang romantis, tapi tak pernah sekali pun  dia membicarakan pernikahan.                                                                                         
            “Kau kenapa, sih?
            “Kau enggak mengerti perasaanku, Bens!”
             Tiba-tiba, ia menarikku ke pelukannya.
            “Aku selalu mengerti kau, Sayang.“ Suaranya bergetar. “Tolaklah lamaran itu, Rebecca!”
            Aku bergetar.
            “Demi Tuhan, aku sangat mencintaimu!”
            Mataku telah berkaca-kaca. Demi Tuhan, aku sangat mencintaimu. Kata-kata romantis, yang akan kukenang terus. Seribu semangat baru mengaliri darahku, membuat mood-ku yang kacau, jadi   bersinar cerah.
            “Kau sungguh-sungguh, Bens?”
            Ia mengangguk mantap.
            Aku melambung tinggi ke udara.
            “Pulanglah bersamaku, Bens! Bantu aku menolak lamaran Bapak.”
            “Ya, aku ikut pulang denganmu ke Samosir, besok! Tapi, kita berenang di Danau Toba, ya.”
            Sebuah loncatan di air membuat kami kaget. Lado membuat loncatan yang sangat indah. Ekornya, berputar-putar, menari-nari  di atas permukaan air. Aku tahu, Lado melakukannya tanpa pamrih, tanpa keterpaksaan.
            “Ajaklah dia ke pertunjukan. Mood-nya sudah bahagia, karena kekasih hatinya juga bahagia.”
            “Ok, Bos!”
            Bens menarik tanganku menuju arena. Pertunjukan siap dimulai.  Tina, si pembawa acara pertunjukan,  sudah siap di pinggir panggung dekat penonton.
            “Inilah instruktur lumba-lumba yang kompak. Mereka tidak saja kompak dalam pertunjukan, tapi juga kompak dalam alam nyata. Inilah Bens dan Rebecca!”
            Tepuk tangan penonton bergemuruh. Aku ingin sekali mengatakan, hentikan tepuk tangan itu, karena itu tak penting, hanya akan membuat lumba-lumba stres. (Bersambung)
 
Baca juga:
Tarian Cinta Lumba-Lumba [2]


Topic

#FiksiFemina

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?