Alis Radit langsung mengencang. Ia mulai tak suka dengan pembicaraan ini. Mendengar ada lelaki lain yang memanggil Btari dengan sebutan ‘Bidadari’. Btari yang dalam bahasa Sanskerta berarti ‘bidadari’, hanya ia yang boleh memanggil seperti itu, walau secara diam-diam.
Kalimat terakhir Renata benar-benar membuat Radit terpojok. Memukul perasaannya sebagai seorang lelaki demikian dalam. Namun, Radit masih berusaha tenang tak terpengaruh. Hanya matanya menatap Renata tajam. Memperlihatkan ketidaksetujuannya dengan tegas. Renata balas menatap dengan ekspresi yang bertahan sama.
“Lakukan sesuatu!!!” perintah Renata dengan nada tinggi. Kali ini benar-benar memaksa.
Terdorong oleh ucapan Renata dan emosi yang kian memuncak, Radit melangkahkan kaki, menuju seseorang yang menjadi sumber kemarahan, yang susah payah diredamnya selama seminggu ini. Lelaki yang masih saja duduk dengan tenang di dalam mobilnya, menanti senja turun perlahan, tak menyadari bahaya sedang mengancamnya dari balik pohon akasia yang sedang merangggas.
“Bukan dia tujuanmu.” Renata menggeleng kuat.
Tarikan napas Radit terdengar memburu dan kencang.
“Apa pun yang kamu lakukan pada Bara, tidak akan mengubah keadaan, jika Btari tetap datang malam nanti!”
Tubuh Radit menegang dan kencang.
“Cegah Btari untuk datang!!!”
Topic
#FiksiFemina