Sang desainer, Toton Januar, terinspirasi sosok Batara Kala dalam mitologi Jawa dan Bali, yang sering dikaitkan dengan kehancuran dan kematian, sekaligus jadi pengingat bahwa setiap akhir selalu membuka ruang bagi kemungkinan baru.
Toton menghadirkan refleksi tentang bagaimana budaya dapat terus mengikuti perjalanan waktu tanpa kehilangan esensi dan akar identitasnya.
Koleksi Kala pun tampil sebagai penutup rangkaian Mulia in Fashion 2026 di Ballroom Hotel Mulia Senayan, Jakarta, pada 10 Juli 2026.
Runway lebar dihiasi sosok ogoh-ogoh dengan enam tangan dan kaki yang memiliki banyak mata melihat ke segala arah. Sebuah interpretasi dari sosok mitologis Hindu Jawa-Bali, Batara Kala, karya perupa asal Bali, Gusman Surya.
Diterangi sinar temaram, 48 tampilan busana melenggang di runway sebagai ungkapan kegelisahan Toton terhadap dunia yang semakin sulit diprediksi di tengah berbagai krisis politik, sosial, ekonomi, dan lingkungan yang membentuk realitas kehidupan saat ini.
Busananya terlihat elegan namun mudah dipadupadankan. Hal ini sesuai dengan prinsip Toton Januar, yang menegaskannya kembali di sela-sela konferensi pers sebelum show, “Atasan harus bisa dipakai dengan denim. Dan sekarang, juga harus bisa dengan wastra.”
Terselip pula beberapa busana beraksen fringes atau rumbai-rumbai, mengingatkan kita pada Papua, dan jadi bentuk protes tanpa kegaduhan yang dilontarkan Toton.
Palet warna didominasi nuansa tenang dan membumi, mulai dari krem, putih gading, merah muda lembut, abu abu, hitam, emas, hingga berbagai warna tanah. Sebagai aksen, hadir warna biru yang terinspirasi bunga telang, melambangkan ketahanan, regenerasi, serta femininitas yang kuat.
Toton menggabungkan material ringan yang tetap memiliki karakter struktural, seperti katun, organza, lace, tulle, satin, dan denim. Berbagai material tersebut diperkaya melalui teknik manipulasi tekstil dan pengerjaan tangan, bagian penting dari identitas rumah mode ini.
Toton juga melanjutkan komitmennya terhadap praktik yang lebih bertanggung jawab melalui eksplorasi material daur ulang dan upcycled, serta material yang lebih ramah lingkungan.
Toton 2027 mengajak kita tetap berani beradaptasi tanpa kehilangan akar, tidak kehilangan empati, serta terus melihat Indonesia sebagai budaya yang hidup, relevan, dan membuat waktu tiap manusianya selalu bermakna. (f)
Zornia Harisantoso