Rancangan busananya sendiri didominasi palet monokromatis dan merah, terinspirasi peleburan berbagai budaya di Asia (seperti Jawa, Tiongkok, India, Peranakan). Siluet khas rumah mode ini yang tegas namun mengalir jadi benang merah koleksi ini; contohnya kemeja putih yang menerapkan bentuk kelopak bunga.
Permainan payet, teknik tambal (patchwork), laser cut, draperi, lipit, dan sulaman jelujur mewarnai koleksi busana wanita dan pria. Koleksi busana wanitanya menunjukkan keberagaman seorang wanita; kadang feminin, anggun, namun juga bisa maskulin dan tangguh.
Eksplorasi material dilakukan Wilsen Willim, menggunakan suiting fabric, tulle, sutra organza, katun, serta bahan sutra dan katun untuk batik tulisnya.
Debut demi-couture ini bertajuk Napas, karena bagi sang desainer, napas berarti adanya kehidupan, dan setiap helaan napas menemani individu untuk bertumbuh.
Dan debut lini demi-couture ini pun jadi bentuk bertumbuhnya Wilsen Willim. Sementara rilisan batik tulisnya adalah wujud nyata Wilsen Willim dalam meremajakan dan mengembangan wastra Nusantara; hal yang telah jadi visi dan legasinya bagi generasi penerus dalam menjaga tradisi.
Baca juga:
Elima Merenda Cerita untuk Gaya Perempuan Urban Aktif
Garis Waktu Kesibukan Generasi Muda di Koleksi Dear Me Beauty x Wilsen Willim
Wilsen Willim Tampilkan Tenun Dayak Iban untuk Cita Tenun Indonesia di Fashion Nation XIX
Zornia Harisantoso