Bagi Wilsen Willim, algoritma tak ubahnya esensi terdalam dari tenun, material yang dalam tiga tahun terakhir telah membuatnya jatuh hati untuk terus mengeksplorasi dan memajukan penenunnya.
Saat Wilsen Willim berbincang dengan kolaborator dan kawan lamanya, Ican Harem, tercetuslah ide untuk menelisik ‘algoritma’ tenun sebagai tema show perayaan 10 tahun ia berkarya.
Bagi Wilsen Willim, benang lungsi dan pakan yang tumpang tindih secara tertata membentuk motif repetitif nan rumit adalah algoritma tersendiri warisan nenek moyang kita. Algorithm: Universal Language pun jadi judul show yang digelar jupada 8 Juli 2026 di Hotel Mulia Senayan, Jakarta.
Ia kembali mengangkat benang denim daur ulang hasil olahan Ecotouch, serta menghadirkan tenun sutra Garut dari Jawa Barat yang pernah diolahnya pada tahun 2023.
Selain itu, ada tiga tenun dari area baru yang dieksplorasinya: Tenun Dayak Iban dari Kapuas Hulu Putussibau Kalimantan Barat, Songket Jembrana Bali, dan Songket Minang dari Halaban, Sumatra Barat.
Batik tulis Cirebon juga dihadirkan Wilsen Willim, dengan motif rancangan khusus dari transformasi algoritma angka pada tenun (dari jauh merupai motif wajik atau belah ketupat). Algoritma tersebut juga diolah jadi musik pengiring untuk fashion show ini.
Berkolaborasi dengan Ican Harem, kain tenun dari keempat daerah diterjemahkan menjadi bermacam suara instrumen, ketukan, dan tempo yang saling mengisi selayaknya tenun.
Musik unik itu mengiringi 60 tampilan busana pria dan wanita Wilsen Willim Couture, yang dikemas dalam potongan kemeja, jaket, celana, rok, korset, apron, bib, termasuk dikenakan sebagai kain jarik.
Evolusi kreativitas sang desainer terlihat di runway—gaya elegan ala priyayi dalam siluet kontemporer khas Wilsen Willim kemudian beralih ke tampilan bergaya punk dengan aksesori kulit berbentuk harness, sabuk, korset, hingga biker’s jacket, dan rok berpotongan tinggi.
Para model seakan berada di semesta paralel Wilsen Willim. Terlihat para perempuan dengan tata rambut mengingatkan kita pada Marie Antoinette serta Ratu Elizabeth I, dalam versi tampilan yang mengedepankan tenun, lengkap dengan janggan atau kebaya.
Jam terbang selama 10 tahun juga terlihat pada gaya Wilsen Willim mengolah pin wheel atau kicir angin, signature element atau ‘tiket’ paling sederhana untuk memasuki semesta paralelnya. Di koleksi Algorithm: Universal Language, pin wheel menjelma ke dalam motif, detail, hingga memeluk mesra kain songket.
Di semesta paralel ini, wastra diwakili tenun dan batik bukan sekadar tempelan, tapi bagian dari penampilan fashion modern yang seamless, elegan, dan kaya akan narasi. Wastra bukan cuma diwariskan untuk disimpan, tapi juga dipakai, diapresiasi, dan disebarluaskan.
“Ini bukan hanya tentang membuat sebuah koleksi perayaan, ini adalah bentuk perjuangan melestarikan wastra tradisional melalui teknologi modern dan membuatnya kembali relevan dan menarik bagi generasi muda,” kata Wilsen Willim.
Wilsen Willim juga menggandeng videografer muda Magejibril untuk mengabadikan momen eksplorasi tenun di Sumatra Barat, Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan Bali ke dalam serial dokumenter bertajuk Reinventing Tenun: Journey to Algorithm.
Karya dokumenter ini recananya akan tayang perdana pada 21 Agustus 2026 di XXI Plaza Indonesia, Jakarta. (f)
Baca juga:
Penuh Gaya di Kelab Jazz Glamor Sebastian Gunawan Signature
Palet Warna Khas Hari Raya dan Siluet Bervolume di Koleksi Terbaru Wilsen Willim
Koleksi Lunar New Year Tak Harus Jadi Busana Musiman
Zornia Harisantoso