Foto: Stocksnap.io
Tujuannya baik, selain menggantikan orang tua membacakan cerita untuk anak, juga mengenalkan bentuk teknologi kepada anak. Perangkat teknologi ini juga bisa berfungsi sebagai perpustakaan digital yang menyimpan ribuan cerita anak. Hanya, kecanggihannya tidak mampu menggantikan jalinan emosional antara anak dan orang tua.
“Ada saatnya dimana anak harus melupakan semua permainannya untuk bersama ibunya, dan ibu harus menyingkirkan semua pekerjaannya demi bersama sang anak. Jadi point penting dari kegiatan ini adalah adanya komunikasi dan kebersamaan antara orang tua dan anak. Bagaimana ada kedekatan, jika tidak ada kebersamaan yang melibatkan kontak fisik, seperti pelukan, atau ciuman?” ungkap DR. Murti Bunanta, SS, MA, Doktor pertama dari Universitas Indonesia yang meneliti sastra anak-anak sebagai desertasi.
Lebih dari sekadar menceritakan putri cantik dan pangeran tampan yang hidup bahagia selama-lamanya dalam istana, melalui dongeng orang tua dapat memperkenalkan anak pada tatanan atau nilai-nilai moral dan lika-liku kehidupan. Dan yang tak kalah penting, dongeng dapat melatih anak untuk berpikir secara rasional dan praktis, baik dalam mengambil sebuah keputusan atau menyelesaikan masalah.
“Kekreativan dan daya imajinasi yang tinggi akan membantu mereka untuk melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda. Jika anak-anak yang lain cenderung menemui jalan buntu, maka anak-anak yang sering mendengar dongeng tidak akan pernah kehabisan akal,” terang Murti, lagi.