Bertahan selama 11 tahun di panggung sinema, tak membuat pamor aktris berwajah manis ini meredup. Karier perfilman Acha Septriasa (26) yang namanya melejit lewat film drama remaja ‘Heart’ (2006) justru semakin meroket. Banjir job peran dan penghargaan menjadi bukti kualitas aktingnya yang semakin ‘mengigit’.
Tahun 2016 ini, sedikitnya 5 film dari berbagai genre akan digarap Acha di bawah arahan sutradara-sutradara ternama. Mulai dari film berjenis drama, action, thriller, hingga biopic ditawarkan padanya. “Saya memang penasaran ingin mencoba banyak peran. Rasanya seru bisa belajar banyak hal dan menyelami beragam karakter,” ujar Acha saat menunggu untuk pemotretan cover di kantor Femina awal Februari lalu.
Meski berbagai jenis genre film disodorkan padanya, aktris yang belajar peran secara otodidak ini mengaku tidak kewalahan. “Pada dasarnya, semua jenis film tetap banyak unsur dramanya. Yang penting untuk bisa berakting dengan baik itu harus jujur dan punya daya imajinasi yang kuat,” tutur peraih Best Actress Foreign Movie (Love Story) dalam 2nd Corinthian International Film Festival 2011 di Yunani ini.
Salah satu film yang dianggap paling menantangnya adalah ketika ia harus memerankan karakter yang terbalik dengan image dirinya selama ini sebagai wanita lembut dan feminim. Acha ditantang menjadi seorang intel dalam film berjudul ‘Bayang’ yang disutradarai oleh sineas muda Rico M. Bradley. Film ini merupakan karya kolaborasi dengan Malaysia dan Singapura.
Demi tuntutan peran, Acha merelakan rambut panjangnya dipangkas hingga sebahu. Acha juga mempelajari cara menembak ala snipper untuk bisa tampil sebagai intel wanita dalam film action yang banyak menampilkan adegan tembak-menembak dan baku hantam ini.
“Seru, sih. Kalau bukan gara-gara main film, mana mungkin saya punya kesempatan belajar nembak. Itu sebabnya saya cinta mati sama dunia ini,” aku wanita yang mengaku bersifat ulet dan cekatan ini. Film Bayang yang ditulis skripnya oleh penulis skenario Malaysia, rencananya akan melibatkan beberapa pemain Malaysia dan Singapura, serta ditayangkan juga di dua negeri tetangga tersebut.
Nama Acha yang sempat mengenyam kuliah dan meraih gelar sarjananya di bidang Mass Communication, Multimedia, and Broadcasting dari Limkokwing University of Creative Technology Malaysia, memang sudah sangat dikenal di negeri jiran. Tak heran jika ia kemudian yang digandeng untuk mensukseskan film yang masuk jadwal produksi Februari-Maret ini.
Diakuinya, sepanjang lebih dari satu dekade perjalanan kariernya, film tak sebatas sebagai pekerjaan bagi Acha. “Tapi, film adalah sekolah hidup bagi saya. Saya merasakan tumbuh dewasa bersama film, bersama karakter-karakter yang saya pernah mainkan,” tukas anak ketiga dari 6 bersaudara berdarah campuran Minang-Jawa ini.
Salah satu contoh, dalam film Test Pack (2012). Testpack bercerita tentang pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak meski sudah 8 tahun menikah. Acha mengaku jadi bisa mendalami perasaan panik, bingung, dan putus asa seorang remaja yang mendapati dirinya hamil di luar nikah. Untuk bisa mendalaminya, ia mewawancarai mantan manajernya yang kebetulan mengalami hal serupa.
Akting gemilangnya dalam peran ini menghantarkan Acha menjadi Best Actress dalam Festival Film Indonesia 2012. “Semua peran yang saya mainkan, banyak saya pelajari dari orang-orang di sekeliling saya dan ini memperkaya diri saya,” ungkapnya puas.
Film seperti sudah begitu merasuki dirinya sehingga ketika dulu harus meninggalkan tanah air untuk kuliah di Malaysia, Acha rela bolak-balik Jakarta-Kuala Lumpur setiap dua bulan sekali sepanjang tahun 2008-2011. “Saya ingat bagaimana capeknya saat itu harus membagi waktu dan pikiran antara studi dan karier film saya. Ini salah satu momen tersulit dalam hidup saya. Tapi, bisa bekerja sama dengan sutradara hebat, pengalaman menyelami karakter orang lain, itu priceless. Tak semua orang punya kesempatan ini dan saya bersyukur,” ujarnya.
Selama 11 tahun berkarier di blantika perfilman Indonesia, total sudah 28 film yang diperankan oleh Acha, yang mengaku mendapat bakat seni dari sang ibu Rita Emza, yang juga seorang pemain teater.(f)