Dengan karier di dunia seni peran yang belum terlalu lama, Tara Basro (25) boleh dibilang sudah memiliki pengalaman yang diimpikan banyak aktor dan aktris. Dari bermain film untuk produser dan sutradara terpandang, hingga berjalan di karpet merah festival film bergengsi dunia. Namun, bintang Halfworlds dan Aktris Utama Terbaik Festival Film Indonesia 2015 untuk film A Copy of My Mind ini masih mendambakan banyak hal.
Akhir 2015 lalu, agenda Tara begitu exciting. Ia bersama aktor Chicco Jerikho dan sutradara Joko Anwar harus menghadiri premiere film A Copy of My Mind di tiga festival film internasional paling bergengsi, yaitu di Venezia, Toronto, dan Busan. Layaknya selebritas Hollywood, ia menyusuri karpet merah yang silau oleh blitz kamera, dan melakukan wawancara dengan berbagai media massa dari seluruh dunia.
“Kami merasa bukan siapa-siapa di sana. Makanya, ketika para fotografer di Italia memanggil-manggil nama saya, saya heran sekaligus senang! Bagaimana mereka bisa mengenali saya?” kenangnya. Ia mengaku, undangan hadir di festival-festival film ini adalah kejutan manis di akhir tahun. “Soalnya waktu syuting rasanya tidak ada beban karena harus membuat film yang gimana banget,” aku Tara, yang bangga karena filmnya mendapatkan standing ovation di tiga festival tersebut.
Memang, pengalaman pertama Tara menghadiri festival film internasional di luar negeri tidak membuatnya sombong, tapi justru membuatnya lebih sadar diri sebagai seorang aktris. Sebab, status Tara sebagai selebritas di Indonesia tidak berlaku di sana. “Saya berada di lingkungan orang-orang yang bekerja di depan dan belakang layar karena passion untuk seni film dan akting, bukan untuk mengejar ketenaran,” tuturnya.
Dalam film yang rilis 11 Februari 2016 ini, Tara berperan sebagai Sari, seorang wanita muda yang bekerja di salon facial di Jakarta. Ia bertemu dengan penjual DVD bajakan bernama Alek, yang diperankan Chicco, dan keduanya secara tidak sengaja terlibat dalam intrik korupsi politik. “Inti dari film ini sebetulnya kisah cinta antara Sari dan Alek, tapi Bang Joko ingin membuatnya seperti time capsule yang menggambarkan situasi Indonesia pada masa kampanye pemilihan presiden yang lalu,” jelas Tara.
Menurut Tara, film ini bukan sembarang romance. Bukan hanya karena muatan politik dan sosialnya, tapi juga karena pasangan Alek dan Sari yang digambarkan seperti orang biasa saja. Tara merasa, pasangan-pasangan dalam film-film romantis sering kali digambarkan dalam setting dan karakter yang gaya, glamor, mewah, nyaris sempurna. Sementara, Alek dan Sari berasal dari kalangan menengah ke bawah, yang lebih banyak beredar di jalanan Jakarta yang kumuh dan panas daripada kafe-kafe gaul.
Tara merasa memiliki koneksi yang cukup besar dengan karakter yang dimainkannya. “Saya dulu seperti Sari dan kekasihnya itu. Mereka adalah dua anak muda yang tadinya tidak peduli politik. Tapi akhirnya mereka menyadari bahwa ke mana pun mereka pergi dan apa pun yang mereka lakukan, politik memberi dampak besar bagi kehidupan mereka,” jelas Tara, yang merampungkan syuting film tersebut dalam waktu 9 hari saja.(f)