Foto: dok. Shili & Adi
Di ajang F1 Grand Prix tahun lalu, Shili & Adi tampil bersama pengisi acara kelas dunia seperti Rihanna, Pharrel Williams, dan Katy Perry. Duo vokal lintas budaya ini bahkan menjadi satu-satunya musikus lokal yang tampil berturut-turut sejak 2012. Adi sendiri menjadi musikus pertama asal Indonesia yang bisa tampil di perhelatan balap mobil bergengsi itu. “Di brosur acara, foto kami terpampang bareng Rihanna, The Killers, Katy Perry, dan Pharrel Williams. Senang rasanya tidak dipandang sebelah mata sebatas local talent,” ujar proa keliahiran Surabaya, 31 Agustus 1985 itu, berbinar. Ia dan ShiLi mengaku sangat bangga bisa terlibat di event tersebut sebanyak 4 kali.
Adi dan ShiLi adalah kawan semasa SMA di Victoria Junior College, Singapura. Keduanya sama-sama senang bermusik dan tergabung dalam kelompok Paduan Suara Victoria Junior College. Dalam kelompok paduan suara yang pernah meraih medali emas di World Choir Games 2004, di Bremen, Jerman ini, ShiLi yang berdarah Singapura bertindak sebagai conductor, sedangkan Adi yang berdarah Indonesia menjadi section leader untuk tenor. “Karakter bermusik kami sebenarnya kontras. Saya lebih ngepop, sedangkan ShiLi menyukai musik rock. Namun, pertemanan yang terjalin sejak SMA membuat chemistry kami terjalin kuat,” ujar Adi yang mengaku tak menemukan kesulitan meleburkan 2 karakter berbeda itu.
Sebelum bersinar di panggung musik bergengsi, ShiLi dan Adi merintis karier bermusik dari kafe RedDot Brewhouse Dempsey, Singapura. Menjadi home band di kafe tersebut, Adi pun tergerak untuk mengkomersilkan grupnya itu menggunakan nama mereka sendiri. Tampil dalam format akustik, keduanya sepakat membentuk duo, membawakan aneka lagu dalam 4 bahasa yang digunakan di Singapura: Inggris, Melayu, Mandarin, dan Tamil.
Sebagai orang Indonesia, Adi pun tak lupa menyelipkan lagu-lagu tradisional Indonesia semisal Bengawan Solo dan Rasa Sayange. Lagu-lagu itulah yang memukai penonton di Sunset Stage, F1 Singapore Grandprix tahun lalu. ”Masyarakat Singapura, terutama yang bedarah Melayu, sangat familiar dengan lagu tersebut. Tiap kali kami tampil membawakannya, sambutan mereka selalu meriah,” ujar Adi yang di panggung F1 2015 lalu tampil trendi mengenakan kemeja batik dan udeng.
Mengingat Singapura adalah negara melting pot tempat menyatunya beberapa ras seperti Melayu, Cina, dan Hindi, ShiLi & Adi juga piawai membawakan lagu-lagu yang merepresentasikan 3 budaya tersebut. Misalnya, Kuch Kuch Hota Hai (Hindi) dan Tian Mi Mi (Cina). “Hal itulah yang menjadi keunggulan kami. ShiLi & Adi tidak hanya bisa membawakan lagu internasional, tapi juga bisa menyanyikan lagu-lagu yang mencerminkan budaya Asia,” cetusnya.
Bisa dibilang, duo ShiLi & Adi adalah grup yang saat ini paling digemari di Singapura. Beragam acara bergengsi di sana pasti melibatkan penampilan mereka. Meski begitu, Adi masih menyimpan keinginan bisa merintis karier di negeri sendiri. Adi ingin, penampilan perdana di panggung Java Jazz 2016 dan kolaborasi bersama musikus senior tanah air, Candra Darusman, bisa menjadi pintu pembuka karier bermusik mereka di tanah air. “Mau terkenal di negara mana pun, belum afdol rasanya bila karya kami asing di negeri sendiri. Semoga dalam waktu dekat ada lebih banyak kesempatan bisa tampil di panggung musik Indonesia,” pungkas Adi, penuh harap. (f)