Before, Now & Then (NANA) mengangkat kisah nyata kehidupan Raden Nana Sunani, ibunda dari Jais Darga. Berlatar belakang daerah Jawa Barat di era 1960-an, film ini diperlihatkan kekuatan seorang perempuan Sunda dalam menjalani kehidupannya yang keras.
Nana, yang diperankan oleh Happy Salma, harus melarikan diri dari gerombolan penjahat yang ingin menjadikannya istri dan membuatnya kehilangan ayah, suami, serta anak pertamanya. Ia lalu menjalani kehidupan barunya sebagai istri tuan tanah kaya hingga bersahabat dengan salah satu perempuan simpanan suaminya.
Dalam siaran pers (19/01/22), Kamila Andini mengatakan kalau ini adalah pertama kalinya dia menggarap film periodik yang terinspirasi dari kisah nyata. “Film periodik Indonesia selalu terkait dengan sesuatu yang besar atau seorang tokoh penting. Sedangkan saya ingin menceritakan seorang tokoh perempuan pada umumnya, seperti nenek, ibu, atau kakak kita, yang disayangi dengan semua kekurangan dan kelebihannya. Kita bisa berefleksi pada masa ketika tokoh tersebut hidup dan menghubungkannya dengan masa kini. Saya ingin membuat jembatan antara masa lalu dengan masa sekarang,” jelas Kamila Andini.
Bagi Kamila Andini kisah Nana dalam film ini mencerminkan kekuatan perempuan dalam menghadapi tantangan dalam hidupnya. "Perempuan adalah korban zaman yang paling nyata. Tapi, di setiap zaman, selalu ada sosok perempuan yang tidak pernah sekalipun menjadikan dirinya korban, meskipun tetap tidak lepas dari pengorbanan. Nana adalah kisah perempuan yang menjadi korban sebuah era; perang, politik, pemberontakan, dan kehidupan sosial patriarki, yang ingin mencari arti kebebasannya sendiri," lanjutnya.
Bertarung di Festival Internasional
Prestasi tersebut menempatkan Kamila Andini sebagai sutradara perempuan pertama Asia Tenggara yang berkompetisi di Berlinale dan bertarung bersama sineas dunia seperti sutradara Carla Simon, Claire Denis, Rithy Panh, Denis Cote, Paolo Taviani, Ulrich Siedl, Andreas Dresen, Hong Sang Soo, Isaki Lacuesta, dan François Ozon.
Lewat siaran pers yang dikeluarkan oleh Fourcolours Films, Carlo Chatrian, Artistic Director Berlinale menyatakan bahwa film-film yang terpilih dalam kompetisi Berlinale tahun ini diseleksi dengan ketat. Carlo pun memberikan pujian pada film Before, Now & Then (NANA) sebagai salah satu yang terpilih, "Film ini adalah proyek yang sangat ambisius tanpa kehilangan perspektif perempuan yang berhubungan dengan masa lalu Indonesia dengan pendekatan pribadi dan orisinal. Ceritanya dijalin dengan penuh perasaan lewat cara bertutur melodrama diiringi dengan penggunaan musik". (f)
Baca juga:
Bacaan Weekend Ini: 5 Buku Berkisah Tentang Ibu
Happy Salma & Tjok Gus : Bahagia dalam Perbedaan
Selamat Hari Ibu, Dukung Perempuan Makin Berdaya
Topic
#Film, #KamilaAndini, #JaisDarga, #KekuatanPerempuan, #FestivalFilmInternasional, #Filmtentangperempuan