Celebrity
Belajar dari Maraton, Daffa Wardhana Lebih Tenang Hadapi Tantangan

9 Sep 2026

Pengalaman ikut kompetisi lari, terutama lari maraton, memengaruhi Daffa Wardhana dalam menghadapi tantangan hidup. Foto: IG @daffawardhana

 
Ketika kita hidup di tengah informasi yang datang tanpa henti, kita perlu belajar untuk melambat dan tak harus langsung merespons semuanya.

Memperlambat hidup bukan berarti kita tidak gercep, melainkan untuk memastikan bahwa setiap langkah yang diambil tetap memiliki arah.

Bagi Daffa Wardhana, mengatur ritme hidup ia pelajari melalui dunia maraton, karena berlari jarak jauh bukan sekadar persoalan seberapa cepat seseorang dapat mencapai garis finis. Ada proses panjang yang mengajarkan tentang ketahanan, konsistensi, kemampuan membaca kondisi tubuh, hingga bagaimana tetap tenang ketika tekanan mulai datang. 

Pengalaman tersebut ia bagikan dalam diskusi Finding Your Calm in the Age of Chaos bersama AQUA, yang menjadi bagian dari IdeaFest 2026 di Jakarta International Convention Center pada 6 September silam.

“Di tengah situasi seperti ini, selalu ada orang-orang yang memilih untuk pause, mengatur diri, lalu merespon dengan lebih sadar. Mereka inilah yang kami sebut sebagai Kaum Adem,” ujar Riza Rahman, Head of Brand Aqua, tentang Daffa dan sikapnya, saat diskusi. 

Sebagai pelari maraton, Daffa memahami bahwa tantangan terbesar justru sering muncul ketika tubuh mulai lelah dan garis akhir semakin dekat. Pada momen-momen seperti itu, memaksakan diri untuk terus berlari tanpa memperhatikan kondisi bukan selalu menjadi pilihan terbaik.

“Ada kalanya kita perlu melambat sejenak, mengatur napas, memastikan tubuh tetap terhidrasi, recharge, lalu kembali fokus pada langkah berikutnya,” ujar Daffa. 
Advertisement
 
Daffa Wardhana dan Riza Rahman di IdeaFest 2026. Foto: Dok. IdeaFest
 
Menurut Daffa, mengambil jeda bukan berarti menyerah. Sebaliknya, jeda dapat menjadi bagian dari strategi untuk terus melangkah. “Prinsip yang sama menurut saya juga relevan dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah banyaknya distraksi dan tekanan, kemampuan untuk tetap tenang justru membuat kita bisa melangkah lebih jauh,” ungkapnya.

Selain lari maraton memengaruhi ritme hidup Daffa sehingga lebih tenang dalam bersikap dan mengambil keputusan, Daffa juga mendapat dampak positif lainnya dari olahraga. 

Ia turut berkolaborasi dengan komunitas yang mengampanyekan donor darah bagi penyandang talasemia. Melalui kegiatan lari bersama komunitas, ia berupaya ikut meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya dukungan dan edukasi tentang talasemia.

Olahraga pun tak lagi sekadar aktivitas personal, tetapi juga medium untuk membangun koneksi dan memberikan manfaat bagi orang lain. 

Hubungan Daffa Wardhana dan lari maraton menunjukkan bahwa tak semua hal mementingkan garis finis. Mengetahui batas diri, mengatur ritme, termasuk mengambil jeda, bisa membuat kita terus melangkah sampai jauh, dan memberi dampak positif baik kepada diri sendiri maupun orang lain. (f)

Baca juga: 
Alternatif Ramah Lingkungan Bagi Pencinta Olahraga
Tujuan Lari Sekarang, Bukan Hanya Untuk Diri Sendiri
5 Aktivitas Sehari-hari Ini Diam-diam Sudah Jadi Olahraga

 

Bennita Luisa


Topic

#feminaindonesia, #feminapartnership, #celebrity

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?