Beberapa minggu setelah kejadian tersebut, mengetik nama Ayah di kolom pencari, dan memencet tombol refresh beberapa media yang sengaja saya bookmark, menjadi lekat dengan keseharian saya. Setiap gambar perlahan-lahan mulai muncul, saya hanya bisa berdoa sembari memicingkan mata supaya foto-foto proses TKP Ayah bukanlah hal yang akan pertama saya lihat. Saya juga maju untuk menegur beberapa media yang masih bandel, demi menjaga perasaan keluarga terkhusus Ibu.
Kami pun perlahan-lahan pulih. Namun hingga saat ini, potongan proses gambar identifikasi TKP Ayah saya terus membayangi. Sesak dan berat saat gambaran itu tiba-tiba muncul. Walaupun mungkin saya sering mengalihkan dengan melihat hal-hal lain mengenai Ayah, tidak dipungkiri perasaan tertusuk begitu membekas di hati saya sebagai keluarga beliau.
Karena itu teman-teman yang baik, mengetahui lebih banyak atau lebih dulu, bukan berarti menjadikan kita paling terdepan. Bijaklah terlebih saat kita ingin memberitakan, atau meneruskan keadaan yang menyangkut bencana. Terlebih dokumentasi yang sensitif untuk keluarga korban. Tidak ada yang hebat dari membagikan kondisi terakhir seseorang yang terkena bencana, dalam keadaan naas.
Berempatilah terhadap korban dan keluarganya, dengan tidak menyebar luaskan informasi yang tidak kita ketahui benar adanya. Ini merupakan bukti nyata kepeduliaan kita, sekaligus juga menunjukkan bahwa kita cerdas menggunakan media sosial. (f)