Saya seorang dokter gigi dan suami berprofesi sebagai dokter umum. Kami menempati rumah yang merangkap sebagai tempat praktik. Tiap sore, dibantu oleh satu asisten, saya dan suami membuka praktik. Di daerah saya tinggal masih sedikit dokter yang mau tinggal dan mengabdi untuk masyarakat. Mungkin karena letaknya jauh dari pusat kota. Masyarakat di sini baik dan ramah. Mereka sopan dan tertib menunggu antrean.
Sampai suatu sore, ada kucing kampung ‘berkunjung’ ke tempat praktik kami. Mulanya duduk selonjoran di rak sepatu anak saya. Kucing itu ternyata datang hampir tiap hari setelah kunjungan pertama itu. Bahkan, sampai larut malam buntalan bulu itu selonjoran di rak sepatu..
Suami ternyata tertarik pada kucing putih berbelang kuning ini. Ia menghampiri dan mengelus-elusnya. Sejak mengelus-elus pertama kali, sepertinya suami mulai jatuh hati kepadanya. Saya pun langsung ngomel-ngomel. Ha… ha... ha… cemburu!
Tapi apa daya, anak saya, Sulthan, ikutan jatuh hati pada kucing kampung itu. Mereka berdua menamainya Desy. Saya sebal bukan main. Karena, selain alergi bulu, saya juga mempunyai pengalaman buruk dengan kucing. Waktu kecil ayah dan kakak saya sangat menyukai kucing. Kami punya 10 kucing kampung di rumah saat itu.
Tiap saya pulang sekolah, kucing-kucing itu datang menghampiri saya, menempel-nempelkan kepalanya di kaki saya. Yang saya rasakan geli bukan main. Belum lagi bulunya menempel di mana-mana, termasuk di karpet ruang keluarga tempat menonton TV, dan membuat saya selalu bersin-bersin.
Pada saat jam makan, mereka kompak ikut ke dapur. Sibuk meminta makan juga, kadang-kadang tidak sabar sampai naik ke atas meja. Ayah hanya tersenyum melihat kucing-kucing nakal itu.
Belum lagi saat musim kawin tiba. Kucing-kucing banyak yang hamil, dan beberapa kejadian mereka tidak mau melahirkan di kardus yang sudah disediakan. Pernah suatu kali malah melahirkan di lemari pakaian saya karena saya lupa menutup pintunya. Alhasil, baju saya dipenuhi darah dan bulu kucing. Huh!
Beberapa malam ini Desy sering keluar malam dan akibatnya hamil! Oh, no! Memang belakangan saya lihat Desy sering nongkrong bersama kucing kampung berbulu hitam yang rutin datang tiap sore. Eh, pas si Desy hamil, si kucing berbulu hitam itu malah menghilang entah ke mana. Jadilah, Desy hamil tanpa ada yang bertanggung jawab.
Saat itu saya langsung ngomel-ngomel pada suami, menyuruh menawarkan kepada orang-orang agar si Desy diadopsi saja karena saya merasa tidak sanggup mengurus bayi-bayi kucing yang akan lahir tak lama lagi. Tapi, suami saya keukeuh menahan Desy di rumah.
“Biarin aja, Mah, kasian. Lagi hamil gede gini,” bela suami, sungguh-sungguh. Saya kesal sekali, namun saya juga tidak tahan ingin ketawa mendengar pembelaan suami. Oh, Desy….(f)
Ajeng K. Gunawan
Cimahi, Jawa Barat
Topic
#Gadogado