Demi mengenang pengorbanan Raden Kusuma, masyarakat Tengger meneruskan tradisi memberi persembahan kurban berupa hasil panen sayur buah dan ternak yang diserahkan ke Kawah Gunung Bromo yang aktif.
“Tradisi ini dikenal sebagai Upacara Yadnya Kasada yang jatuh setiap tanggal 14 bulan Kasadha. Tujuannya untuk memohon keselamatan dan berkah,” terang Sudiyono. Bisa diprediksi, tradisi tahunan ini turut menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Bromo.
Berbeda dengan peradaban Jawa lainnya yang telah didominasi oleh ajaran Islam, Suku Tengger masih mempertahankan kepercayaan para leluhurnya dari Majapahit, yaitu aliran kepercayaan Siwa-Buddha. Dalam perkembangannya kemudian berkembang menjadi agama Hindu seperti yang dipegang oleh Suku Tengger kini.
“Agama Hindu mendominasi sekitar 65% di Kawasan sektar Bromo atau Kecamatan Tosari. Sisanya atau 35% penduduk memeluk agama Islam dan 5% agama Kristen,” papar Sudiyono.
Mereka juga masih menggunakan dialek Bahasa Kawi dan terdapat beberapa kosakata Jawa Kuno yang sudah tidak lagi digunakan oleh penutur Bahasa Jawa lainnya. “Beberapa kesenian Jawa seperti Sendratari Redjo Tosari, atau Tari Sodoran yang mengangkat riwayat terjadinya manusia, juga masih lestari di Kawasan Bromo,” ungkapnya.
“Salah satunya atraksi ketipung yang merupakan gamelan khas Tengger. Biasanya alat musik ini digunakan untuk acara-acara sakral, misalnya mengiringi abu jenazah yang disebut Upacara Entes-Entes,” kata Suhardi, salah satu pemain ketipung, menjelaskan.
“Acara tahunan pemerintah Kabupaten Pasuruan yang telah digelar keenam kalinya ini sekaligus menjadi ikon untuk menggeliatkan prekonomian masyarakat setempat,” cetus Abdul Hamid, PJ Bupati Pasuruan.
“Selama berlari, para peserta akan melewati pemandangan alam yang indah, Candi, serta desa-desa disekitar Bromo. Acara Bromo Marathon ini memberikan kesempatan bagi para peserta untuk mengenal lebih dekat kultur dan budaya masyarakat Tengger serta keindahan Bromo itu sendiri,” kata Abdul Hamid.
Bromo Marathon tahun ini menawarkan 3 kategori perlombaan yaitu: 10K, 21K atau 42K. Sedikitnya ada 1320 peserta dan di antaranya datang dari 31 negara. Berbeda dengan tahun sebelumnya, lomba kali ini didampingi beragam acara hiburan yang disiapkan oleh Plataran Bromo. Ada penampilan Andra and The BackBone, kontes komunitas jeep, kompetisi band, festival seni dan budaya, dan festival kuliner untuk menyemarakan perlombaan. (f)
Baca Juga:
Kaleidoskop 2017: Belitung dan Gunung Bromo Menjadi Destinasi Wisata yang Paling Populer di 2017
Pariwisata Indonesia Bergerilya di Dunia Maya
tkan 20 Ribu Pelari, Jakarta Marathon Kembali Digelar pada 28 Oktober 2018
Topic
#BromoMarathon2018, #lari