Fiction
Tarian Merpati [3]

15 Jun 2012


<<<<  Cerita Sebelumnya

Pria itu begitu misterius. Sekejap ia menghampiriku, sekejap kemudian berpaling dariku.

From : Restati Widodo
To : reynanda@mailworld.com
Subject: Re: Bagaimana kabarmu, Rey?

Rey sayang, maukah kamu berjanji, apa pun yang berhasil kamu ingat, maukah kau membaginya pada Mama? Kamu tahu, betapa inginnya Mama berada di sampingmu saat ini. Tetapi, Mama tahu, situasi saat inilah yang terbaik bagi kita saat ini. Tante Win adalah pengganti Mama saat ini. Maukah kamu berjanji bahwa kamu akan selalu terbuka, dan terbuka? Mama yakin, kamu akan merasa lebih baik kalau kamu membagi perasaanmu pada orang lain. Doakan saja, Mama dan Papa akan dapat menengokmu sebentar lagi.

Peluk dan cium,
Mama

Dan sejak saat itu, Mama tidak pernah menyebut-nyebut nama Adrian Bagaspati lagi.

From: reynanda
To: Adrian Bagaspati
Subject: Re: Selalu untukmu, Rey...

Adrian (Bagaimana aku pernah memanggilmu? Adri, atau Rian?), seperti kau tak hanya berasal dari masa lalu. Jejak-jejakmu tersebar dalam setiap jalan yang kulalui. Tinggalkan sedikit aroma agar aku dapat menghirup bau, dan rasa. Aku tahu, kenangan itu tak asing, cinta itu tak jauh. Mungkin aku sakit, tapi aku tak buta. Ada pendar-pendar yang samar, sebilik ruang jauh di sudut sini yang seketika mengenalimu.
Seperti itukah kau mengenaliku?

Rey.

Hmmm. Cukup romantis. Ah, bukan. Norak. Murahan. Memangnya siapa dia? Siapa aku? Beraninya aku.

Send message into outbox. Delete. Klik. Deleted Message. Delete. Klik. Are you sure you want to permanently delete this message? Yes.

Aku terbangun pada suatu hari ketika gelap mengepung jendela. Tidak jelas, apakah ini malam, pagi buta, atau siang yang gerhana. Dingin merayap dari lubang angin, kisi-kisi jendela, dan setiap celah yang terbuka. Dingin menjelma sebentuk lukisan, bayangan, mirip gergasi (raksasa pemakan orang). Satu, dua, tiga gergasi, meronta dan membelah. Mencakar dan mencengkeram. Betapa asingnya ketakutan ini. Begitu mencekam. Gergasi-gergasi menerkam, mencakar, dan menarik tubuhku. Ketakutan dalam tubuhku disapa amarah. Ketakutan yang menjelma diam. Ketakutan yang menjelajah setiap ruang. Ketakutan yang memadamkan benih perlawanan.

Aku terbangun pada suatu hari ketika seberkas cahaya tempias, menggerayangi jendela. Setiap sendi, darah, dan tulang terkapar. Satu, dua, tiga gergasi rebah, menggumuli amarah.

Aku terbangun pada suatu hari dengan bertanya-tanya, apa yang telah kulakukan?

Piano Concerto no. 23. Adagio. Kelembutan denting berganti entakan-entakan yang menggugah. Jemariku menari, seperti membelai awan. Aku melihat cahaya. Lembut tak menyilaukan. Warnanya bersinar dalam padanan lembayung dan biru. Dan sepasang sayap, membentang, mengajak, dan mengayomi. Meskipun tanpa wajah, aku mampu melihat senyum. Menggugah dan meresap. Menawarkan cinta. Sesuatu mengajakku menari. Mungkin sayap itu. Atau sesuatu yang lain, entahlah. Digenggamnya tubuhku, dan diayunkannya. Irama mengalun. Cepat, lambat. Meninggi, menderap. Mengentak, membelai. Membuai pori-pori, menegangkan bulu roma. Aku menggelinjang, hingga turut mendaki. Seseorang menyambutku di puncak. Diraihnya aku. Lalu suara tepuk tangan.

“How wonderful!”

Aku membuka mata, tercenung. Ada sesuatu yang hilang.

“Kau memang hebat, Rey!” Greg meraih tanganku. Senyumnya seketika menghilang ketika aku menepiskannya.

“I’m sorry. Saya begitu bahagia, sampai tidak bisa menahan diri. Dalam beberapa tahun ini kami jarang menerima siswa seperti kau. Betul-betul luar biasa. Dengan kemampuan seperti itu, kami bisa merekomendasikan kamu untuk belajar lebih singkat dibandingkan yang lain. Teruslah berusaha. Good luck!”

Kebingunganku terbawa sosok Greg yang menghilang di balik pintu. Aku membeku. Bukankah aku hanya menari? Tarianku memainkan irama, bukan sebaliknya.

“Come on, Rey!” seru Valerie dari sudut ruangan. “Aku tak mau lagi membiarkan kau lama mematung seperti itu!”

Di luar jendela, udara hangat oleh daun-daun yang ranum. Sudah lama aku tidak mengisi paru-paruku dengan aroma daun.

“Please, Val, jangan terlalu berlebihan. Membuntuti aku seperti itu membuat dirimu sendiri tak nyaman.”

“Membuntuti kamu? Tahu nggak Rey, merasa dibuntuti juga membuat dirimu tak nyaman!”

Bukan membuntuti tentu saja, hanya menemani. Itu adalah bahasa lain dari menjaga, mengawasi, dan mengebiri. Bukankah aku domba? Membiarkanku sendiri akan memikat serigala lapar. Bukankah aku boneka? Membiarkanku teronggok dapat membuatku teraniaya.
Advertisement

Mungkin aku memang tak layak menghirup harum musim semi, bercanda dengan matahari. Namun, batu api dalam diriku meletup, bergolak, dan menggelegak. Dia akan meluap kini, dan apa yang akan kulakukan? Lihat, gergasi-gergasi itu menindih tumpukan buku partitur di hadapanku.

Braaak...!

“Rey!”

Valerie menghambur memelukku. Berlembar-lembar partitur memenuhi lantai, menyapu kakiku, dan ujung meja. Seperti banjir lava yang meruap dalam bulir-bulir hangat yang mengalir di pipiku. Sebagian cairan itu masih bergolak, mengendapkan pedih di dada. Aku meronta dari pelukan Val. Bau tubuhnya seperti aroma mimpi-mimpi burukku di malam hari. Aku menjelma gadis kecil di depannya, dan dia menjelma seorang ibu. Seorang ibu muda yang menatap gadis kecilnya dengan tatap khawatir, mungkin takut kehilangan atau merasa bersalah.

“Maafkan aku, Rey! Aku hanya khawatir dan tak ingin sesuatu pun menimpamu,” suara Val terbata-bata, seperti sorot mengiba di matanya.

“Bohong. Kamu hanya kasihan kepadaku.”

Khawatir dan kasihan, hanya berbatas benang tipis. Rasa kasihan di pagi hari dapat begitu mudah menjelma khawatir di siang hari. Dan itulah yang mereka miliki, sorot mata iba ketika membuka pintu kamar dan mendapatiku meringkuk di sudut ranjang pada pagi hari. Pagiku adalah sebuah petaka, awal yang melelahkan. Karena aku takut gergasi-gergasi itu datang dan menjemputku setiap saat. Hidupku adalah malam yang riuh oleh mimpi buruk.

“Rey, Rey. Mengertilah. Aku melindungi dirimu seperti kulindungi diriku sendiri. Salahkah aku apabila begitu menyayangimu?” Valerie duduk di depanku, seperti meringkuk. “Aku hanya sedang berbahagia memiliki keluarga. Apakah tidak boleh?”

Cahaya. Aku hanya merindukan cahaya, lebih dari apa pun. Tubuhku lunglai oleh isak tangis. Valerie membeku di kursi itu, mungkin mencoba meratapi keheningan yang aneh.

“Oke, mungkin kau hanya ingin sendiri. Aku menunggu di hall. Aku selalu ada kalau kau membutuhkanku, Rey....”

Tubuh ramping itu berjalan menjauh, dengan irama serupa getaran kelopak oleh angin. Ada sesuatu yang mengimpit dadaku. Begitu perih.

Di sini tidak ada daun gugur, karena matahari setia menyemai bunga. Musim semi adalah padanan musim dingin yang angkuh dan getar matahari yang hangat pada setiap benda. Tetapi, tidak ada bayangan, karena matahari hanya menjelma lukisan langit yang terlalu biru. Warna biru mengingatkanku pada sebuah trauma yang jauh. Sebuah trauma dari secabik peristiwa yang tercecer, namun perihnya mengendap hingga ke relung hati.

Di Prinsesstraat ini, mungkin sejarah tak pernah berulang. Kecuali rimbun bogenvil yang selalu ranum di penggalan April, dan raung trem yang setia menggerus jalanan. Namun, lintasan orang-orang pada relung-relung bagaikan serpihan yang terserak. Mereka muncul dari sebuah horizon, dan menghilang ke horizon yang lain, seperti terisap oleh mesin waktu. Tatapan mereka sesaat hinggap, lalu berpindah. Tiada sedikit pun singgah. Padahal, pipi mereka sama-sama merah, dan hati mereka sama-sama mendambakan musim semi.

Maka beruntunglah mereka yang mampu menepi dari pusaran itu, dan duduk di bangku besi yang setia ini. Bangku besi ini dicat warna metalik, seperti membuat kontras pada hijau musim semi. Dari sini, parfum dan keringat terhirup bagai aroma yang berkelindan. Langkah-langkah kaki terdengar bagai denting musik tak beraturan. Kadang-kadang menguat, kadang-kadang melemah. Nyata sekali, sebuah kerumunan adalah sebuah himpunan. Dan setiap orang bukanlah individu yang asing, melainkan keping puzzle yang tercecer. Karena setiap sesuatu memiliki peran. Setiap sesuatu tentu memiliki kesadaran tentang dirinya. Kecuali mungkin, aku. Begitu banyak yang dilakukan orang-orang ketika aku tidak hadir.

Karena pada saat itu, aku melihat seorang pria, muncul begitu saja dari sebuah relung, seperti sebuah masa lalu yang akrab. Kulitnya gelap dan mata lebarnya khas mata Indonesia. Rambut ikalnya yang seperti ombak bergelung kecil-kecil, berbelah tengah. Kerah kemejanya menyembul dari balik sweater birunya yang bermotif garis. Tetapi wajah itu, sebentar… aku mengenalinya. Ketika dia berlalu aku dapat melihat sebaris kumis tipis, melintang di atas bibirnya yang agak tebal. Alisnya begitu pekat dan hitam, nyaris bertaut, mengingatkanku pada seseorang yang…. Tunggu. Raut wajah itu pernah begitu dekat. Aroma tubuhnya lebih menggairahkan ketimbang hangat musim semi. Degup jantungnya pernah lekat di tubuhku. Getar-getarnya, ketika itu menumbuhkan debar. Rambut-rambut kecil dan tajam di pipinya serasa baru kusentuh. Dan tangan yang ramping namun kekar itu, pernah menjalarkan kehangatan yang begitu pekat.

Ah, ya. Pria itu pernah menjadi bagian dari hidupku. Tak salah lagi. Dia adalah Adrian Bagaspati.

Dia melangkah, seperti derap pelan yang mengambang. Begitu pelan, begitu percaya diri. Dihampirinya aku yang termangu. Tatapannya hangat menghunjam, senyumnya lebar mengembang.

“Rey…!” Langkahnya memburu, nyaris berlari. Waktu berhenti berputar.

“Rey! Akhirnya kutemukan juga kamu. Aku datang mencarimu. Kemarilah…!” Tangannya merentang. Begitu inginnya aku membenamkan wajahku di sana. Pelukan hangat, yang pasti menjelmakanku menjadi manusia.

Tetapi, aku begitu malu.

Dan dia masih berhenti di sana. Sosoknya tegak, menanti.

Dunia diam terpaku.

Tak ada lagi yang kutunggu. Hanya ada aku dan dia. Tubuhku gemetar, berkeringat. Lututku lemas. Betapa memukaunya senyum itu. Aku melangkah pelan. Begitu ingin aku menyelami debar dalam setiap detik yang berlalu.

Kucubit lenganku, tapi tubuh itu tak lagi tegak di sana. Dia tak ada di mana-mana. Oh, itu dia. Sosoknya menyembul di balik pohon ek. Dia berjalan terus, seperti tak pernah berpaling. Adrian, Adrian. Betapa misteriusnya kamu. Sekejap kamu menghampiriku, sekejap kau berpaling dariku.

Aku harus menemuinya, berbicara dengannya, meskipun jantungku berdegup kencang.

Dia lalu berbelok di sebuah kios kentang goreng, menyusup di belakang antrean yang panjang. Kukejar dia, karena ingin selalu kutatap lekat punggungnya yang kokoh. Namun, dua orang laki-laki jangkung memasuki antrean ini, berdiri di depanku. Aku hanya dapat melihat wajahnya yang berpaling ke samping. Siluet yang begitu tegas. Cuping hidungnya mengingatkanku pada embusan napas hangat yang pernah menerpa pipiku.


Penulis: Sofie Dewayani
(Pemenang Penghargaan Sayembara Cerber Femina 2002)






 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?