Menurut Kunthi Tyas Puruhita (22), pemenang Best Acting WF 2014, lolos sebagai finalis saja sudah merupakan suatu kebanggaan. “Yang pasti, saya akan berusaha mengikuti semua tahapan karantina dengan serius dan tampil maksimal di depan para juri,” ungkap Kunthi.
Motivasi Anda ikut Wajah Femina?
Saya selalu mengamati kesuksesan alumni WF, karena mereka memang berkualitas. Tak ada alumni WF yang menjelekkan diri sendiri maupun nama besar WF. Mereka sukses dengan kerja dan tidak menghalalkan segala cara. Saya yakin, WF juga akan membantu saya mewujudkan impian.
Sejauh mana Anda mengenal dunia presenting dan acting?
Saat saya mengikuti suatu ajang pemilihan di tahun 2010, kami dibekali ilmu acting. Misalnya, perbedaan antara pemain sinetron dan film. Pemain film harus melakukan persiapan yang matang serta lama, sedangkan sinetron lebih singkat. Di ajang WF 2014, ilmu dari Riri Riza di kelas acting menambah wawasan saya, sehingga lebih siap menghadapi penjurian dengan eksplorasi peran yang lebih luas.
Ilmu baru yang didapatkan dari Wajah Femina?
Ilmu dari Ivy Batuta sangat berarti buat saya. Sebab kepiawaian berbicara di depan orang banyak akan terpakai kapan dan di mana pun tanpa dibatasi usia. Sharing dari para alumni, seperti Putri Ayudya dan Andini Effendi, yang sukses di bidangnya masing-masing memotivasi saya untuk terus berusaha mewujudkan impian.
Siapa idola Anda?
Dulu saya dan kakak-kakak punya hubungan yang kurang baik dengan Ayah karena kesibukannya. Hal ini membuat saya sempat membenci keluarga. Karenanya, saya ingin sekali menjadi seorang psikolog yang siap membantu anak-anak yang benci terhadap keluarganya.
Apa dukungan keluarga kepada Anda?
Sejak saya SD, ibu saya, Endah Sri Rejeki (52), mendorong saya berani tampil di depan orang banyak, dengan mengikuti berbagai ajang pencarian bakat remaja dan anak-anak. Menurut Ibu, cara itu membuat saya berani bicara dan berhadapan dengan orang. Selain Ibu, abang dan kakak saya, Rizki Wijaya (32) dan Ines Dian Larasati (31), menjadi motivator saya dalam pendidikan. Saat saya memutuskan pindah dari Blitar ke Jakarta, Ibu menyetujui, sedangkan Ayah memilih diam. Saya anggap diam itu sebagai tanda setuju.
Ada perubahan setelah WF 2014?
Walau sudah sarjana dan telah mengikuti berbagai kompetisi, saya tetap merasa belum memiliki tujuan pasti. Sekarang rasa percaya diri saya luar biasa. Saya lebih siap dan berani menghadapi tantangan hidup serta persaingan di dunia hiburan. Sekarang saya sudah menemukan arah, yaitu terjun di dunia acting.
Apa yang ingin Anda lakukan kini?
Saya akan pindah dan menetap di Jakarta, mencoba peruntungan di dunia peran. Sebagai langkah awal, saya akan belajar dan memperdalam acting di Sakti Aktor Studio milik Eka Sitorus, serta mengikuti berbagai casting. Dengan prestasi ini, saya ingin memotivasi teman-teman dari daerah.
Apa impian terbesar Anda?
Saya ingin sukses membintangi film-film non komersial namun diakui di ajang festival film tingkat dunia. Selain itu, dengan bekal ilmu hukum perdata yang saya peroleh dari Universitas Norotama Blitar, di usia 28 tahun nanti saya akan mengurus segala keperluan untuk menjadi seorang notaris.(DESIYUSMAN MENDROFA)