Aula terlihat sepi, para petugas katering terlihat membereskan piring dan gelas. Begitu pula para petugas gedung, pelaminan yang berhias bunga kini terlihat gundul. Aku dan Mas Fahmi masih duduk berdua di meja makan khusus VIP, pakaian raja dan ratu sehari masih menempel di tubuh kami, meski wajah kami sudah tidak secerah pagi tadi. Aku sangat lelah, kakiku nyut-nyutan dan seluruh tubuhku serasa memar habis dipukuli orang. Aku bisa melihat bahwa persiapan lima bulan terakhir untuk satu hari istimewa ini, sudah berakhir. Lalu tinggal kami saja, a very brand new man and wife. Mas Fahmi menggenggam tanganku dengan tangannya yang lebar dan berkapal, rasanya sangat aman menaruh tanganku dalam genggaman itu.
"Siap ikut aku pulang Nyonya Fahmi Wibisono?" tanyanya berbisik. Aku tersenyum, lalu dia menusuk salah satu pipiku. Dia sangat gemas dengan lesung di kedua pipiku. Aku masih menggenggam selembar kertas kecil ucapan selamat dari sahabatku, Henny.
"Selamat menjalani sebutan baru menjadi Nyonya," begitu bunyinya.
Alarm ponselku berbunyi dengan nada bel pintu yang lembut, namun cukup terdengar sampai dapur. Alarm itu selalu membangunkanku untuk menjalankan ibadah pagi dan bersiap kerja, dulu, sebelum aku menjadi nyonya. Namun sekarang, alarm itu kalah cepat dengan kegelisahan tidurku. Aku bangun satu jam lebih cepat lagi agar dapat menyelesaikan semuanya sebelum aku berangkat bekerja. Dan Mas Fahmi masih asyik mendengkur.
Aku mendengar azan di sela-sela desisan masakanku. Masakan yang kubuat dengan terburu-buru untuk menyediakan sarapan Mas Fahmi yang terbiasa sarapan lengkap sebelum berangkat bekerja. Padahal, aku biasanya cukup dengan segelas kopi. Sungguh merepotkan. Aku melongok ke kamar kami, dan melihat bayi raksasa itu masih saja bergelung selimut. Konyol rasanya mengetahui cara tidurnya, harus memakai pendingin kamar, lampu menyala terang benderang, tidak menggunakan pakaian kecuali celana pendek namun tetap saja berselimut. Aku masuk ke kamar dan mematikan pendingin ruangan, aku tahu dengan begitu nyamuk akan berdatangan dan tidur Mas Fahmi akan terganggu.
“Sudah mandi, Dinda?” sapanya dengan suara serak, langkahnya tersaruk-saruk dengan mata menutup sebelah. Pada pagi pertama aku melihatnya bangun tidur, lenyap sudah atribut wajah George Clooney yang dulu kupikir ajaib bisa melekat di wajahnya.
“Nanti kalau nasi, sayur, lauk, buah dan teh sudah terhidang di meja dan rumah sudah bersih, baru aku mandi,” gumamku.
Mas Fahmi tidak menjawab dan terus berjalan menuju kamar mandi.
Suara mesin motor dipanasi itu sangat mengganggu. Mas Fahmi memang tiap pagi mengantarku kerja. Kebiasaannya memanaskan motor itu seperti peringatan bagiku untuk tidak berlama-lama berdandan. Padahal, aku pikir wajar saja kalau wanita bisa satu jam lebih lambat bersiap diri, sedangkan dia menyisir rambut pun seingatnya saja.
Semenit lagi pasti ia melongok ke kamar dan mengatakan, “Sudah siap, Dinda? Jalanan macet, lho.”
Tuh, kan. Aku gemas sekali karena tidak bisa menemukan bros cantikku di kotak aksesori.
“Sebentar, aku belum menemukan brosku yang bunga aster!” ujarku. Dia menatapku melalui cermin, wajahnya datar.
“Pakai yang lain saja, kamu kan punya banyak sekali,” jawabnya.
Punya banyak sekali? Itu kata-kata yang bisa sangat menyakitkan hati jika istrimu sedang terburu-buru membongkar aksesori yang jumlahnya tidak lebih dari sepuluh buah. Lalu klakson motor terdengar. Aku berlari keluar kamar, menyeruput kopiku dan menyambar tasku dengan asal-asalan. Mas Fahmi sudah siap duduk di motornya, dan aku masih harus membenahi hijabku sebelum memasang helm dan jaket.
“Hijabnya nanti dibenerin di kantor saja. Begitu saja sudah kelihatan cantik, kok. Kita bisa terlambat kalau kelamaan benerin hijab kamu,” komentar suamiku yang sudah duduk manis di atas motornya. Aku meliriknya kesal.
“Ini gara-gara rumah kita jauh dari kantorku,” gerutuku.
Dia tidak berkata apa-apa, hanya menusuk pipiku dengan jari telunjuknya, mencari lesung di pipiku yang aku tahu dalam tiga puluh hari pertama ini, makin jarang terlihat.
Deru motor terdengar persis ketika aku baru saja menyalakan laptop untuk sekadar mengetik beberapa baris puisi yang tiba-tiba muncul dalam benakku. Sudah sekian lama aku tidak menikmati me time membuat puisi karena pekerjaan di kantor yang tiada habisnya dan tugas istri yang tiada hentinya. Aku menghela napas. Kalau Mas Fahmi sudah datang, aku harus menemaninya beristirahat, menyiapkan makan malam dan mendengarkan berita-berita dari kantornya yang tidak penting bagiku. Hal itu bisa menghabiskan seluruh sore yang berharga bagiku untuk menulis puisi.
“Dinda, habis aku mandi, kita ke tempat Pakde, ya, ada undangan,” ujarnya, sambil meletakkan helmnya sembarangan. Aku mengambil helmnya dan menaruhnya di atas rak, tempat benda itu seharusnya berada. Apa? Lagi? Aku baru saja dua bulan menikah dengannya, sudah keliling ke sana kemari ke tempat kerabatnya. Ada saja acara yang mereka lakukan untuk mengumpulkan sedulur, makan makan, ngobrol ngalor ngidul tidak jelas dan tidak penting, makan-makan lagi, dan menghabiskan waktu percuma.
“Undangan apa lagi? Pakde yang mana lagi? Dua hari yang lalu kan, sudah,” tanyaku datar.
“Dua hari yang lalu kan undangan dari Paklik. Adiknya Bapak yang nomor sembilan….”
Oke, sejak berpacaran dengannya aku sebenarnya sudah tahu dia berasal dari keluarga besar, namun aku masih saja terkejut mendengar angka-angka yang ia sebutkan.
“Sekarang undangan dari Pakde yang di Ciputat, kakaknya Ibu yang nomor lima. Acaranya diskusi nikahan sepupu yang anaknya Bulik nomor dua belas.”
Kepalaku pusing, terlalu banyak angka masuk ke dalam pikiranku. Di kantor, aku mengelola bagian accounting dan di rumah masih harus menghafalkan angka. Aku diam saja mengikutinya melangkah.
“Aku tahu kamu capek, tapi paklik aku yang nomor lima belas kan belum pernah ketemu kamu. Waktu kita nikah saja, dia masih di kapal. Mumpung dia lagi pulang.” Mas Fahmi mengangkat daguku yang menunduk.
Sementara itu, ia tetap menekuni pertandingan sepak bola di televisi. Mas Fahmi sejak kecil sudah menggilai sepak bola, dia bukan pemain yang mahir, namun penonton dan tukang komentar paling jago. Aku sendiri tidak mengerti permainan itu, dan ketika berpacaran, sekali atau dua kali aku menemaninya nonton ke stadion.
“Awas, awas!” teriakannya terdengar dari ruang keluarga. Aku baru saja menemukan kata-kata yang tepat untuk membangun tubuh puisiku, namun lenyap demi mendengar teriakannya. Mas Fahmi berteriak-teriak sendirian dan berjoget kesenangan ketika tim jagoannya menyarangkan gol. Lalu dia menelepon Doni, sahabatnya, untuk bercerita dengan semangat kronologi kehebatan tim favoritnya. Dia menyumpah sebentar karena kehilangan sinyal telepon dan menghambur keluar rumah demi mendapatkan sinyal lebih baik. Aku mematikan televisi dan membersihkan remah-remah camilannya yang berhamburan di sofa, tumpah karena tertendang kakinya sendiri ketika bersemangat menonton siaran pertandingan. Benar-benar seperti bocah.
Aku mematikan dering telepon genggam ketika untuk ketiga kalinya tertera nama Mas Fahmi di layarnya. Sore ini aku perlu sekali bertemu dengan Henny, sahabatku. Henny sedang ada masalah di rumah tangganya dan sebagai sahabat satu-satunya tentu saja aku tempatnya mengadu. Aku sudah pamit kepada Mas Fahmi untuk bertemu Henny sepulang kerja tadi.
“Kuantar ya, Din,” ujarnya di telepon.
“Tidak perlulah. Masa Henny mau curhat, tapi Mas ada di sana, kan enggak enak.”
“Tapi kamu sampai jam berapa?”
Namun, setelah lebih dari jam delapan dia menelepon terus. Rewelnya soal jam pulang melebihi ayahku.
Sampai di rumah, pukul sepuluh malam, Mas Fahmi terlihat duduk di teras rumah.
“Syukurlah kamu pulang dengan selamat,” ujarnya.
Aku diam saja.
“Pembicaraan apa dengan Henny yang begitu penting?” tanyanya.
“Sangat penting sampai Mas harus tahu?” kilahku.
Mas Fahmi menghela napas.
“Aku pikir tidak ada salahnya berbagi cerita”
“Karena Henny selalu salah di matamu. Aku tidak tahan mendengar penilaian tidak adil terhadap sahabatku.”
Mas Fahmi memang selalu tidak setuju dengan perilaku Henny yang berselingkuh karena membalas suaminya yang juga selingkuh.
“Aku hanya khawatir.”
“Henny itu sahabatku, dan aku tahu benar bagaimana menjaga diriku,” jawabku menutup pembicaraan. Terdengar pintu terbuka, Mas Fahmi keluar dari rumah.
Pagi itu aku terbangun dengan rasa kesal. Bagaimana tidak, Doni, sahabat Mas Fahmi, tadi malam main ke rumah dan menonton bola menemani Mas Fahmi. Suara teriakan mereka sudah membuatku sulit tidur. Sekarang, di pagi yang lelah dan terburu-buru aku menemukan ruangan tengah tempat menonton televisi bagaikan habis tertimpa bom nuklir! Bungkus camilan, kulit kacang, dan kaleng bekas minuman ringan bertebaran di seantero ruangan. Doni dan Mas Fahmi tertidur dengan nyenyaknya di lantai, seperti mereka masih sekamar di tempat kos dulu.
Emosiku naik sampai ubun-ubun. Kujatuhkan piring dengan sengaja dan pecah dengan suara yang mengejutkanku juga. Doni terbangun terlebih dahulu, lalu melihat istri sahabatnya bagaikan medusa memelototinya. Ia membangunkan Mas Fahmi. Suamiku mengucek matanya seperti mencerna apa yang sedang terjadi. Doni segera memunguti pecahan piring, sedangkan aku melangkah ke dapur. Mas Fahmi mengikutiku. Air mata sudah menggenang di pelupuk mata.
“Jangan ribut sekarang, Dinda. Aku akan bereskan ruangan dan meminta Doni pulang.” Mas Fahmi mengecup kepalaku dan buru-buru kembali ke ruangan keluarga. Tak berapa lama kemudian Doni melongok ke dapur.
“Jes, gue pulang, ya,” pamitnya.
Aku membuang muka. Sama dengan Mas Fahmi tidak menyukai Henny, aku pun belum bisa menyukai Doni. Entah kenapa. Doni tidak menunggu jawabanku untuk segera angkat kaki menjauhi nyonya rumah yang sedang marah. Lalu masuklah Mas Fahmi, wajahnya muram mengetahui istrinya sedang mengalami kesal.
“Dinda. Maafkan aku. Tadinya aku akan menyuruh Doni pulang, tapi…,” Mas Fahmi membuka percakapan sambil membantuku mengelap piring-piring yang baru kucuci. Aku tidak menjawab.
“Dinda Jessica Almadia, please, jawablah aku,” ujarnya lagi.
Aku memutar tubuhku menatap matanya.
“Seratus hari pertama ini aku bingung sekali, aku ini Nyonya Fahmi atau pembantu?
Tiap pagi aku bangun lebih pagi dari ayam jago untuk membuatkanmu sarapan. Tiap minggu aku keliling rumah kerabatmu buat remeh-temeh hal tidak penting. Tiap hari aku harus mendengarkan cerita membosankan tentang bos yang tidak adil namun tetap saja tidak bisa Mas hindari. Tiap hari aku tidak bisa tidur gara- gara pertandingan sepak bola sialan itu. Tiap hari aku mencucikan dan menggosok pakaianmu. Mas hanya diam. Supaya rumah tetap rapi saja tidak mau, bahkan membiarkan laki-laki bujangan yang bukan saudara kita menginap. Hormatilah, aku ini istrimu, bukan ibu kos!” ujarku dengan suara bergetar menahan tangis. Wajah Mas Fahmi menegang.
“Dan Mas juga sama sekali tidak mau memberi aku waktu untuk sedikit lebih rapi berangkat ke kantor!” sambungku. Kening suamiku tiba-tiba berkerut.
“Seratus hari pertama ini aku juga bingung, Dinda. Aku ketakutan tiap tengah malam kamu tiba-tiba mematikan lampu, aku tidak tenang kalau kamu pulang malam naik taksi. Aku bekerja lebih keras, datang lebih pagi, agar bisa menyenangkan bosku demi mendapatkan bonus tiap bulan lebih besar, agar kita bisa membeli rumah yang dekat dengan tempat kerjamu. Aku berusaha menelan masakanmu yang sangat pedas. Aku banyak menolak undangan keluargaku karena aku tahu kamu lelah mengikuti acara-acara tidak penting itu. Aku berusaha nonton bola di rumah agar tidak meninggalkanmu sendirian, meski aku harus berteriak-teriak sendirian.
Aku berusaha Dinda, aku berusaha. Karena seratus hari pertama itu adalah yang terberat bagi kita, aku tahu itu. Tentu saja aku berharap kamu juga berusaha. Karena aku bukan aku lagi dan begitu juga kamu, aku dan kamu telah menjadi kita, suami-istri, bukan pesaing atau musuh.”
Kalimat panjangnya membuatku terkesiap. Mata Mas Fahmi yang biasanya ceria menjadi sendu. Aku tiba-tiba sedih sekali melihat matanya meredup. Di mana binar-binar cerianya saat melihatku? Apakah aku telah mematikan binar itu? Perlahan aku menyelipkan tanganku di telapak tangannya yang hangat. Dia diam sejenak, namun akhirnya telapak tangannya menggenggamku.
“Aku janji akan selalu memberi kabar jika sedang bersama Henny,” bisikku.
“Aku juga janji untuk menyuruh Doni pulang, tidak menginap seperti di tempat kos,” bisiknya.
Aku tersenyum, dan dia menusuk pipiku karena menemukan lagi lesung kesukaannya di sana.(f)
Hayuningtyas Pramesti