Tak bisa dipungkiri bahwa hatinya telah terbelah, kau membawa sebagian irisannya dan bagianku adalah yang tertinggal. Apa yang telah terbagi selamanya tidak akan pernah utuh kembali. Membawanya dalam ingatan justru akan memicu perhitungan-perhitungan yang tak akan pernah tuntas pelunasannya. Barangkali justru akan menjadi utang yang kian bertambah biaya bunganya. Serupa pinjaman rentenir yang harus diangsur dengan memeras darah dan air mata. Maka aku memilih melunaskannya, menjadikannya sebagai lembaran kisah silam yang hendaknya tidak dibaca ulang. Yang layak kulakukan adalah merawat bagian hati yang tertinggal itu, menyembuhkan lukanya dan menjaganya untuk tetap bersamaku,” demikian perempuan pemilik rumah itu mengakhiri kisahnya.
Terpukau perempuan tamu itu mendapati dirinya berhadapan dengan kebesaran hati seseorang, yang darinya telah dia curi banyak hal. Sejatinya selendang itu hanya salah satu dari sekian banyak yang tak terhitung. Cinta, kasih sayang, kepercayaan.
Diingatnya, kala itu acap kali tak dilepaskannya laki-laki itu dari pelukan saat pamit terucap. Justru seolah makin dijeratnya dengan rayuan yang memabukkan. Disuguhkannya ciuman hangat nan bergelora yang selalu saja berhasil menyingkirkan laki-laki itu dari jalannya menuju pulang. Ah, selalu ada rasa sukacita yang menggairahkan setiap kali melihat laki-laki itu seolah tersesat, hilang arah menuju sarang di mana seharusnya dia berada. Gairah yang memicu adrenalin sekaligus menjadi candu yang selalu diinginkannya lagi. Demikian berulang-ulang. Dan setiap kali serasa memetik kemenangan tanpa pernah berpikir tentang sebuah keluarga yang harus menanggung sukacita kemenangan itu dengan luka dan perasan air mata.
Kini dia berada di hadapan sang penanggung itu. Tak ada sukacita kemenangan yang tersisa padanya saat ini, melainkan kekalahan tak tertanggungkan.
“Jauh dan lama saya pergi, demi melupakan dosa itu. Namun ternyata, tak ada pengampunan dalam pelarian, karena seharusnya kepadamulah aku datang,” ucap perempuan itu meneguhkan niatnya. Tatap matanya tak lagi menunduk, terdongak menyatakan harapan hati yang tersirat.
Lurus mata pemilik rumah menatap tamunya, seolah menelusuri napak tilas jejak masa silam.
“Baiklah, kuberikan maafku. Tapi, aku manusia, pengampunanku tidaklah sempurna. Hanyalah Sang Pencipta yang niscaya akan memberikan pengampunan sempurna bagimu, bagiku,” diulurkannya tangan, menepuk lunak jemari tamunya.
“Dan simpanlah selendang ini seperti kau menjaganya selama ini. Bagaimanapun, kau pernah menjadi merak terkasih baginya, rayakanlah itu sebagai kenangan.”
Terguncang bahu tamu itu, oleh karena tak mampu lagi disembunyikannya perasaannya yang terguncang. Berpegang erat dia pada jemari yang menghampiri sesaat lalu. Jemari yang sama kemudian mengusapkan selendang nila indigo demi menyeka air mata yang mengaliri pipinya..
Sang Pengantin
“Kemarilah, Nak,” panggil Ibu menggapaimu sembari membentangkan sehelai kain panjang. Putih warna kain itu, begitu bersih.
“Apakah itu?” tanyamu, seraya mendekat. Lembut jemarimu menyentuh kain panjang itu.
“Selendang. Sutra putih bercorak samar. Ibu ingin menghadiahkannya untukmu,” mata Ibu menatapmu lembut.
Dari kejauhan, sutra putih itu seolah polos belaka. Nyatanya tidak. Jalinan serat-seratnya menampakkan corak yang samar-samar mengguratkan kupu-kupu dan dedaunan. Tak saling rapat corak itu, melainkan saling berjauhan sehingga seolah menjadikan selendang itu polos di beberapa bagian. Tapi, entah bagaimana, corak yang berjarak itu justru menggambarkan kupu-kupu dan dedaunan yang seakan melayang-layang.
“Indahnya,” bisikmu takjub. Nyaris gemetar jemarimu menyentuh selendang tipis itu. Kelembutan seratnya membuat jemarimu seolah menyentuh kabut. Seakan kau rasakan gerak sayap kupu-kupu terbang menghampirimu dan dedaunan melayang di sekitarmu.
“Akan Ibu sulam namamu, hari kelahiran dan tanggal pernikahanmu di tepiannya. Cukup indah untuk kenangan kita berdua, bukan? Sebagai tanda mata dan syukur Ibu, yang telah beruntung melahirkanmu. Kau adalah anugerah bagiku.”
Seketika sentuhanmu terhenti. Seolah berhenti pula aliran darahmu. Namun, tak demikian dengan detak jantungmu. Justru debar itu kian berdentum pada bilik dadamu.
“Ada apa? Tak berkenankah dengan selendang ini?” terkejut Ibu melihat pias wajahmu.
Sudahlah tentu parasmu seputih kapas, oleh karena darah seolah berhenti mengalirimu. Ibu menjadikanmu sebagai anugerah baginya. Kaulah buah hati semata wayang. Pada dirimu mengalir separuh darah Ibu, juga separuh nyawa Ibu demi melahirkanmu. Atas semua pengorbanan itu, kau simpan dan bahkan merawat sebuah pengkhianatan untuk beliau. Pengkhianatan yang bahkan kau jaga sejak masa silam. Layakkah itu terjaga sebagai kenangan kalian berdua, bersanding dengan selendang seputih salju itu?
Seketika kau rasa gerak terhenti kepak sayap kupu-kupu, untuk kemudian berbalik terbang menjauh darimu. Disusul kemudian gugur dedaunan melayang tak hendak menuju kepadamu. Lihatlah, bahkan kupu-kupu dan dedaunan, yang adalah makhluk dan tumbuhan sederhana, enggan mendekatimu. Bagai penanda sungguh kau tak layak menjadi sampiran selendang sutera sehalus kabut itu. Apalagi menjadi anugerah bagi seorang ibu.
Terpikir olehmu, andai sungguh napas dan darah berhenti menghidupimu, akankah terbuka jalan menuju surga bagimu? Tidakkah dosa masa lalu itu akan menutup jalan dan bahkan menyesatkanmu? Siapa gerangan akan menyelamatkanmu ketika itu? Tuhan yang kau yakini sebagai juru selamat itu, mungkinkah akan mengulurkan tangan-Nya bagi mereka yang tak mengakui apalagi memohon pengampunan bagi kesalahan-kesalahannya?
Masih adakah pengampunan atau kesempatan pengakuan dosa bagi mereka yang telah mengabaikan kesempatannya selama di dunia, ketika napas masih memampukannya untuk mengungkapkan pengakuan?
Luruh tubuhmu seketika. Bersimpuh dirimu mencium kaki Ibu. Mengalir air matamu, seakan membasuh kaki itu.
“Aku berdosa kepada Ibu, sepanjang usiaku menyimpan dusta itu,” kalimatmu bergetar mengungkapkan dosa silam yang sejauh ini menyertai setiap jengkal langkahmu.
“Aku bersekutu dengan Ayah menyembunyikan pengkhianatan itu.”
Seketika Ibu meraihmu, membawamu dalam dekapan.
“Tuhan dan Ibu telah mengampunimu sejak dahulu,” erat dekapan Ibu merengkuhmu. Mengalirkan kehangatan yang selama ini menjauhimu.
Kau tercengang. Hangat dekapan itu, telahkah kembali menjadi milikmu?
“Ibu tahu?”
Ibu mengangguk. “Tapi, Ibu tak tahu bahwa kau menyimpannya sejauh ini, sendirian, sementara ayahmu telah memohonkan ampunan itu bagimu dan dirinya sendiri. Ibu alpa, mengira bahwa itu akan menjadi sesuatu yang tak berarti bagimu. Ampuni ibumu ini, membiarkanmu menanggung beban dosa terlalu dini.”
Air mata Ibu membasahimu, seolah menyeka debu-debu dosamu, hingga pada partikel yang terkecil sekalipun. Air mata Ibu membasuhmu. Begitu pula darah sang juru selamat, yang mengalir oleh karena penyaliban demi menanggung dosa segala umat-Nya. Dosamu ada di antaranya. Terbasuhlah dirimu seutuhnya.
KAU BERANJAK DARI ruang pengakuan dosa, yang pintunya kau biarkan terbuka. Pastor tersenyum mengangguk pada pamitmu, diberikannya tepukan lembut pada bahumu dan salam jauh pada kekasihmu yang menunggu di ujung pintu utama.
“Wajahmu berseri-seri,” senyum kekasihmu menyambut langkahmu mendekat.
“Aku bahagia,” katamu.
“Puji Tuhan. Ayo, lengkapi kebahagiaan ini dengan hadiah. Bibi pastilah segera ingin tahu kain pilihanmu.”
Kau menggeleng, cahaya berseri tak menyurut dari wajahmu.
“Sampaikan terima kasihku pada beliau, tapi aku tak menginginkan selendang mana pun lagi. Selendang Ibu telah cukup bagiku,” katamu, sembari menyentuh selendang putih yang membalut bahumu.
Rasa hangat menebari tubuh, juga hatimu, seolah berada dalam dekapan Ibu. (Tamat)