Fiction
Sekoci [1]

3 Oct 2013


Gatot Prakosa

Langit di timur mulai bersemburat cahaya. Suara laut sudah lenyap sama sekali, kecuali kecipak dayung-dayung yang mendorong air laut. Lampu-lampu permukiman nun di depan kehilangan terangnya. Tampak kini burung-burung walet meliuk naik turun di depan tebing sebelah kanan permukiman.

Sebelas sekoci tak berjejer rapi, karena memang tidak diperlukan untuk berbaris. Toh, laut tenang, tak seperti tengah malam tadi. Baruna tenggelam, laut menginginkannya. Seratus dua belas penumpang dan awak kapal selamat di atas sekoci. Tak ada korban tewas, patut disyukuri selamat dari amukan badai.
Seratus dua belas penumpang dan awak kapal tersebar dengan 12 sekoci. Aku hanya berdua dengan kapten kapal di sekoci terakhir yang turun dari Baruna semalam.

Enam jam sudah, di lautan dengan sekoci tanpa mesin. Kapten berusaha menguatkan seorang penumpang yang mudah panik. Aku bahagia melihat hari baru datang. Badai baru saja lewat. Percakapan-percakapan dengan kapten kapal enam jam itu ajaib bisa menenangkanku. Sampai tak sadar sudah muncul rasa suka dan sayang.

Bagaimana mungkin aku tak memahami perasaan yang datang setelah badai? Aku membutuhkannya selalu ada di dekatku. Kalau boleh aku ingin tinggal selamanya di dalam sekoci itu, bersama lelaki ini. Karena lelaki yang menyelamatkan seratus manusia, tidak mungkin punya kasih sayang yang kurang.

Demikianlah arus melankolis atas kejadian hari itu membawaku pergi. Dan kami menikah.

TIGA TAHUN sudah bahtera rumah tangga berlayar. Buah dari cinta kami mulai mampu berjalan. Ia bernama Bayunanda. Angin yang meniup layar bahtera rumah tangga meluncur dengan baik menuju tujuan keluarga bahagia.

Melihat anakku yang mewarisi banyak garis wajah ayahnya dan sedikit dari ibunya, membuatku yakin bahwa semua yang sudah terjadi baik-baik saja. Baruna sebagai kapal pertama waktu itu mesti karam, karena ia membuka jalan buat datangnya kapal berikutnya. Karena bagaimana sebuah kapal yang tenggelam bisa tenggelam lagi? Hanya ia yang mengapung yang bisa tenggelam, bukan? Alangkah besar harapanku kapal ini kokoh berdiri, meski dibebat badai sekuat apa pun.

Tiap kali pulang melaut, suamiku membawa buah tangan. Selain makanan, pakaian, juga dibawanya suvenir atau barang-barang perkapalan dari pelabuhan. Lemari dan dinding ruang tamu penuh dengan pernak-pernik kapal. Dari kompas, pelampung, dayung, jangkar kapal yang berat dan besar, sampai perahu pinisi lengkap dengan layarnya untuk tempat duduk santai di dalamnya.

Suatu ketika putra kecil kami, Bayunanda, jatuh dari perahu pinisi itu. Ayahnya marah. Terkejut aku mendapatkan suamiku bisa marah. Aku menenangkan Bayunanda yang menangis, dan lebih keras menangis ketika ayahnya marah.
Kemarahannya tak berucap. Ia lemparkan apa pun yang ada di dalam pinisi itu. Layarnya dicopot dengan kasar. Sampai kulihat tangannya berdarah. Tiang layar itu patah dan dibantingnya. Saat itu aku tak bisa menahan tangisku. Kugendong anakku masuk kamar. Tubuhku bergetar. Tak kupahami apa yang sedang terjadi. Siapakah lelaki ini? Aku takut tak mengenali suamiku.

Dari kamar aku mendengar decit benda berat bergesek dengan lantai. Aku tak berani keluar. Sekian lama. Dari jendela kini kulihat ia sedang mendorong pinisi itu ke luar rumah. Terguling di undakan depan teras, ia terus menyeretnya. Aku dan anakku melihat ia membakar perahu itu. Api menjilat-jilat udara.

Lelaki itu, orang itu, duduk di tanah, menunggui perahu itu benar-benar dimakan api. Aku dan anakku melihatnya. Sebentar saja, karena sadar perasaan halus seorang anak kecil mungkin bisa menangkap kesan dan mengingatnya, kutidurkan ia. Lelaki yang membakar perahu itu datang ke kamar. Ia berpamit melaut.

SUATU HARI ayah suamiku datang, menengok cucunya. Beliau melihat bekas luka di bibir dan siku tangan Bayunanda. Dan entah bagaimana, kakek ini tahu aku sedang merancang sebuah pekerjaan untuk menambah penghasilan. Beliau mendukung. Aku senang mendengarnya. Ia berkisah tentang dirinya dulu, libur sekolah ketika itu, diam-diam bekerja di rental fotokopi. Tidak ada yang tahu, sampai si pemilik usaha menjenguknya yang sedang sakit. Sebelum pulang kakek anakku memperingati barangkali suamiku tak akan suka aku bekerja.

Seperti mendapat dukungan, kurahasiakan saja semua rencana itu. Aku tak akan memakai uang dari suamiku. Modal usaha itu memakai uang tabunganku saja.
Sebuah butik di sudut kota, itulah yang kutimbang-timbang. Butik itu dibuka. Untung-ruginya siap kuterima. Akan kuyakinkan diriku sendiri kalau anakku tidak akan terbengkalai. Perhatianku tak akan berkurang oleh usaha ini.

SUATU HARI anak itu tersandung, ketika menyambut ayahnya yang pulang. Ia terjerembab dari atas teras berguling di tiga undak.
Suamiku melangkah ke dalam rumah. Ditinggalnya putranya seolah sebuah mainan saja. Tak disambutnya juga aku. Benarkah ini lelaki yang kunikahi dulu? Benarkah ia kapten kapal yang menyelamatkan 112 orang dari amukan badai? Tapi, aku tak bisa memulai pertengkaran. Aku terdiam. Seperti tak punya kuasa dan hak bicara pada sikap keras dan diamnya.

Ia langsung tidur siang itu, dan baru bangun tengah malam. Ia ciumi Bayunanda. Pura-pura masih tertidur, aku melihatnya. Sekali ini, baru kali ini, ia meneteskan air mata. Pemandangan yang akan kuingat seterusnya. Pagi hari ia pamit melaut.
Sore harinya ia pulang. Ia belum melaut. Kulihat sebuah sekoci di atap mobil. Ia minta bantuanku menurunkannya.

Sebelum kembali ke mobil, ia masuk ke dalam rumah, memastikan Bayunanda tinggal di boksnya agar tak jatuh. Kami mengangkat sekoci itu ke dalam rumah. Berdecit-decit karena tak kuat mengangkatnya, sesekali terseret di lantai. Ditempatkannya sekoci itu di teras. Lengkap dengan dayung dan selembar guntingan koran di dalamnya.
“Apakah ini sekoci yang dulu itu?” tanyaku.

Advertisement
“Benar, ini milik Baruna yang karam itu,” jawabnya. Ia menempelkan guntingan koran ke dalam pigura. Selesainya, dipasangnya di dinding atas sekoci.
Aku merasa bahagia. Tetapi, ada rasa takjub atas alasan yang dapat kubaca sendiri, apa penyebab sekoci itu datang ke rumah.
“Kenapa tidak kau bawa juga bulan dan bintang-bintangnya?” aku tertawa. Ia tertawa pula.
“Ini,” ia tunjukkan dayung yang sedikit cuil pada pegangannya. “Masih ingatkah perempuan yang dalam kepanikannya bisa mengunyah dayung?” Ia tertawa lebih keras. Aku memukulinya.

SUATU HARI suamiku datang dari melaut. Setelah digendongnya Bayunanda, ia bertanya padaku kenapa dengan lutut dan ujung jari kaki Bayunanda. Ada bekas lebam. Mata suamiku tampak berkaca-kaca. Aku trenyuh. Kupeluk ia, tetapi ia menolakku.

Aku memahami apa yang berkecamuk di benaknya. Tapi, aku tak menolak sikap marahnya. Karena akulah ibu di rumah ini, akulah pengurus rumah tangga, penjaga dunia kecilnya. Karena pun aku tahu ia paham kalau istrinya lebih bersedih, lebih terpukul, karena harus melihat dan menghadapi kecelakaan-kecelakaan di dalam rumah sendirian. Suamiku tahu betapa aku menyayangi putranya. Dan aku tahu juga betapa takut ia melihat buah hatinya terjatuh atau semacamnya.

Entah bagaimana suamiku tahu istrinya punya usaha sampingan. Ia marah. Kerahasiaan baginya adalah kejahatan dalam keluarga. Sebenarnya aku bisa saja berkilah akan membuka semuanya kalau sudah berjalan bagus, sebagai hadiah kejutan. Aku hanya menunda. Kupikir setahun nanti butik itu tak perlu lagi kuurus langsung. Sebelum setahun, bisnis ini masih dalam tahap perjuangan. Begitulah aku bisa berkilah. Tapi, suamiku tahu lebih dini. Ia marah dan menyalahkanku. Ia menuduhku melalaikan Bayunanda. Baru kali ini kemarahannya tersampaikan dengan bahasa suara.

Ia keluar, ke teras rumah. Ia duduk memandangi sekoci yang terpajang di situ. Kubayangkan apa yang ia pikirkan. Barangkali ia melihat seorang perempuan muda yang panik dan ketakutan di dalamnya.
“Istriku,” panggilnya. Aku datang dan duduk di dekatnya. Tetapi ia diam.
“Aku di sini,” kataku setelah lama kutunggu tak juga ia berbicara.
Seperti terkejut dari lamunan, ia berkata, “Aku melihat diriku malam itu bersamamu. Aku panik dan butuh ditolong. Sesungguhnya itulah yang terjadi. Dan kau membuat diriku layak hidup.”

Diam-diam aku gemetar membayangkan malam itu.
“Istriku, maafkan aku. Kukatakan sekarang, bagi seorang kapten kapal, keselamatan penumpang dan kapal itu sendiri adalah tanggung jawabnya. Dan ketika kapal celaka, aku sebagai kapten kapal  semestinya turut tenggelam bersama kapalnya. Aku terlalu malu untuk hidup, berpisah dari kapalku.”
Sekian lama lagi ia memandangi sekoci sebelum pergi. Aku menangis ketika ia minta maaf karena aku harus menerima kemarahannya. Ia berpamitan akan melaut dan tidak pulang sampai enam bulan ke depan. Aku tak tahu apakah itu emosinya, atau memang sudah rencananya pergi.

“Jaga dirimu, Kapten,” kataku. Ia telah menggendong dan menciumi Bayunanda lama sekali.
“Jaga dirimu dan anak kita,” diturunkannya Bayunanda di depanku. Ia berkata lagi padaku, “Tolong jaga diri kami.”
Aku bersama putraku melepasnya pergi. Diam-diam kusadari air menetes dari mataku, dan kuucapkan dengan lirih pada bayangan lelaki itu, “Tolong bawa kami ke daratan, Kaptenku.”

Aku sudahi usaha butik itu, meski tidak mengurangi perhatianku kepada putraku. Tapi, siapa manusia yang dapat yakin tentang sesuatu?
Minggu ini kuperiksakan tubuhku ke dokter, setelah curiga tak datang bulan sekian lama. Dokter mengatakan aku sedang mengandung. Belum kuberi tahu suamiku. Ia kuat juga sekali ini, sudah 4 bulan tak pulang. Mungkin benar enam bulan itu.

Bulan kelima ia pulang. Kami berdua dengan Bayunanda bergembira menyambutnya. Dipeluknya dan diciuminya Bayunanda, memuaskan rindunya.
Kali ini kepulangannya membawa ajakan rahasia. Ia menolak memberitahukan. Aku menerka-nerkanya, tetapi selalu keliru. Akhirnya aku menyerah, kuikuti permainannya.

Kami sekeluarga naik sebuah kapal. Suamiku tidak sedang bertugas sebagai kapten di kapal itu. Ia bersama kami. Melihat laut dari buritan, kulindungi anak kami dengan baju hangat. Malam mulai turun. Aku baru menduga apa yang diinginkan suamiku. Di tengah laut, sirene kapal berbunyi. Suara orang-orang yang panik terdengar olehku. Aku tersenyum memandang suamiku yang tersenyum pula. Itu rekaman entah dari film apa, dan ini hanya permainan. Tidak ada badai malam ini. Kami masuk ke sekoci yang diturunkan dua anak buah kapal. Laut tergelar tampak tenang.

Dengan sekoci, kami bertiga, keluarga kecil ini, mengayun-ayun lembut oleh arus.
Aku tertawa. Suamiku tertawa. Tak ada sesuatu yang mendorong kami tertawa. Bayunanda juga tiba-tiba tertawa, barangkali melihat kedua orang tuanya begitu.
Kapal yang mengangkut kami sudah jauh tak terlihat. Di tengah lautan, bulan tak bisa menghalangi cahaya bintang-bintang.

Sejuta bintang dan satu bulan menggandakan diri di permukaan laut. Tak ada perbincangan. Tidak ada perempuan muda yang perlu dikuatkan oleh sebab kepanikan. Kami berbahagia. Suamiku memelukku dan kurangkul pula ia. Anak kecil di antara kami menunjuk-nunjuk bintang di atas. Kurasakan juga seorang anak di dalam perutku seolah turut nimbrung dengan impiannya.

Dan kerlip lampu dari perkampungan nelayan di kejauhan terlihat tenang.




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?