Fiction
Satu Kata Maaf [3]

20 Jun 2012


<<<<  Cerita Sebelumnya

Untuk apa punya kaki kalau tak bisa berjalan? Untuk apa punya tangan jika tak bisa digunakan? Ketika tali ikatan kaki dan tanganku terbuka, aku terpukul, nyaris berteriak histeris.

September 1973-1983
Sayangnya, mimpi itu tak pernah jadi kenyataan. Tepat di hari ulang tahunku yang kelima, saat ayam masih belum berkokok, aku sudah bangun. Kunyalakan lampu, turun dari ranjang, lalu me-rayap, sambil berpegangan pada besi tempat tidur. Sesampainya di depan lemari kaca, aku mencoba berdiri tegak dan berjalan. Tapi, baru beberapa langkah, aku jatuh dan menabrak meja. Suara dentuman keras langsung membangunkan Mama, berbarengan de-ngan jatuhnya botol-botol kaca dan gelas.

“Apa-apaan, sih, Mei Cen?” teriak Mama, ketika melihatku terduduk di antara remukan kaca. Mama memapahku kembali ke ranjang.

Aku menangis keras. ”Aku tak bisa jalan! Aku tetap tidak bisa jalan!”

“Kamu kenapa? Kalau mau ambil sesuatu, bilang pada Mama, nanti Mama ambilkan! Lihat, tuh, barang-barang pecah semua!” suara Mama tinggi. Mungkin, ia gusar karena tidurnya terganggu. Sudah dua hari Mama tidak berjualan karena sakit flu.

“Hari ini ulang tahunku, Ma!”

”Iya, lalu kenapa?” bentak Mama, sambil memunguti beling.

Tangisku menghebat. Ia tidak ingat janjinya.

“Mama bohong! Mama bohong!” teriakku, sambil melempar bantal dan guling ke arahnya. Tiba-tiba Mama mendekati aku. Tanpa kuduga, ia menampar mulutku dua kali.

“Bisa diam tidak? Subuh-subuh begini teriak-teriak seperti orang gila! Diam! Diam tidak?” Tangan Mama masih teracung di udara, siap menampar lagi. Raut wajahnya bengis. Aku merapat ke tembok dan menangis tanpa suara. Takut, marah, kecewa, dan sedih.

“Kenapa Mama bohong?” tanyaku, pelan.

“Bohong apa, sih?” jawab Mama, galak.

“Dulu Mama bilang, aku pasti bisa jalan kalau berumur lima tahun. Kata Mama, aku belum bisa jalan karena aku anak perempuan. Masih kecil, masih tiga tahun. Nanti kalau sudah umur lima tahun, baru bisa jalan seperti si Aming. Waktu itu Mama janji, ‘kan? Sekarang tanggal 9 September, Ma. Umur Mei Cen lima tahun. Tapi, kenapa Mei Cen masih jatuh kalau berjalan?” Aku menangis lagi.

“Mama bilang begitu?” tanyanya, seakan lupa. Seolah tak terjadi apa-apa, Mama memutar badan dan kembali menyapu. “Mungkin, para dewa masih belum mengizinkannya.”

Aku bengong, tak mengerti.

“Kamu harus lebih banyak berdoa pada para dewa, Mei Cen. Supaya dewa-dewa senang dan menyembuhkan tangan dan kakimu. Kalau kamu rajin sembahyang dan tidak nakal, pasti dewa akan cepat menyembuhkan,” jawaban Mama terdengar meyakinkan.

“Betul begitu? Mama tidak bohong?”

Mama menggeleng, lalu memaksaku merebahkan diri. “Sekarang, kamu tidur lagi. Ayo!” perintahnya.

“Kenapa kita tidak sembahyang sekarang saja, Ma? Lebih cepat kita sembahyang, lebih cepat dewa menyembuhkanku, ‘kan?”

“Nanti siang saja. Mama masih mengantuk,” katanya. Mama menguap lebar-lebar lalu menggulingkan badan di sisiku.

Jarum jam berdetak mengiringi gerakan bola mataku yang tak bisa dipejamkan lagi. Di dalam hati aku memendam begitu banyak pertanyaan. Kenapa dewa memberiku penyakit ini? Kenapa orang lain tidak? Penyakit apa ini?

Ketika jarum jam menunjukkan angka delapan pagi, aku menarik-narik selimut Mama. ”Sudah siang, Ma! Ayo, kita sembahyang!”

Advertisement
Walau agak susah dibangunkan, sambil terkantuk-kantuk Mama mau juga membopongku ke ruang tengah. Di sana ada altar kecil dipenuhi dupa dan lilin merah yang setiap hari menyala. Dupa dan lilin-lilin itu mengapit beberapa botol kecil berisi abu leluhur keluarga. Aku mengambil tiga batang hio dan menyalakannya, lalu membungkukkan badan dalam-dalam, tanda hormat kepada dewa dan arwah leluhur. “Para dewa dan arwah leluhur, sembuhkanlah aku agar aku bisa berjalan,” teriakku, lantang.

Sepanjang hari, di sela-sela kegiatanku berlatih berjalan, aku berdoa dengan suara keras, takut dewa tidak mendengar suaraku. Aku menaruh beberapa piring berisi apel dan jeruk sebagai sesajen.

Lepas beberapa hari, aku mulai gelisah. Akhirnya, kuputuskan untuk tidak meninggalkan altar barang sekejap pun. Seisi rumah menertawakan dan mengolok-olok. Tapi, aku tidak peduli. Aku ingin tidur di depan altar saja supaya bisa berdoa kapan pun aku mau. Mulanya, Mama marah, tapi belakangan dia diam saja.

Aku sungguh-sungguh berdoa. Tak jarang aku menangis karena begitu ingin bisa menggerakkan kakiku. Aku tidak mengerti apa penyebab sakitku ini, tapi aku mengharapkan kemurahan para dewa dan arwah leluhur agar mau mengasihaniku.

Hampir setahun aku terus membungkukkan badan di depan altar dan berteriak-teriak sampai suaraku serak. Tapi, mimpiku belum terwujud. Aku mulai jemu. Sepertinya, dewa tidak memperhatikan kerasnya usahaku. Mungkin, dewa terlalu sibuk mengurusi hal penting dan tidak mau mengurusi permohonan anak kecil.

Di umurku yang ketujuh, aku makin rendah diri mendengar ejekan orang sekampung. Kata-kata seperti ‘Itu Si Pincang!’ atau ‘Hei, Ayam Buntung lewat!’ atau ‘Kasihan, cantik-cantik, kok, cacat!’ memerahkan telinga dan juga menghancurkan hatiku. Mama tidak ambil pusing dengan keluhanku. “Ah, mereka itu nakal, suka iseng. Biarkan saja, nanti akan diam sendiri,” katanya, pendek.

Komentar Tante Lin lebih baik. ”Kamu tidak pincang, tidak buntung. Kamu bisa berjalan sedikit, ‘kan? Bilang saja, kakimu sekarang memang sakit, tapi akan segera sembuh.”

Tak tahan terus diganggu rasa penasaran, suatu hari aku nekat membuka sepatu kain dan sarung yang menyelubungi tangan dan kakiku. Dalam kamar terkunci, susah payah aku menggunakan gigi untuk menarik tali kecil yang membelit gulungan kain di tangan. Apa yang kulihat sangat membuatku terpukul dan nyaris histeris.

Tangan yang sejak dulu terlihat begitu aneh, tetap pada bentuknya. Tak ada perubahan. Tak ada pertumbuhan tangan yang indah seperti penari, seperti yang Mama janjikan. Masing-masing tangan harus puas hanya punya tiga jari. Jumlah kuku pun tak lengkap.

Aku membuka ikatan yang membelit kaki sepanjang betis. Pemandangan sangat tidak sedap pun kembali menerpaku. Kakiku memang ada dua, tapi tidak sempurna. Bentuknya ganjil. Kanan dan kiri tidak sama. Kakiku tidak bertelapak dan berjari. Yang disebut telapak pada kaki kiriku adalah segumpal daging tanpa kuku, tak berbentuk. Kaki kananku masih lebih baik. Telapak kaki masih sedikit berbentuk, walau tak panjang. Tapi, hanya berjari tiga dan berkuku dua. Sayangnya, kaki kanan yang agak lumayan itu melesak bengkok ke arah dalam.

Aku menangis meraung-raung. Apa gunanya punya tangan, kalau tak bisa dipakai? Apa gunanya punya kaki, kalau tak bisa berjalan? Kini aku sadar mengapa semua orang menghinaku. Mereka semua benar! Aku seperti ayam buntung pincang berwajah manusia. Aku cacat! Cacat!

Seharian aku mengunci diri di kamar. Tak mau makan dan minum. Hanya bergolek, terisak di tempat tidur. Tak kupedulikan teriakan Mama dan Tante Lin yang menggedor pintu seperti orang kesetanan, berteriak memanggil namaku. Lewat pukul tujuh malam, aku merangkak lemas menggapai pintu dan meraih kunci. Bukan karena lapar atau haus. Aku ingin bertanya pada Mama, kenapa selama ini ia berbohong.

Begitu aku membuka pintu, tangan Mama yang besar langsung merenggut rambutku dan membenturkan ke dinding berulang-ulang. Masih belum cukup, aku dihadiahinya tamparan di pipi kiri dan kanan.

“Anak sialan! Untuk apa mengunci pintu seharian? Coba bilang, ngapain kamu di dalam? Ngapain?” teriak Mama.

Air mataku meleleh lagi. Tapi, aku tak bisa melawan. Tante Lin mencoba memapahku bangun. Kakak-kakakku hanya menonton. Sedikit pun mereka tak tergerak untuk mengulurkan tangan. Wajahku yang memar berpaling memandangi mereka. Kenapa mereka tidak mencegah ketika Mama menghajarku? Kenapa mereka tidak menghiburku, memeluk, dan melindungiku? Aku adalah adik mereka. Atau, mereka menganggapku makhluk aneh yang tidak pantas jadi manusia?
Dengan mata nanar kutatap wajah Mama. Perlahan aku menyorongkan kedua belah tanganku ke hadapannya.

“Kenapa Mama bohongi Mei Cen lagi?” desahku. Mama dan Tante Lin langsung terkesiap, sadar bahwa tangan dan kakiku tidak lagi terbalut ikatan kain. Rona kaget mereka tak bisa ditutupi. Mereka menoleh ke belakang. “Siapa yang buka? A Ling? Atau, kamu, Heng?” tanya Mama.

Satu per satu mereka menggeleng, lalu beranjak pergi. Mama menatap lama ke dalam mataku. Kupikir ia akan menghajarku lagi. Tapi, ia bangkit menuju ruang dalam dan kembali dengan sepiring nasi di tangan.

“Makanlah dulu. Kamu pasti lapar. Sesudah makan, langsung tidur,” katanya, acuh tak acuh.

“Tangan dan kaki Mei Cen kenapa, Ma? Kenapa bentuknya seperti ini?”

“Tidak sekarang,” Mama bergegas menjauh, diikuti Tante Lin yang sempat mencium pipiku. Aku termangu memandangi nasi di depanku, tanpa berniat menyentuhnya. Kejadian hari ini terlalu pedih, membunuh selera makanku.

Hari-hari berikutnya Mama bersikap seolah tak ada apa-apa. Tante Lin juga berusaha menghindari pertanyaanku, tapi tetap melayaniku. Bagaimana mungkin Mama begini, setelah kemarin menyiksaku sampai babak belur? Tidakkah Mama tahu bahwa peristiwa itu terekam dalam jiwaku, menimbulkan luka emosi yang mengobarkan kebencianku?



Penulis: Ruddy Raharjo
(Pemenang Kedua Sayembara Mengarang Cerber femina 2004
)



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?