Tingkat pemanfaatan ikan sidat secara lokal masih sangat rendah. Kebanyakan penduduk Indonesia belum familiar untuk mengonsumsi ikan sidat. Kalau menengok ke masa penjajahan Jepang di Indonesia, konon Jepang mewanti-wanti masyarakat Indonesia untuk tidak memakan ikan ‘bertelinga’ karena menurut beberapa kepercayaan, ikan tersebut ikan ‘setan’.
Pesan ini masih dibubuhi dengan pesan: “Kalau ada yang menemukan ikan seperti itu, segera serahkan ke tentara Jepang, supaya dimusnahkan.” Bukannya dibuang, ikan yang ditemukan penduduk di sungai-sungai ini justru disantap mereka. Belakangan diketahui, itu adalah taktik orang Jepang untuk bisa bebas mengonsumsi ikan sidat alias unagi ini. Mereka sudah sangat mafhum kandungan gizi ikan sidat. Di Poso dan Manadi, benih ikan sidat bahkan dijadikan rempeyek ikan. Pengetahuan kita mengenai ikan sidat memang masih jauh.
Budi daya ikan sidat di Indonesia memang baru ditemukan sekitar tahun 2007 oleh Satuan Kerja Tambak Pandu Karawang, yang merupakan UPT Ditjen Perikanan Budi Daya, Departemen Kelautan dan Perikanan. Padahal,
Sidat memang belum populer di Indonesia. Pengusaha sidat asal Jepang mencari-cari produsen baru untuk menutup kekurangan pasokan dari Cina. Salah satu incarannya adalah Indonesia. Terutama jenis Anguilla bicolor. Ikan sidat merupakan ikan karnivora murni yang membutuhkan pakan berupa hewan lain. Potensial untuk pakan sidat: keong mas, bekicot, dan cacing tanah. Jenis ini banyak dicari karena rasanya enak untuk dibuat olahan hilir yang namanya kabayaki. Ekspor ikan sidat terutama ke Macau, Taiwan, Jepang, Cina, dan Hong Kong. Potensi pasar negara lain yang belum digarap antara lain Singapura, Jerman, Italia, Belanda, dan Amerika Serikat.
Harga di tingkat petani ikan sidat untuk elver dengan harga jual antara Rp250.000/kg. Untuk ukuran 10-20 gram antara Rp20.000 - Rp40.000/kg. Sedangkan untuk ukuran konsumsi (lebih dari 500 gram), untuk jenis Anguilla bicolor pada pasar lokal rata-rata Rp75.000/kg dan jenis Anguilla marmorata Rp125.000 – Rp175.000/ kg.(f)