Di masa kekaisaran Edo (1603 – 1867) Jepang, konon seorang pengusaha restoran unagi meminta saran seorang ilmuwan bernama Hiragi Gennai untuk mencari cara agar restorannya laris. Hiragi pun menyarankan untuk memasang tulisan besar di depan restoran, yang berbunyi doyou-no ushi-no hi (pertengahan musim panas pada Tahun Kerbau). Hasilnya? Restoran tersebut benar-benar ramai. Namun, bagaimana bisa hanya dengan tulisan seperti itu menjadi ramai?
Pada masa itu, masyarakat Jepang percaya, kalau mau bertahan hidup pada musim panas, mereka harus makan makanan yang berawalan huruf U, salah satunya unagi. Itu sebabnya, restoran tersebut laris manis, karena salah satu makanannya, unagi (berawalan u), menjadi santapan favorit orang Jepang saat musim panas tiba. Sampai sekarang, khususnya pada bulan Juli – Agustus (musim panas), unagi banyak dipanen di Jepang, bahkan menyebar ke seluruh dunia.
TAK HANYA MILIK JEPANG
Pernah makan unagi atau giant mottled eel? Bagi masyarakat Indonesia yang doyan makanan Jepang, mungkin sudah tidak asing lagi. Meski tampilannya serupa belut, tekstur yang lembut dan cita rasa yang enak menjadikan makanan ini berkelas. Harganya pun bisa dibilang tidak terlalu ramah di kantong. Untuk dapat menikmatinya, terkadang perlu bertandang ke restoran Jepang di hotel berbintang atau di restoran Jepang tertentu kelas fine dining.
Unagi tak hanya milik Jepang. Ikan berprotein tinggi ini ada juga di perairan Indonesia! Sayang, dengungnya nyaris tak terdengar. Padahal, Indonesia adalah negara yang memiliki paling sedikit enam dari dua belas jenis unagi di wilayah tropis. Antara lain, jenis Anguilla marmorata, Anguilla celebensis, Anguilla ancentralis, Anguilla borneensis, Anguilla bicolor bicolor, dan Anguilla bicolor pafifica.
Di perairan Indonesia, unagi mayoritas ditemukan di pantai barat Sumatra, selatan Jawa, dan Sulawesi. Di Poso dan Sulawesi Tengah, dikenal dengan nama ikan sogili, di Toraja dan Makassar dikenal sebagai ikan massapi, sementara di Jawa dan Lampung dinamakan ikan pelus. Di Jawa Barat dikenal sebagai ikan uling dan di Jakarta disebut sebagai ikan moa atau ikan denong.
Secara umum, masyarakat Indonesia mengenal ikan ini dengan nama sidat. Bahkan, saking populer dan digemarinya ikan ini, ada sebuah komunitas yang menamakan dirinya sidatmania yang sempat berkenalan dengan penulis sekitar 3 tahun lalu. Di sanalah penulis mengetahui bahwa ternyata ikan morea yang banyak ditemukan di perairan Ambon, tak lain adalah ikan sidat atau unagi ini. Menurut cerita, ikan sidat di Ambon hidup karena sebuah mitos. Beberapa tahun lalu, saat penulis melancong ke Ambon, ikan morea atau sidat ini menjadi tontonan di sana. Sebab, ikan ini dianggap keramat oleh penduduk setempat. Ikan hanya keluar dari persembunyiannya dengan bantuan pawang. Ikan morea biasanya bersembunyi di bawah lubang, batu, atau gua kecil.(f)