Fiction
Rotana dan Rotani

20 May 2015


    Sabtu siang, saat aku sedang menyiapkan bahan-bahan untuk membuat hidangan Thailand:  tom yum, phad thai, fish cake dan green papaya salad kegemaran Mas Gen, sebuah truk berhenti di depan rumah. Truk itu mengantarkan sofa, meja tamu, meja sudut, lampu duduk, dan meja berlaci tiga yang semuanya terbuat dari rotan...
    “Rumah Pak Gen Santoso?”

    Aku mengangguk ketika pria pengantar itu menyodorkan secarik kertas.  Di situ jelas tercantum nama Ir. Gen Santoso, Jl Dulang No.10 dan sudah dibayar lunas tanpa mencantumkan jumlahnya! Mas Gen rupanya ingin memberiku kejutan! Kedua tukang itu  pun segera menurunkan barang-barang dari  truk.
    Terus terang, aku agak kecewa ketika melihat  benda-benda itu tidak sesuai untuk rumah kami yang minimalis. Namun, daripada berlarut-larut diliputi  kekecewaan dan tanda tanya, saat itu juga aku  menelepon Mas Gen. Ternyata  hand phone-nya masih off. Ia pasti masih berada di udara. 

    Kukirim kalimat ini lewat Whatsapp: Kok, enggak bilang-bilang beli furnitur  rotan. Sudah sampe, nih, barangnya.  Please, telepon kalau sudah mendarat.  Kufoto benda-benda tersebut dan kukirim padanya.
     Setelah 3  hari menyelesaikan pekerjaan di Papua bersama timnya untuk  memastikan besar tidaknya kandungan batu bara di sebuah hutan, pagi tadi Mas Gen mengabarkan akan kembali  ke Jakarta  dengan transit lebih dulu di Denpasar. 

    “Kalau penerbangan lancar, aku bisa makan malam bersamamu,”  ungkapnya di telepon saat  berada di bandara.
    “Aku akan membuat makanan Thailand.”
    “Enggak usah repot-repot, beli yang matang saja. Kamu tahu, aku tidak suka  kamu bau bumbu mentah dan asap dapur ketika aku datang.  Seperti halnya kamu tidak suka kalau sepulang kerja aku berbaring di tempat tidur, tanpa cuci tangan dan ganti baju, ha… ha… ha...”
    “Janji, ketika kamu datang, aku sudah wangi dan makanan sudah siap!”
    Memasak membuatku gembira.  Meracik bumbu,  mengombinasi aneka  bahan makanan dan mengolahnya  kulakukan sambil  bersenandung. Saat mencoba mengolah masakan baru,  apalagi yang  serius karena begitu banyak bumbu dan memasaknya dalam waktu yang lama, aku akan  memutar musik berirama Kuba yang riang,  yang membuatku meletup-letup  dan memasak sambil bergoyang.  
    “Berkeringat, bau asap, tapi kan  sehat. Apalagi makanannya enak. Hemat pula!”  Aku pernah mengatakan hal itu kepada Mas Gen. Banyak orang yang sudah merasakan masakanku mengacungkan dua jempol.
    “Aku  penggemar berat makananmu. Gara-gara itu,  setelah menikah,  berat  badanku naik. Tapi, mandi dulu, ya, kalau ingin memelukku.”
    Terkadang aku usil, memeluknya dari belakang  usai urusan di dapur selesai dan berkeringat. Mas Gen akan pura-pura  melepaskan rangkulan tanganku di perutnya sambil menutup hidungnya.
    “Bau bumbu dan asapnya  nempel, deh. Aku harus mandi lagi, nih,”  protesnya, sementara aku tertawa-tawa.
    Ia juga tak jarang menggodaku. Sepulang kerja  Mas Gen  masuk kamar dan pura-pura lupa aturan, siap membaringkan diri di tempat tidur karena ingin mendengarku berteriak, “Tubuhmu itu dihinggapi ratusan  kuman, Mas! Seprainya  harus diganti, deh. Sana cuci tangan dan ganti baju dulu....”

    Sepanjang percakapan di telepon tadi, tak sepatah pun Mas Gen bicara tentang furnitur  rotan. Apa karena ia sunguh-sungguh ingin memberi kejutan atau lupa karena kesibukannya?  Seingatku, kami pun  belum secara serius  membicarakan furnitur untuk mengisi rumah yang kami tempati 6 bulan lalu ini. Sambil lalu aku memang  pernah usul,  kalau tabungan sudah terkumpul,  memesan furnitur dari workshop  langganan  Mama saja.  Kualitasnya bagus, meski harganya mahal. 

Aku ingin  desain dan warna  benda-benda di rumah nanti,  memiliki  benang merah dan  masing-masing  memiliki  kekuatan sesuai  fungsinya. Sesuai pula dengan semangat pasangan muda. Aku ingin betah  di  tiap sudut rumah. Tapi Mas Gen  tidak menanggapi serius karena saat itu  masih konsentrasi menyelesaikan  satu kamar tambahan  di lantai atas.
    Saat ini,  ruangan di rumah yang kami anggap paling istimewa  adalah dapur.  Letaknya di balik ruang tamu dengan pintunya yang langsung ke carport. Di situ ada kompor listrik  4  tungku dengan oven,   toaster, kulkas dua pintu, dispenser, juicer, kuali antilengket, panci,  microwave, cangkir, sendok, piring, dan  mangkuk-mangkuk cantik  yang semuanya ditata harmonis di atas, tengah dan bawah lemari. Mudah dijangkau, modern dan  membetahkan dengan sentuhan biru yang menyegarkan.

    Semua benda-benda di dapur  adalah hadiah perkawinan dari keluarga dekat dan sahabat.  Aku berterus terang kepada mereka untuk memberiku hadiah perkawinan berupa perlengkapan dapur.  Mereka tahu dapur akan menjadi kerajaanku. Dalam kartu mereka menulis, semoga akan ada olahan istimewa yang muncul dari dapurku.

     Ruang tamu justru belum mendapat sentuhan apa-apa. Di situ hanya  ada meja kopi dan sofa dua seat warna   maroon, pemberian teman Mas Gen yang pindah rumah. Makin hari, aku melihat sofa itu tampak terlalu serius  untuk ruang tamu yang mungil. Yang lumayan menghibur adalah televisi 32 inci yang menempel dinding,  media hiburan saat  aku sendirian di rumah karena jam kerjaku lebih teratur,  dibanding Mas Gen.

    Tiga langkah ke belakang,  kami menempatkan meja kecil  yang menempel ke  jendela dan  membuka pandangan ke halaman  belakang  kecil, yang separuhnya  dilapisi lempengan-lempengan batu alam abu-abu.  Halaman terbatas itu kami isi dengan  pot berukuran sedang  berisi pohon jeruk limau, sawo, dan mangga. Juga pot-pot  kecil berisi tanaman bumbu seperti salam, lengkuas, kunyit, dan pandan. Kami membanggakan teras itu  sebagai  tempat  mata leluasa memandang  langit dan menikmati daun-daun hijau.  
    “Di mana kami menempatkan barang-barang ini, Bu?”
Advertisement
    “Sebentar, ya, Pak,” jawabku sambil memeriksa  barang-barang yang masih berada  di teras itu satu per satu. Aku ingin  memastikan ukuran dan kepantasan penempatannya di dalam rumah.

    Benda-benda tersebut  berkualitas baik. Pola jalinan rotannya  simpel namun  artistik.  Sofanya yang terdiri dari satu  sofa dengan tiga seat dan tiga  sofa  lainnya yang memiliki  satu  seat  berwarna  cokelat pasir dengan bantalan tempat duduk dan sandaran berwarna biru toska. Nyaman saat kududuki.   Permukaan meja terbuat  dari kayu yang  disangga jalinan rotan berbentuk daun  nangka  di  empat  sudutnya.  Jika dipaksakan,  hanya satu sofa 3 seat yang bisa ditempatkan di ruang tamu. Sofa cantik itu pun akan terlihat ‘kebingungan’ dan ‘terasing’ karena membuat  ruang tamu tampak sesak. Tiga kursi sisanya terpaksa  harus kufungsikan sebagai kursi makan. Masalahnya,  di mana aku akan menempatkan meja sudut, laci dan lampu?

    Mas Gen, kok, bisa seceroboh ini. Furnitur rotan, aku masih bisa terima asal ukurannya tidak tembem-tembem seperti ini. Masa ia lupa ukuran ruangan di rumahnya sendiri.    
    Aku mulai  khawatir benda-benda cantik itu akan menjadi pemicu munculnya riak dalam hubunganku dan Mas Gen.  Aku pasti akan  meminta penjelasannya dengan suara tidak senang,  mengapa ia  memilih furnitur  tersebut  tanpa memberitahuku lebih dulu.  Kubayangkan Mas Gen akan tersinggung  dan berteriak-teriak. Akhirnya, aku  mungkin akan mengalah, menerima apa yang sudah terjadi.  Lalu,   tiap hari aku  akan melihat benda menyebalkan itu. Dan terluka karena merasa diremehkan?    
      Aku mungkin belum sepenuhnya memahami apa alasan dari  tiap  tindakan  Mas Gen. Usia pernikahan kami belum genap satu tahun.  Aku juga baru  menyadari  kalau selera Mas Gen itu pay... uppps, sebaiknya aku menahan diri untuk tidak menilai apa pun sebelum bicara langsung dengan Mas Gen.

    Kulihat  pesanku di-Whatsapp belum terkirim. Berarti Mas Gen belum transit di Denpasar.
    “Bapak yakin tidak salah kirim?” Aku berharap sekali benda-benda ini dikirim ke rumah yang keliru.
    “Ini Pak Gen Santoso dosen di Fakultas Tambang, Universitas B kan, Bu?”        
     Hmmm, untuk membeli furnitur ini Mas Gen memberikan keterangan diri selengkap itu!  Jangan-jangan ia membelinya secara kredit. Memaksakan diri sekali!
    “Ya  sudah,  tolong yang ini dan ini  letakkan di ruang  tamu, yang itu di dekat meja makan....”
          Kuputuskan, aku tidak ingin  terlihat lagi seperti istri dungu yang tidak tahu urusan suaminya,  di depan dua pria yang sejak tadi  kebingungan  melihat  aku yang tidak gembira. 

    Telepon berbunyi ketika dua pria pengantar barang sedang meletakkan sofa 3 seat di ruang tamu.
    “Mas…!” jeritku yang pasti akan membuat gendang telinganya seperti tertimpa bola besi.
    “Pengirimnya Rotana & Rotani?” Mas Gen bertanya sebelum aku sempat menyemprotnya dengan beragam pertanyaan.
    “Ya.  Aku tidak tahu kalau Mas suka  rotan….” Aku mencoba menahan diri untuk tidak langsung memberondongnya dengan kalimat-kalimat  panas.
    “Dengar baik-baik, ya...,”  Mas Gen memotong kalimatku  dengan suara yang mengandung  kemarahan.            
     “Sialan,” seruku. Kemarahanku pun tersulut mendengar ceritanya.
     “Enak saja…!” aku  kembali berteriak,  membuat kedua pria pengantar yang sedang mengangkat  barang itu berhenti melangkah dan menoleh ke arahku.
    “Aku tidak  mau barang-barang jelek itu,”  teriakku kepada keduanya, setelah Mas Gen  menutup telepon.
    “Tolong semua benda  ini dikembalikan ke  Rotana & Rotani….” Aku mengatakan itu dengan bertolak pinggang,  yang segera kuturunkan karena sadar bahwa kedua orang itu sama sekali tidak bersalah. Keduanya bekerja dalam diam, meski mungkin hatinya dongkol bukan main melihat kelakuanku.

    Tanpa bicara,  keduanya mengambil satu demi satu barang dari rumah, membawanya ke truk. Dengan tetap mencoba bersikap ramah, keduanya kemudian pamitan.
    Rasanya lega sekali ketika truk dari Rotana & Rotani itu meninggalkan halaman rumahku. Segera  aku mengambil  segelas air putih dan meneguknya tandas.  Sungguh  setengah  jam yang menegangkan. Pikiranku baru saja disesaki  tuduhan dan kemarahan kepada Mas Gen. Nyaris membakar akal sehatku. Saat Mas Gen datang nanti, aku akan memeluknya begitu ia keluar dari taksi. Tak peduli  ia penuh kuman, belum mandi,  dan belum cuci tangan. Tak peduli ia meronta karena aku bau bumbu dan asap dapur. 

    Di telepon tadi, Mas Gen bicara penuh kemarahan yang kudengarkan dengan kemarahan  yang tak kalah besarnya.  Ia bercerita tentang Pak Jamil, pengusaha furnitur Rotana & Rotani  yang  menemuinya di kampus. Ia meminta kepada Mas Gen, sebagai  sekretaris jurusan,  untuk membolehkan putranya ikut ujian akhir semester. Sementara  persentase kehadiran putranya hanya 25%, jauh dari yang seharusnya,  75%.  Mas Gen tentu saja  taat pada aturan. Pengusaha yang sayang anak itu ternyata berusaha  meluluhkan hati Mas Gen dengan mengirim satu truk furnitur rotan….

********
Ida Ahdiah



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?