Fiction
Pulung [8]

4 Jul 2011

<< cerita sebelumnya

“Oh, ternyata wanita lemah itu ibu kandungku. Akan kubawa dia tinggal di rumahini. Aku akan merawatnya. Aku telah utang cinta padanya. Bagaimana menurutSimbok?” Masih bersimbah air mata, aku meminta persetujuan wanita sepuh itu. Iamengangguk.

Hari ini, aku telah siap lebih awal. Aku akan pergi ke Yogyauntuk mengembalikan foto yang kemarin aku janjikan dan akan mengatakan sebuahkebenaran. Sebuah rahasia yang sekian tahun terpendam dengan rapi. Kubayangkan,apa yang akan dikatakan Pulung dan ibunya, ketika tahu bahwa akulah bayiperempuan yang terenggut itu.

Wanita itu masih berbaring lemah. Apa yang dikatakan Pulung ternyata bohong. Iabilang ibunya sudah lumayan baik, tetapi yang kulihat sungguh membuatkunelangsa. Pulung menunggui di sisi pembaringan. Wajahnya kusut. Ia bangkitberdiri, ketika aku masuk diantar seorang wanita setengah baya yang membantumenjagai dan merawat ibunya. Tak tahan oleh perasaan yang mengimpit, akulangsung menangis dan menubruk wanita itu.

“Rintan,” Pulung mengguncang punggungku, tetapi justru membuat tangisku makinmenjadi.

“Ibu... aku anak perempuanmu.” Suaraku serak, dadaku serasa hampir meledak. Iamembuka mata dan menatapku lama.

“Aku anak perempuanmu. Aku anak perempuan Rahayu yang menikah dengan kerisTumenggung Rekso Darmo.”

“Kau tahu nama ibuku?” Sekali lagi Pulung mengguncang bahuku. Aku tak maumelepas pelukanku pada wanita itu.

“Ibu, Namaku sebenarnya adalah Intan. Anakmu.”

“Intaaann...,” suara lirih wanita yang berbaring itu membungkam kami. Iaberusaha bangkit. Tangan kami segera menangkapnya.

“Ibu,” sebutku sekali lagi.

“Kau?”

“Ya. Aku Intan, anak Ibu yang dilarikan romoku untuk diberikan kepada ibuku, 28tahun lalu.”

Perempuan itu langsung meraihku dan kami satu dalam pelukan. Isak dan air matakami menyatu. Pulung membisu. Sepertinya ia belum sadar betul apa yang tengahterjadi.

Aku membaringkan Ibu kembali. Kukeluarkan foto yang pernah kucuri.

“Ibu mencari ini?”

Ia mengangguk. Tetapi, matanya tak melepasku barang sedetik. Seolah ia telahmembaca sejarah dan peristiwa yang terjadi di masa lalu. Bibirnyabergerak-gerak, entah apa yang ia gumamkan. Tangannya menggenggam lemah tangankiriku.

“Bagaimana bisa?” Pulung meraih foto itu. Aku terisak. Memeluk Ibu sekali lagi,lalu keluar kamar. Pulung menyusulku.

“Pulung,” kataku, begitu aku meletakkan tubuh ke kursi. Suaraku terbata. Laluia melingkarkan tangannya pada bahuku.

“Rintan.”

“Intan.”

“Bagiku Rintan atau Intan sama saja. Ternyata aku telah jatuh cinta pada adikkandungku. Hidup ini sungguh aneh. Ternyata harapan Ibu untuk bertemu denganputrinya telah terwujud. Sungguh sulit kupercaya ini.”

“Pulung, cintai aku. Jangan benci aku karena telahmembiarkan kakaknya dan ibunya menjadi begini. Bahkan, nyaris tak kupercayabahwa sebenarnya putra Romo bukan hanya Mas Bayu dan Mas Indra, tetapi MasPulung juga.”

“Bukan salahmu, Rintan. Selama bertahun aku selalu bertanya-tanya pada Tuhan.Mengapa Ia buat aku dan ibuku menjadi begini menderita. Tak bisa merasakankasih sayang ayah dan suami. Harus terpisah dari adik dan anak perempuan.Tetapi, kini....” Pulung memelukku. Erat, erat sekali.

“Rintan, mengapa kamu datang sendiri?”

“Sudah pernah kukatakan, Romo dan Ibu sudah meninggal. Sedangkan Mas Wisnu danMas Indra, mereka belum tahu semuanya. Aku berencana memberi tahu, setelahbertemu dengan Ibu dan kamu.”

“Ternyata aku memiliki dua saudara laki-laki. Seperti apakah wajah mereka?”

“Mereka tampan sepertimu.”

“Dan mestinya kamu ditemani calon adik iparku.”

Aku menunduk sedih. Hatiku teriris tatkala mengingat terakhir Bagas datang kerumah.

“Rintan, mengapa diam?”

“Aku telanjur mengatakan bahwa aku telah jatuh cinta lagi pada seorang pria.Dan, kukatakan lelaki itu adalah Pulung.”

“Oh! Begitukah? Kau nekat sekali!! Aku tak menyangka.”

“Dan sekarang ia pergi meninggalkan aku.”

“Jangan khawatir, aku harus menemuinya. Aku akan datang dan memberi penjelasan.”

“Bila jodoh, tak akan ke mana. Sekarang aku sedang memikirkan untuk membawa Ibuke Solo. Akan kuminta ia tinggal di rumahku.”

Advertisement

“Kurasa ia tak akan mau.”

“Kalau tak mau, berarti aku harus tinggal di rumah ini.”

“Tidak boleh!”

“Kau kakak yang jahat.”

“Kakak-kakakmu yang lain tak akan mengizinkan. Bukan hanya aku.”

“Aku akan memaksa.”

“Jika Ibu bersedia kau bawa, belum tentu kakak-kakakmu mau menerima. Ia bukanibu kandung mereka.”

“Dalam banyak hal, mereka selalu kalah denganku. Akan kusuruh mereka memilih:aku pergi atau mereka mengizinkan.”

“Kamu kepala batu.”

“Tetapi kamu mengaku jatuh cinta padaku, ‘kan?”

“Mana nomor telepon kekasihmu? Siapa namanya? Bagas... Bagaskoro. Nama yangbagus.”

Pulung tidak membual. Ia langsung menghubungi nomor telepon Bagas, namun takpernah aktif. Ketika aku menghubungi telepon rumahnya, ternyata Pak Atmo,sopirnya, mengatakan bahwa ia sedang pergi ke suatu tempat yang tak bolehdikatakan.

Ketakutanku menjadi kenyataan. Bahwa apa yang diharapkan Mbok Yekti dan Pulungtak teraih. Berkali aku bertanya pada sopirnya. Tetapi, ia tak pernah memberiketerangan yang berarti selain, “Pak Bagas akan menemui seseorang di luarnegeri. Mungkin kawan barunya. Belum tahu kapan pulang.”

Sopir itu sepertinya tahu apa yang telah terjadi antara aku dan Bagas. Karena,ia sering mengantar kami, jika bepergian. Tak menutup kemungkinan ia juga tahuaku telah berkhianat mencintai pria lain. Sehingga, ia tak rela, jikamajikannya disakiti.

Aku yang telah memulai penderitaannya, maka aku pula yang harus menebus danmenanggungnya. Sehingga, ketika kurasa perjalananku dengan Bagas menemui jalanbuntu, aku mendatangi sopirnya dan meminta maaf atas perlakuanku pada Bagas.Lalu, aku menceritakan kejadian sesungguhnya. Hanya itu. Karena aku sudah mulaidisibukkan oleh kondisi kesehatan Ibu yang memburuk.

Ibu tetap menolak kubawa pulang ke rumah Solo, meski aku sudah meyakinkan bahwaia pun wanita tercinta bagi Tumenggung Rekso Darmo, romoku. Betapapun akumembujuk, Ibu tetap menolak. Namun, aku lega, karena ia menurut, saat akumembawanya ke rumah sakit untuk dirawat di rumah sakit di Solo, bukan Yogya.Supaya aku bisa berdekatan dengannya.

Tak kusangka bahwa ternyata hari itu adalah hari terakhir aku melihatnya. Akubaru saja selesai memimpin rapat penting di rumah batik, ketika Pulungtiba-tiba meneleponku.

“Ibu memanggil-manggil namamu. Sepertinya Ibu akan pulang sekarang.” Hanya ituyang ia katakan. Tanpa mandi terlebih dulu, aku mengajak Mbok Yekti ke rumahsakit, dan segera menghubungi Mas Wisnu dan Mas Indra. Setiba di rumah sakitaku langsung ke bangsal Ibu. Benar kata Pulung. Ia sedang menyebut-nyebut namaIntan.

“Ini saya, Ibu. Ibu memanggil saya?”

Ia menggapaikan tangannya dan kusambut. Dingin dan beku. Sepertinya ada banyakyang ingin ia katakan, tetapi tak sanggup. Aku memeluknya. Dan itulah pelukanterakhir kali.

Tepat ketika suster penjaga menarik kain putih dan menutup seluruh tubuh Ibu,Mas Wisnu datang bersama Mas Indra. Dan, di belakangnya menyusul Pak Atmo, danastaga! Aku tertegun. Lelaki itu bergegas mendekatiku dan memelukku.

“Aku turut berduka cita, Rintan.”

“Bagas, maafkan aku.”

“Rintan, aku menyesal tak sempat bicara dengan ibumu. Menyesal karena belumsempat memintamu darinya. Sekarang terlambat.”

Waktu-waktu berikutnya adalah kesibukan. Kesibukan menyiapkan upacarapemakaman. Sehingga, di antara kami tak sempat berkisah satu sama lain. Tetapi,yang pasti aku melihat Pak Atmo sangat sibuk mengatur mobil jenazah dan segalaperanti yang harus dibawa ke pemakaman. Bagas dan Pulung duduk berdampingan.Berjajar dengan Mas Wisnu dan Mas Indra.

Aku duduk berjajar dengan Mbok Yekti, serta kakak-kakak iparku. Barangkalimereka belum tahu betul siapa dan seperti apa wanita yang berbaring di dalampeti yang ditutup kain putih itu. Tetapi, aku merasakan dukacita mendalammelingkupi rumah ini. Entah karena wanita yang meninggal itu, atau karenaperjalanan keluarga besarku.

Di sisi tanah merah yang menggunduk, bunga-bunga yang tertabur di atasnya masihbegitu segar. Sesegar ingat­anku tentang hari-hari terakhir bersama seseorangyang berbaring di dalam sana. Juga tentang kemarahan Bagas akan pengakuanku.Tentang Mbok Yekti ketika menuturkan siapa sebenarnya aku. Dan aku tertundukkala mengingat pertama kali Pulung datang pada suatu sore bersama seorangturis.

Kini ada dua lelaki berdiri di sebelahku. Seorang memeluk bahuku, seorang lagimemeluk pinggangku.
Gerimis datang, kembang kemboja putih jatuh tepat di depan kami. Kudengar Bagasberkata pelan, seolah enggan memecah keheningan.

“Pulung, di depan makam ibumu. Di hadapanmu. Aku meminta Rintan untuk kauizinkan menikah denganku.”

“Sedari awal aku tahu kaulah yang terbaik baginya. Ambillah! Aku yakin Ibumerestuinya.” Aku makin menunduk.
Pulung, tanpa kau datang sore itu, tentu selamanya aku tak akan pernah tahusejarah hidupku, tak tahu riwayat yang tersimpan dalam keluarga besarku. Tanpakau datang, aku tak akan pernah tahu sejarah wanita-wanita yang membentuk aku.

“Kita akan langsung ke makam Romo dan Ibu.” Dengan suara serak, Pulung berbisikdi telingaku. (tamat)

Penulis: Indah Darmastuti


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?