Lelaki di depan loket itu tampak kecewa. Tiket kereta yang dicarinya tak didapat. Dibenahinya topi hitam yang menutupi sebagian rambut berubannya.
“Tapi dulu Prameks berangkat tiap jam,” ujarnya, bersikukuh.
“Betul, Pak. Tapi sekarang tidak lagi,” ujar penjaga loket. “Atau Bapak ingin naik kereta Sriwedari? Tiketnya dua puluh ribu rupiah, keretanya ber-AC. Atau Madiun Jaya? Sama-sama sampai Solo, Pak. Daripada menunggu Prameks, terlalu lama,” ujarnya lagi.
Lelaki tua itu menggeleng cepat. “Tidak, tidak. Prameks saja.”
Ia hampir meninggalkan loket ketika baru selangkah ia berbalik lagi. “Apakah besok Prameks ada berangkat jam-jam ini?”
Penjaga loket sedikit terkejut. Dikiranya lelaki tua itu telah pergi. “Selain pagi jam tujuh dan malam jam tujuh, paling hanya sore, Pak, jam 15.00. Itu pun kalau kereta tak terlambat atau malah tak jadi berangkat,” ujar penjaga loket.
Lelaki tua itu mendesah. Mengusap wajahnya dengan sapu tangan abu-abu, lalu melangkah menuju bangku penunggu. Duduk di sana sambil terus memegangi tongkat pendeknya. Sesekali topi hitamnya dinaikturunkan. Lalu keringat yang mengembun di dahi ia seka. Kadang-kadang ia membuka topinya sebentar. Mengipas-ngipas wajah dengannya kemudian memakainya lagi. Seluruh rambutnya benar-benar telah memutih. Kontras sekali dengan dua buah batu akik hitam yang menghiasi cincin di jari tengah dan manis tangan kanannya.
***
LELAKI ITU LELAH. Tapi tak mau menyerah. Sebenarnya ia sangat menyesal. Kalau saja ia bangun lebih awal pagi tadi dan tiba di stasiun ini sebelum jam tujuh, pasti sekarang ia sudah sampai di tempat tujuannya, Solo. Bisa saja ia ke Solo dengan naik kereta lain seperti yang disarankan penjaga loket itu atau malah naik bus jurusan Yogya – Surabaya atau juga bus-bus kecil Yogya – Solo yang berangkat tiap saat. Tapi, lelaki itu tak mau. Maunya naik kereta Prameks, Prambanan Ekspres. Sama-sama bisa mengantarnya sampai Solo, tapi kenangannya tak sama. Ya, lelaki itu mencari kenangan. Ia ingin bernostalgia.
Lebih dari lima puluh tahun yang lalu, ia bertemu Hastari, perempuan yang kemudian menjadi istrinya, di dalam kereta Prameks. Juga dari Yogya menuju Solo. Lelaki yang baru tiba di Yogya untuk belajar di Universitas Gajah Mada itu tak biasa dengan sesaknya kereta ekonomi. Maklum, ia berasal dari keluarga yang berpunya. Dari Jakarta, ia diantar sopir ayahnya menggunakan mobil pribadi yang terbilang mewah di masa itu. Sekalian memboyong barang-barangnya dari Jakarta menuju rumah kos dekat kampus.
Dan hari itu, ia berniat memulai petualangannya sebagai anak rantau. Kata seorang kawannya yang telah terlebih dulu menimba ilmu di Yogya, belum sampai Yogya kalau belum merasakan tiga hal. Jalan-jalan di Malioboro, makan gudeg, dan naik kereta Prameks. Maka di dalam kereta itulah ia saat itu.
Sedang sesak-sesaknya kereta, seorang perempuan paruh baya yang membawa tiga ekor ayam hidup mendesak ke dekat bangkunya. Membuat kereta makin sesak dan udara kian pengap oleh bau khas ayam serta beberapa helai bulu halusnya yang rontok beterbangan. Lelaki itu, yang duduk terimpit di dekat jendela, makin terimpit. Sementara ruang kosong di antara bangkunya dengan bangku yang berhadapan dengannya, telah penuh oleh kardus-kardus dan karung-karung goni entah milik siapa. Hingga lelaki itu nyaris ingin mengumpat lantaran kakinya mesti setengah tertekuk.
Tadinya, lelaki itu abai pada orang-orang di sekelilingnya, kecuali pada perempuan paruh baya yang membawa tiga ekor ayam dan membuat kereta makin sesak dan pengap itu. Tapi, ketika sesosok perempuan seumuran dirinya tiba-tiba berdiri dan menyerahkan tempat duduknya pada perempuan paruh baya pembawa ayam hidup itu, barulah lelaki itu sadar. Ada makhluk manis yang sedari tadi duduk di bangku seberangnya, di tepi lorong kereta tempat orang-orang berjejalan.
Lalu perempuan paruh baya itu duduk menggantikan perempuan manis itu. Beserta ayam-ayamnya. Menyadarkan lelaki itu dari keasyikannya memandangi si perempuan manis. Selembar bulu halus ayam itu terbang dan mengilik lubang hidungnya. Ia kegelian. Mengusap-usap hidungnya dan menahan bersin berkali-kali. Lagi-lagi ia ingin mengumpat.
Beberapa saat sibuk dengan hidungnya, lelaki itu lalu mengangkat wajah. Ia terkesiap ketika didapatinya makhluk manis yang kini berdiri itu tengah memandanginya sembari menahan tawa. Lalu tawa yang ditahan itu retak menjadi seulas senyum menawan manakala mata mereka bersirobok. Lelaki itu salah tingkah.
***
Untunglah, di Stasiun Delanggu perempuan paruh baya pembawa tiga ekor ayam hidup itu turun. Lelaki itu lega sekali. Kelegaannya bertambah jadi senang ketika makhluk manis itu kembali duduk di seberangnya.
“Tidak terbiasa naik kereta ekonomi, ya?” tanyanya.
Wajah lelaki itu memerah. Lalu mengangguk malu-malu. “Baru di Yogya,” ujarnya. “Pram,” ia mengulurkan tangan lebih dulu.
Kesempatan bagus untuk berkenalan sekaligus menutupi rasa malunya. Terkesan terlalu kolokan, sudah sebesar itu masih tak terbiasa dengan kendaraan umum. Tapi sepertinya perempuan itu memaklumi.
“Hastari.”
“Mau ke Solo?” tanya lelaki itu.
Perempuan itu mengangguk. “Kau?”
“Sama,” ujar lelaki itu. “Sering ke sana?”
Lelaki itu menggeleng. “Tidak. Hanya jalan-jalan. Mencoba Prameks.”
Lalu mereka berbincang-bincang akrab sekali seperti telah lama mengenal. Meski perempuan itu masih terlihat sungkan. Malu-malu. Mungkin bawaan sifatnya yang asli Yogya. Ada sedikit darah Solo dari kakeknya garis ibu. Di Stasiun Balapan, Solo, keduanya turun. Perempuan itu melanjutkan perjalanan ke rumah kakeknya, sedang lelaki itu membeli lagi tiket Prameks untuk pulang ke Yogya.
***
Lalu keduanya sering bertemu di dalam Prameks-Prameks yang lain. Perempuan itu naik dari Stasiun Lempuyangan, sedang lelaki itu dari Stasiun Tugu. Mulanya hanya kebetulan bagi perempuan itu. Tapi bagi si lelaki memang disengaja. Ia sengaja kerap naik Prameks Yogya – Solo, berharap bertemu lagi dengan perempuan itu. Hastari namanya. Ia rekam baik-baik nama itu di ingatannya. Juga hatinya.
Seiring waktu mereka mulai kerap membuat janji bertemu. Di hari Minggu atau hari-hari libur lainnya. Seperti saat lelaki itu libur kuliah. Di kereta Prameks yang berangkat dari Yogya menuju Solo. Pertamanya, lelaki itu hanya ikut saja ke rumah kakek Hastari. Paling lama satu jam, lalu pulang lagi ke Yogya. Kadang-kadang bersama Hastari lagi, terkadang juga sendiri jika Hastari mesti bermalam di rumah kakeknya.
Di pertemuan-pertemuan berikutnya, tak selalu ke rumah kakek Hastari. Mereka masih bertemu di kereta Prameks, tapi sering kali sengaja untuk jalan-jalan. Ke mana saja seputaran Solo. Kadang-kadang hanya makan bubur lemu jika kebetulan mereka berangkat dengan kereta Prameks paling pagi. Lalu jalan-jalan sampai siang sebelum kembali lagi ke Yogya Lain waktu sengaja berangkat siang menjelang sore. Menikmati tengkleng Solo yang terkenal atau nasi liwet, lalu kembali ke Yogya sebelum larut malam.
TUJUH TAHUN KEMUDIAN setelah lelaki itu jadi insinyur, mereka menikah dalam sebuah pesta pernikahan yang sederhana. Keduanya memutuskan untuk menetap di Yogya saja. Lelaki itu bekerja di sebuah kantor yang membangun jalan-jalan. Keduanya masih sering berkereta menuju Solo saban hari libur. Bila pun terpaksa tidak, itu hanya karena lelaki itu mesti lembur kantor atau istrinya tengah mengandung tua.
Dan setelah menjadi sepasang suami-istri, dalam tiap perjalanan mereka menuju Solo dan kembali lagi ke Yogya, mereka membangun impian-impian berdua. Lalu menyusun rencana-rencana. Tentang berapa jumlah anak yang mereka inginkan. Rumah mungil dengan taman di belakang atau samping rumah. Tanaman buah dalam pot dan jenis-jenis bunga yang akan mengisi halaman rumah dan taman mereka. Pendidikan untuk anak-anak. Rencana masa tua. Menabung untuk membangun rumah di kaki Merapi. Semuanya terjadi di dalam kereta Prameks.
***
TAPI LIMA TAHUN LALU, perjalanan Yogya–Solo dengan kereta Prameks itu terhenti. Istrinya terkena stroke yang membuat sebagian tubuhnya lumpuh, tentu termasuk kakinya. Jangankan berkereta, duduk saja istrinya sulit. Pun lelaki itu tak akan pernah meninggalkan istrinya walau sesaat, hanya untuk berkereta seorang diri. Bahkan ia memilih pensiun dini dari pekerjaannya dan membeli kebun salak serta ternak sapi agar dapat menunggui istrinya di rumah. Perawatan kebun salak dan ternak sapi itu diserahkannya pada orang-orang sekitar yang ia bayar.
Lagi pula, untuk apa berkereta seorang diri Yogya-Solo dan kembali lagi ke Yogya? Bukankah selama ini perjalanan berkereta yang ia lakukan hanyalah demi bisa berdua-dua bersama perempuan bernama Hastari itu? Bahkan sejak keduanya melajang hingga akhirnya menikah dan beranak pinak. Maka lelaki itu memilih setia di samping ranjang istrinya atau mendorong kursi rodanya jika istrinya tampak penat di dalam rumah.
Paling hanya menengok taman di belakang rumah yang kini telah penuh oleh bunga-bunga. Tentu bunga-bunga yang mereka pilih dulu dalam perjalanan dengan kereta Prameks. Atau halaman depan yang telah rindang oleh tanaman-tanaman buah dalam pot. Tentu tanaman-tanaman buah yang dulu mereka angankan dalam perjalanan dengan kereta Prameks.
***
SETAHUN LALU, istrinya berpulang. Lelaki itu sedih bukan main. Berbulan-bulan ia tenggelam dalam duka yang panjang. Istrinya pergi membawa seluruh hatinya. Meninggalkan kenangan yang sarat. Lalu malam tadi, lelaki itu merasa begitu rindu. Pada istrinya yang tak mungkin lagi ia temukan paras manisnya. Ketika foto dan doa-doa tak mampu lagi memuaskan dahaganya, lelaki itu memilih kembali pada kenangan. Pada kereta Prambanan Ekspres yang dulu setia membawa mereka dalam perjalanan.
***
“Koran, Pak, buat baca-baca.”
Lelaki itu tersentak. Penjual koran meletakkan beberapa koran di pangkuannya. Lelaki itu sedikit mengangkat topinya, menyeka seluruh wajahnya dengan saputangan abu-abu. Kemudian melirik jam bundar di dinding ruang tunggu. Jam 14.00. Keretanya belum juga datang. (f)
Marliana Kuswanti