Celebrity
Pindah Kuadran

30 Dec 2014


    Namanya Hamish Daud Wyllie (34). Wajahnya mulai banyak menghias sampul depan dan halaman berbagai majalah gaya hidup bergengsi. Pria yang melejit sebagai host acara traveling di salah satu TV swasta ini menjadi gambaran ideal sosok pria petualang yang tak hanya berhasil menaklukkan keliaran alam Indonesia yang menawan, tapi sekaligus hati banyak wanita yang terpikat oleh ketampanan dan kesederhanaannya. Kepada femina, Hamish, yang turut membintangi film Supernova, membagikan beberapa rahasia kecil hidupnya.

PINDAH KUADRAN
Hamish dan motor besar. Keduanya seperti tak terpisahkan. Begitulah media kerap merekam sosok pria macho yang gemar bertualang ini. Hamish yang besar di Bali memang lebih memilih ke mana-mana berkendara dengan motor Triumph klasik kesayangannya di Kota Jakarta yang selalu macet ini. Wajah tampan dan pembawaannya yang cool mengingatkan orang pada sosok aktor Marlon Brando, icon pria seksi tahun ‘60-an yang juga gemar berpose di atas motor.
Siang itu,  ia lebih memilih datang dengan taksi ke kantor redaksi femina, karena  langit Jakarta memang baru saja diguyur hujan dan pagi itu ia baru mendarat dari Bali.
“Tadi berangkat jam lima pagi dari Bali, transit sebentar di Surabaya, lanjut Jakarta, dan setelah mendarat langsung ke studio Trans TV untuk rekaman voice over,” papar Hamish, yang siang itu terlihat sangat santai dengan padanan kasual kaus oblong, celana jeans, dan sepatu sneaker.
Jika melihat sekilas mungkin orang akan terkecoh oleh penampilannya yang lebih mirip petualang backpacker ketimbang aktor yang tengah naik daun. Begitu tiba di studio foto femina, ia langsung menumpahkan seluruh isi rucksack hitam yang dibawanya ke atas lantai untuk mencari sepasang kemeja yang akan ia kenakan untuk sesi pemotretan. “Kalau orang Bali bilang, saya ini krosok,” kata Hamish, menerangkan pembawaannya yang sedikit asal dan berantakan ini.
Dengan wajah bersalah, ia mengangsurkan dua kemejanya yang kusut dan perlu disterika. Di tengah kepulan uap steamer, kami pun menghabiskan waktu sepanjang siang itu dengan mengobrolkan banyak hal. Salah satunya, tentang keputusannya untuk mengambil waktu sabbatical, cuti dalam masa yang panjang, dari dunia karier arsitektur demi menjajal ketertarikannya di dunia seni peran dan TV show.
“Saya menggeluti dunia desain dan arsitektur dengan tingkat keseriusan 500 persen! Bahkan, di masa sabbatical seperti sekarang, saya tetap mempromosikan dan menjaring klien atau proyek baru. Hanya jam kerja di lapangan yang sangat berkurang,” jelas Hamish, yang tak keberatan penghasilannya harus sedikit turun karenanya.
Advertisement
Kiprah lulusan Liberal Arts dari Southern Cross University, Australia, ini di dunia desain tidak main-main. Ia pernah menjabat sebagai creative director di salah satu perusahaan furniture terbesar di Bali, Tarita. Dan tujuh tahun belakangan, ia bergabung sebagai design principle di Saka Group, perusahaan arsitektur asal Bali yang juga berkantor di Yogyakarta.
“Saya bersyukur punya rekanan kerja yang lebih dekat daripada keluarga. Mereka memberi saya kesempatan untuk menjajal sesuatu yang baru, di dunia entertainment. Karena fokus utama saya di dunia arsitektur, kapan pun saya mau, saya bisa kembali ke dunia ini,” lanjut pria yang suka diam-diam menguping komentar jujur orang-orang saat menilai hasil jerih payah desainnya.
Perkenalannya dengan dunia peran berawal dari ajakan Happy Salma, istri seorang sahabatnya, untuk ikut berperan dalam Description Without Place (2012) yang disutradarai Richard Oh. Di film indie yang bertutur tentang pencarian kebahagiaan dan persimpangan nasib tiga individu beda bangsa di kolong langit Bali ini, Hamish memerankan tokoh Rwa, seorang fotografer profesional.
Pria atletis berkulit tanned ini seolah terseret oleh sihir sorot kamera dan tantangan eksplorasi peran pada pengalaman pertamanya ini. Sejak saat itu, berbagai tawaran peran pendukung mulai diambilnya. Perannya sebagai Rangga, pria yang pernah mati suri di film omnibus Rectoverso membuka lebar pintu kesempatan di dunia akting.
“Di Rectoverso peran saya memang kecil, tapi film ini mendapat banyak ulasan media karena akting hebat Lukman Sardi yang berhasil memenangkan penghargaan Pemeran Utama Pria Terbaik di Indonesia Movie Awards 2013,” ujar Hamish, yang ikut kecipratan perhatian dari media.
Di film terbarunya, Supernova, Hamish membawakan karakter Dimas, mahasiswa Indonesia penyuka sesama jenis yang telah 12 tahun menjalin kasih dengan Reuben, seorang ilmuwan, yang diperankan oleh aktor Arifin Putra. Di film ini keduanya berkolaborasi membuat sebuah novel ilmiah, yang karakter ceritanya mengejawantah dalam kehidupan nyata.
Ia mengakui, tantangan terbesarnya di film ini justru bukan tentang bagaimana mewujudkan gambaran vulgar awam terhadap sosok gay, tetapi lebih kepada bagaimana membawa kisah percintaan sesama jenis ini ke level yang lebih tinggi, melalui chemistry bahasa tubuh dan pemikiran.
“Dua orang yang telah menjalin hubungan selama belasan tahun mampu saling membaca pikiran. Seperti, menyelesaikan  tiap ucapan dari pasangannya. Tanpa diminta ia tahu dengan pasti berapa banyak gula dalam secangkir kopi yang diinginkan pasangannya,” terang Hamish, yang justru lebih merasakan beban mental untuk bisa menjiwai sesuai gambaran karakter yang tertuang dalam novel karya Dewi ‘Dee’ Lestari ini.
“Masih banyak jenis peran yang ingin saya eksplorasi. Misalnya, sebagai penyandang disabilitas, seperti orang buta, lumpuh, atau bahkan seorang psikopat,” ujar Hamish, optimistis akan mendapatkan kesempatan ini.(Naomi Jayalaksana)



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?