Trending Topic
Pilih Yang Sehat

1 May 2014


Sebagai konsumen, Ir. Wida Winarno – Ahli Teknologi Pangan, Direktur PT. Mbrio mengingatkan, kita juga harus menjadi konsumen yang pintar. “Dengan beragamnya makanan instan yang ada saat ini kita memang harus benar-benar memperhatikan makanan instan yang kita pilih. Lihat label kemasannya, apakah telah memiliki izin resmi. Tak bisa dipungkiri, harga juga menjadi penentu kualitas pangan tersebut. Penggunaan bahan-bahan yang kurang berkualitas, tentu saja bisa menekan harga menjadi lebih murah,” jelas Wida.

Lantas, apakah makanan instan yang sudah beroleh izin dan dianggap aman itu sehat? Menurut Dr. Inayah Budiasti S., MS SpGK, ahli Gizi, makanan yang sehat adalah makanan yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. Kadar gizi sebuah makanan ini sangat dipengaruhi oleh proses pengolahannya. “Makanan yang kadar gizinya bagus adalah makanan yang cepat terhidang. Misalnya, sayuran, yang gizinya paling kaya itu yang sehabis dipetik langsung dimasak,” kata Dr. Inayah.
Berbeda dengan makanan instan. Menurutnya, kandungan gizi pada makanan instan sudah tidak optimal lagi. Selain telah bercampur dengan bahan pengawet dan bahan tambahan lain, bahan makanan yang digunakan pun telah melalui proses pengolahan  cukup panjang sehingga kadar vitamin dan mineralnya sudah berkurang. “Jadi, bagi mereka yang  tiap hari mengonsumsi makanan instan, kecukupan gizinya harus dipertanyakan. Untuk menjaga kesehatan, tubuh membutuhkan asupan gizi yang baik dan seimbang,” jelas Dr. Inayah.
Lebih lanjut Dr. Inayah menjelaskan, tiga zat gizi utama, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak,  sangat dibutuhkan oleh sel-sel tubuh karena menjadi makanan utama bagi sel-sel tubuh. Oleh karena itu, ‘makanan’ bagi sel tubuh ini haruslah yang memiliki kualitas terbaik. Pada makanan instan, kita patut mempertanyakan bagaimana kualitas karbohidratnya, proteinnya, serta lemaknya. Apakah bahan-bahan dasar yang digunakan adalah yang terbaik.

Dijelaskan pula oleh Wida, saat proses pengolahan pangan, beberapa zat gizi bisa berkurang, sesuai dengan sifat zat gizi tersebut. Karena tuntutan masyarakat akan tambahan gizi dalam makanan, maka diakui Wida, saat ini  makin banyak produsen yang menambahkan vitamin tambahan dalam produknya.

“Vitamin asli itu ada, tapi jumlahnya jauh berkurang. Namun, kemudian pangan tersebut difortifikasi dengan vitamin sehingga menambah kandungan gizinya. Bedanya, vitamin yang alami punya sifat-sifat tertentu, misalnya peka terhadap panas dan cahaya atau larut dalam air, sedangkan vitamin tambahan yang difortifikasi sifatnya lebih stabil,” jelas Wida.  

Tubuh juga membutuhkan serat yang bisa didapat dari karbohidrat kompleks, sayur, dan buah. Pada makanan instan, umumnya menggunakan tepung-tepungan yang merupakan karbohidrat simplex. Sedangkan tubuh lebih membutuhkan karbohidrat kompleks daripada karbohidrat simplex (karbohidrat yang kalorinya tinggi, namun kandungan gizinya lebih rendah, misalnya, beras putih). Memang, kini bisa juga ditemukan makanan dan minuman instan yang mengklaim memiliki kandungan serat tinggi. “Pada prosesnya, makanan instan seperti itu ditambahkan unsur serat yang didapat dari agar-agar,” jelas Dr. Inayah.

Advertisement
Selain itu, Dr. Inayah juga mengkhawatirkan tambahan zat pengawet pada makanan instan yang umumnya memiliki kadar natrium tinggi. Kadar natrium yang tinggi di dalam tubuh akan menyebabkan terjadinya penimbunan cairan. Dalam satu hari sebenarnya tubuh hanya membutuhkan 2 mg natrium. Konsumsi yang berlebih akan menimbulkan dampak jangka panjang bagi kesehatan, seperti meningkatkan tekanan darah.
Selain pengawet, tambahan zat seperti MSG juga bisa berbahaya jika dikonsumsi secara berlebihan. Menurut Codex Alimentarius Commission (CAC) seseorang dengan berat badan 40 kg atau lebih masih belum terganggu kesehatannya bila mengonsumsi MSG sekitar 6 g per hari. Dengan dosis lebih dari 5 g per hari akan muncul gejala kebanyakan MSG, seperti pusing, mual, berkeringat, meriang, dan sebagainya. “Tapi perlu diingat, kadar MSG bagi  tiap orang itu bisa berbeda-beda,” kata Wida.

Bagi mereka yang senang mengonsumsi makanan instan, mi instan misalnya, ada yang menyiasati untuk mengurangi kadar pengawet dan MSG yang masuk ke dalam tubuh dengan membuang air rebusan mi yang pertama, dan kemudian merebus kembali mi dengan air yang baru. Menurut Wida, hal ini memang bisa saja menghilangkan bahan pengawet, tapi jika mi tersebut telah difortifikasi dengan berbagai vitamin, maka vitamin fortifikasi tersebut akan larut bersama dengan air yang dibuang.

Menurut F.G. Winarno, profesor di bidang teknologi pangan, dalam bukunya yang berjudul Buku Putih Panduan Tanya Jawab Mi Instan (untuk kalangan awam), dijelaskan bahwa mengonsumsi mi instan secara tunggal dan terus-menerus dapat menyebabkan tubuh kekurangan beberapa zat gizi. Pada dasarnya, tidak ada satu pun makanan di dunia yang secara utuh mampu memenuhi seluruh zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. Mi instan, menurutnya, paling tepat disajikan sebagai makanan pengganti nasi, jadi masih diperlukan bahan makanan lain bila digunakan sebagai menu sehari-hari.

Apakah makanan instan meninggalkan residu tertentu di dalam tubuh? Menurut Wida, tubuh manusia memiliki sistem kerja yang lebih kompleks. “Selama masih dikonsumsi dengan sewajarnya atau sesekali saja, tidak ada efek jangka panjangnya,” jelas Wida.
Pendapat berbeda diungkapkan oleh Dr. Inayah. Menurutnya, memilih makanan alami yang dimasak sendiri, apa pun itu, jauh lebih baik ketimbang mengandalkan makanan instan. “Kalau dilihat dari sisi praktis dan cepat, makanan instan memang paling bisa diandalkan. Tapi,  soal makanan yang dibutuhkan tubuh, sesungguhnya adalah zat gizi yang terkandung di dalam makanan tersebut. Jadi, agar zat gizi terpenuhi, sebaiknya mengonsumsi makanan yang alami,” jelasnya.

Kalaupun terpaksa mengonsumsi makanan instan, menurut Dr. Inayah, pilihlah makanan yang memiliki kualitas bagus. Misalnya, lebih baik memilih sarapan dengan sereal instan karena masih memiliki kandungan serat yang dibutuhkan tubuh. Tapi, tambahkan susu atau buah-buahan  untuk memperkaya nilai gizinya. Selain itu, mengombinasikan makanan segar yang berbeda-beda juga akan menambah nilai gizi di dalam tubuh. (FAUNDA LISWIJAYANTI)




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?