Aku terkelu di ambang pintu. Mataku menumbuk sebuah kursi kayu di samping tangga. Kosong. Hampa. Di situlah Ibu biasanya duduk, selepas mengerjakan berbagai urusan rumah, sembari membaca buku, koran, atau majalah. Ia menunggu Bapak dan anak-anaknya pulang, atau siapa saja yang datang mengetuk pintu depan.
Selama puluhan tahun Ibu melakukannya, mungkin sejak hari pertama menghuni rumah ini. Hingga sebulan lalu, ketika tubuh rentanya habis daya melawan penyakit yang sudah lama menjajahnya. Jenazah Ibu yang tersenyum itu meyakinkanku, juga tiga kakakku, bahwa Ibu hidup bahagia sampai di ujung usianya.
Tanganku mencekal handel pintu yang keras dan dingin, mataku tetap mengawasi kursi di samping tangga. Aku berharap mendengar suara kaki Ibu turun menapaki anak tangga, lalu duduk di kursi itu, menungguku.
“Lulu. Kamu sudah datang? Sini!” Teriakan kakak sulungku, Mbak Fifi, dari lantai atas, tak sabar menyuruhku membantunya memberesi barang-barang Ibu dan menata ulang perabotan.
Sebenarnya aku enggan memindah-mindah barang di rumah ini, rumah keluarga kami. Ibu meninggal belum genap 40 hari. Aku yakin ruh Ibu, atau apa pun namanya, masih berada di sini, duduk khusyuk di samping tangga, di atas kursi kayu yang bantalannya berlapis kain beledu biru.
Kututup pintu depan pelan-pelan, seakan khawatir membangunkan Ibu yang tak jarang jatuh tertidur dalam duduknya, dengan sepasang tangan terkulai di pangkuannya, menyangga bacaannya.
“Tugasmu mengumpulkan buku-buku, dikembalikan ke rak. Kalau tidak cukup dimasukkan kardus itu,” perintah Mbak Fifi, tanpa menoleh ke arahku yang muncul dari tangga.
Kulihat setumpuk kardus yang digepengkan, baru dibeli dari minimarket di ujung jalan. Mungkin Mbak Fifi membeli sendiri kardus-kardus itu, atau mungkin Yu Suti, pembantu yang sudah puluhan tahun bekerja di rumah ini.
Kukumpulkan buku-buku dari empat kamar di lantai dua, kamar-kamar yang dulu kami tempati.Sejak Bapak meninggal, 10 tahun lalu, Ibu tidur berpindah-pindah, tak hanya di kamar mereka di lantai bawah. “Supaya rumah ini tetap hidup. Kamar yang dibiarkan kosong lama biasanya mati. Jadi dingin. Senyap. Salah-salah dihuni lelembut,” katanya. Mungkin Ibu benar. Meskipun bertahun-tahun rumah ini hanya dihuni dua orang, Ibu dan Yu Suti, namun semua ruangannya tetap hangat, kamar-kamarnya tidak nyenyat, dan selalu bau manusia.
Buku-buku di tiap-tiap kamar yang sekarang kutumpuk di atas meja ruang duduk di lantai dua itu semuanya berdebu.Sudah dua tahun benda-benda di sinitak tersentuh tangan Ibu, sejak ia kesulitan naik tangga. Mungkin Yu Suti, yang diminta Ibu menggantikannya menempati kamar-kamarnya, lupa membersihkannya. Demikian halnya aku, dan mungkin tiga kakakku, tiap kali mengunjungi Ibu dan merapikan kamar-kamar, buku-buku itu tak tersentuh.Setelah kukumpulkan jumlahnya ada seratusan.
“Jangan cuma dipelototi,” tegur Mbak Fifi, yang naik-turun tangga entah sudah berapa kali.
“Lihat. Banyak sekali. Tiga rak itu tidak bakal cukup karena yang dua sudah penuh,” kataku, sembari membaca judulnya satu persatu.
“Sudahlah. Tidak usah dibaca-baca,” omel Mbak Fifi tidak sabar melihatku meneliti buku-buku Ibu.
Aku pura-pura tidak mendengarnya. Mungkin ia geram karena hanya aku yang mau menuruti perintahnya membereskan rumah ini. Dua adiknya yang lain, kakak-kakakku, menolak ajakannya. Belum tega, kata mereka.
***
Aku yakin semua isi buku-buku ini telah terekam ke dalam benak Ibu.
Mereka pernah berada di pangkuannya, mungkin ia dekap di dada, sambil duduk di samping tangga, menunggu Bapak pulang dari kantor atau kami tiba dari sekolah. Sambil membersihkan debunya, terbayang wajah mungil Ibu semasa masih sehat dan kuat, berhias senyum dan sorot mata sehangat dan seempuk nasi yang baru selesai ditanak. Kuingat pula aroma bawang putih dan loncang – dan sesekali panili atau mentega – menguar dari tubuhnya, saat ia berdiri dari kursi di samping tangga, menyambutku dalam pelukannya.
Kutimang sebuah novel Orhan Pamuk, The White Castle, salah satu buku yang kubeli untuk hadiah ulang tahunnya. Dalam gerak lambat kulihat Ibu di samping tangga, meletakkan buku itu di meja dekat kursi, lalu berdiri, matanya menatapku yang muncul di ambang pintu, senyumnya merekah indah, lengannya terbentang senang, siap mendekapku ketat dan hangat.
Ibu mengenalkanku pada penulis-penulis besar yang namanya dicatat sejarah dengan tinta emas.Kalau tidak, sebagai apoteker aku hanya hapal nama-nama bahan kimia dan bahayanya bagi manusia bila dikonsumsi tanpa ditakar oleh tangan ahli.
Air mataku mengalir menyusuri pipi, bermuara di pundakku. “Aku masih merasakan Ibu ada di rumah ini. Duduk di samping tangga, membaca novel entah apa, menunggu kita.”
“Hei…. Hei….” Mbak Fifi memelukku. “Aku hanya ingin memberesi rumah kita. Itu saja. Aku juga tetap sayang Ibu.” Sebelum turun,ia mengelus pundakku.
Lamat-lamat kudengar kakakku itu bicara dengan Yu Suti, di dapur. Sejak kecil Mbak Fifi serba praktis, semuanya diukur dengan logika, jarang memakai emosinya. Aku paling dekat dengan Ibu. Mungkin karena bungsu.Sewaktu kecil aku kerap dilindungi Ibu dari kenakalan tiga kakakku. Bila kami main petak umpet di halaman rumah yang luas dan lindap oleh berbagai jenis tanaman, mereka gemar mengusiliku, meninggalkanku sendirian. Aku pasti menangis dan berlari masuk ke rumah dari pintu depan. Di sana aku tahu ada Ibu, yang selalu siap menyambutku dalam dekapannya.
***
Buku-buku Ibu sudah bersih semua.
Yu Suti dan Mbak Fifi ada di dapur, memasak sesuatu yang kami suka.Sambil masih memikirkan Ibu, kuturuni anak tangga satu persatu.Kulihat Ibu duduk di kursi kayu itu, tepat di samping anak tangga terbawah, mengenakan gaun katun lengan pendek warna pastel bersaku satu di sisi kanan sedikit di atas pinggang. Semenjak kami berempat berumahtangga, di saku itu Ibu suka mengantongi kunci pintu depan, berjaga-jaga bila Bapak lupa membawa kunci atau anak-anaknya mengunjungi.
Sepeninggal Bapak, kami makin kerap mampir ke rumah ini sepulang kantor, atau kapan saja kami suka, untuk membuat Ibu bahagia. Kecuali sedang sakit atau bepergian,seharian Ibu akan duduk di samping tangga, membaca. Bila menonton acara TV atau mendengarkan radio, Ibu akan membalikkan kursinya, menghadap pesawat TV dan radio yang ditaruh di atas meja bundar besar di ruang tengah. Di atas meja itu juga ada setengah lusin stoples berisi aneka kue dan keripik untuk siapa saja, anak-anak dan teman-temannya.
Tidak seperti aku, si anak bungsu, semasa hidupnya Ibu tak punya mimpi untuk diri sendiri. Katanya sandang, pangan, dan papan telah ia miliki; juga empat anak yang menurutnya tumbuh sempurna dan suami yang setia. Mau apa lagi, ucapnya, dengan sorot mata yang amat kukenal itu. Satu-satunya barang atau kesenangan yang ia inginkan adalah buku dan bahan bacaan lain semacam koran dan majalah. Ibu pembaca yang rakus, sehari ia bisa menamatkan satu sampai tiga buku, tergantung topik dan tebalnya. Meskipun tubuhnya duduk seharian di kursi di samping tangga itu, jiwa Ibu terbang melanglang buana, menembus langit, menyeberang angkasa.
“Dengan membaca, Ibu bisa melihat isi alam raya tanpa harus beranjak dari kursi ini,” katanya, menepuk-nepuk lengan kursinya. “Kamu mau bicara apa? Ibu ladeni,” candanya, membenahi duduknya, di kursi di samping tangga. Kemudian Ibu akan bercerita tentang apa saja yang saat itu melintas di benaknya.
Bagiku Ibu serupa almari ajaib yang tegak dalam diam, di dalamnya tersimpan semua hal yang kusukai, senantiasa penuh, dua pintunya lebar tak pernah terkunci, bisa dibuka kapan saja untuk kuambil isinya.
Kubelai punggung kursi kayu di samping tangga itu. Sarung beledunya sudah diganti belasan kali, selalu berwarna biru. Pelan-pelan aku duduk di atasnya, serupa berada di pangkuan Ibu: hangat dan empuk. Kuatur kursi agar aku bisa melihat pintu depan. Tiba-tiba kulihat Ibu membuka daun pintu dari luar. Ia melihatku duduk di kursinya.
“Lulu, sedang apa kamu duduk di situ?” tanya Ibu, dua alis tebalnya bertautan, sepasang mata bulatnya memipih. Ia keheranan.
“Aku sedang menunggu Ibu pulang,” jawabku.
“Apa kakak-kakakmu mengganggumu lagi?” tanyanya lembut.Kulihat di tangan kanannya ada sebuah buku.“Ibu cuma di halaman, mengistirahatkan mata sejenak, menikmati bougenvil yang berkilau terkena sinar matahari siang,” jelas Ibu. Lalu ia mendekatiku.
Aku bangkit, membiarkan Ibu kembali duduk di kursinya.
“Apa Ibu sakit?” tanyaku, memandangi wajahnya yang lesi.
“Mungkin hanya capek,” jawabnya, ditambah serekah senyum selembut kelopak kamboja. Senyum yang membiaskan ketulusan dalam menyayangi anak-anak dan suaminya. Ketulusan yang tak sepenuhnya kumiliki, yang terenggut oleh mengejar mimpi-mimpiku sendiri; mimpi yang tak dipunyai Ibu.
Aku tak seberani Ibu yang memercayakan hidupnya bulat-bulat pada ayahku. Meskipun aku tahu suamiku mencintaiku –tampaknya tulus dan setia– sesekali muncul kekhawatiran ia akan meninggalkanku demi tubuh belia yang segar dan kencang. Jadi aku butuh berjaga-jaga, harus bekerja, agar hidupku baik-baik saja bila ditinggal pergi suami.
“Lulu, mengapa kamu tampak sedih?” tanya Ibu.
“Entahlah. Mungkin aku hanya kangen Ibu,” jawabku, bersimpuh di depan kursi, membenamkan kepalaku di pangkuannya. Dari tubuhnya tercium aroma pisang, kayu manis, dan pandan. Pasti Ibu habis memasak kolak, pikirku.
“Lulu! Lulu!” Suara Mbak Fifi membetotku lepas dari pelukan Ibu. “Kamu kenapa?” Matanya membeliak ke arahku yang bersimpuh di depan kursi Ibu, merebahkan kepalaku di atas bantalan beledu biru.
Kulihat Yu Suti muncul dari dapur, membawa nampan berisi dua mangkuk.
“Kolaknya, Mbak. Mumpung masih panas.”
Endah Raharjo