Fiction
Perca [3]

17 Sep 2012

<<< Cerita Sebelumnya

MENDADAK AKU TERJAGA. Masih lima belas menit lagi untuk menunggu wekerku berdering. Pukul 02.45 WIB. Ada bagian yang basah pada piamaku. Kuseka keringat di dahi dan leher. Tumben-tumbennya udara malam Lebugawang mengucurkan keringatku. Selimut kuturunkan dan kulonggarkan napas. Lekas-lekas hidungku mendengus membuang aroma tak sedap yang tersangkut di dalamnya. Seketika kutangkap sebuah bayangan putih keabuan di balik jendela kaca kamarku yang bervitras tipis transparan. Aku terpaku diam di atas kasur melihatnya berlalu seperti diembus angin.
“Tante Ru, cepetan, dong.  Jare pan ngrewangi Om Bambang makani pitik (Katanya mau membantu Om Bambang memberi makan ayam). Yen kawanen selak pitike wis wareg (Keburu siang ayamnya sudah kenyang),” panggil Uti di depan kamarku. Mumpung hari libur. Sambil berjalan-jalan, menghirup udara segar, menyaksikan hamparan persawahan yang luas dan panorama Gunung Slamet yang memesona.
Kandang ayam milik Mbak Titin terletak di tengah persawahan, tapi berbeda kawasan dengan rumah ini. Ada di seberang lain. Dibuat jauh dari permukiman agar bau kotoran ayam tak mencemari lingkungan warga.
Setelah siap, kami berangkat berdua. Dari depan pagar rumah langsung menuju jalan desa yang beraspal. Masih harus melewati jembatan, masuk dan keluar permukiman untuk sampai tujuan.
Antara rumah besar dan jalan aspal terhampar  sawah luas yang sehabis musim panen ini belum kembali ditanami padi. Jalan aspal itu seolah ular hitam yang membagi dua bidang sama luas. Jadi dari jalan aspal, kami lewat jalan makadam yang lebarnya kurang dari tiga meter. Empat tahun lalu jalan makadam ini dibuat secara gotong royong oleh para petani yang memiliki sawah di kanan kiri jalan ini, warga desa yang rumahnya berada di seberang sungai, dan para pemilik kandang ayam di tengah persawahan di seberang rumah warga. Karena tak bisa urun tenaga, Mbak Titin yang menyediakan material batunya.
Saat tiba di sungai, kami berhenti sejenak. Dari atas jembatan kami melihat beberapa bocah laki-laki tengah menggembalakan ratusan ekor itik di lumpur tengah sawah. Mereka berkaus dan bercelana pendek. Tanpa alas kaki. Juga tanpa topi, meski matahari naik sepenggalah. Salah seorang ada yang bertelanjang dada. Tapi, kulitnya cerah. Bukti kalau air aliran dari Gunung Slamet di sini bersih, tak terkontaminasi zat-zat kimia yang bisa mengusamkan kulit. Mereka tampak bersemangat. Suara mereka nyaring memanggil-manggil titi (itik) sambil mengayunkan galah agar unggas-unggas itu tak buyar dan bercampur dengan milik empu yang lain.
“Mereka baru kembali ke kandang menjelang tengah hari,” kata Uti, mengalihkan pandanganku padanya. “Itu Mbah Sasmito,” katanya lagi, sambil menuding. Kuikuti arah telunjuknya. Seorang pria tua tengah menggiring puluhan itik ke kali. “Tiap hari beliau lewat sini,” tambahnya. Sejak kemarin sore, berkali-kali nama itu disebut di sekitar telingaku.
“Mbah Sasmito yang menjual meja marmer itu?” Uti mengangguk. Sementara itik-itiknya menyeberang kali, Mbah Sasmito berjalan lewat jembatan. ‘Mbah’ hanya panggilan pantasnya di dusun karena usianya.
Kami tersenyum dan menundukkan kepala padanya sekadar untuk beramah-tamah. Beliau membalas senyum pada Uti. Tapi, saat matanya menangkap wajahku, spontan langkahnya berhenti. Bahkan, tatapannya terus menjurus padaku hingga beberapa saat.
“Tantemu, Ti?” tanya pria tua itu dengan raut wajah sungguh-sungguh. Uti mengiyakan. Kuperhatikan pria itu. Badan, tangan dan kakinya kurus. Tinggi. Kulit cokelat muda. Kepala penuh uban. Leher yang ramping menonjolkan urat-uratnya saat bertanya tadi. Ia seorang tua yang kurang perawatan. Pertanyaan itu paling-paling karena merasa aku asing di sini. Mungkin dulunya belum pernah lihat aku.
“Kau Drupadi? Putri bungsu Roeslan Kawidjaja?” Meleset dari dugaan. Ia tahu namaku. Jadi, buat apa tadi pura-pura tanya.
“Inggih, Pakde (iya, Pakde),” jawabku, sambil mengembangkan bibir dan mengulurkan tangan. Beliau membalas uluran tanganku erat sekali. Kupanggil Pakde sebab kutaksir usianya beberapa tahun di atas usia Bapak. Lama tanganku digenggamnya. Dan matanya terus memandangku. Sepasang mata tua itu terang sekali. Lama tak berkedip. Akhirnya lepas juga setelah kuayunkan tangan perlahan.
“Pira umurmu, Nok (Berapa usiamu, Nak)?”
“Sangalikur, Pakde (Dua puluh sembilan tahun, Pakde),”  jawabku, lalu mundur selangkah. Spontan aku teringat meja marmer berhantu di rumah besar. Khawatir saja kalau benar lelaki tua di depanku ini yang mengirim ‘barang halus’ ke rumah Mbak Titin. Sorot matanya bukan milik orang kebanyakan. Kupikir beliau memang bukan orang tua sembarangan.
“Kamu mirip sekali dengan budemu,” katanya lembut sekali. Tapi serak, khas suara renta. Seketika mengucapkan kalimat itu, wajahnya mendung. Ada setitik air bening di sudut mata kanannya. Tiba-tiba matanya jadi kerap berkedip. Seolah sedang menahan sesuatu yang ingin menetes.
Aku menatap penuh tanya. Tapi, beliau cepat-cepat mengangkat galah. Tak sempat kulisankan penasaranku, beliau buru-buru mengangkat kaki. “Aku pergi dulu. Biar itik-itik itu tak buyar,” ucapnya terlambat, setelah beberapa langkah meninggalkan kami, tanpa menengok pula. Lelaki tua itu setengah berlari mengejar itik-itiknya yang sudah berjalan mengular di pematang sawah. Lalu dengan galahnya menghalau unggas-unggas berkaki selaput itu menuju parit yang subur ditumbuhi tanaman genjer.
Kamu mirip sekali dengan budemu. Ucapannya mengiang di telingaku. Sejak kapan aku punya bude? Wong Bapak penerus tunggal darah Kawidjaja. Anak tunggal pula. Apa yang dimaksud ‘bude’ itu istrinya gara-gara tadi beliau kupanggil ‘pakde’? Mendadak aku jadi teringat mimpi kemarin malam. Mirip. Pasaran sekali wajahku.
Tapi, ingatan itu pun lekas tersingkir saat kulihat wanita-wanita datang berduyun-duyun menggendong ember berisi pakaian kotor. Ada juga yang berisi gerabah dapur kotor. Bahkan ada yang mengalungkan handuk dan menenteng seperangkat perkakas mandi. Mereka menuju sungai.
“Airnya sudah tak sebening dulu.” Memang tak ada secuil pun sampah, tapi sedikit keruh daripada yang kulihat beberapa tahun lalu.
“Kata Bapak, sih, sudah banyak limbah rumah tangga yang dialirkan ke sungai,” tanggap Uti.
“Tapi masih banyak yang mandi di sini,” ucapku, sambil melangkah meninggalkan jembatan kayu ini.
Kakek-kakek sedang bercanda dan duduk-duduk di atas buk (tempat duduk permanen yang dibuat dari material batu bata, pasir dan semen) di pinggir jalan. Sesekali kudengar gelak tawa yang agak pelo. Tak ada seorang pun pemuda di antara mereka. Yang kutahu, anak laki-laki mereka atau suami-suami dari wanita-wanita yang ke sungai tadi itu merantau ke ibu kota. Sebagian besar menjadi buruh di kandang ayam Mbak Titin. Juga tak ada kulihat nenek-nenek. Mungkin memasak di dapur. Anak-anak kecil bermain sepeda di jalan-jalan, berkejaran sambil berseloroh dengan kawan-kawannya. Begitu sederhana dan ceria menghadapi kehidupan. Mereka bahagia dalam keterbatasan. Mendadak kurasa keluargaku adalah sekoloni alien berperut besar dari planet sekularitas yang menodai keindahan dan keharmonian negeri surgawi mereka.
Gaya hidup mempersempit kehidupan untuk damai. Seperti aku, Mbak Titin, juga orang-orang yang menganggap dirinya modern dan terpelajar yang waktunya habis dimakan urusan duniawi. Setiap waktu sibuk berotasi. Uang menjadi poros kami. Kaki ibarat berpijak di atas tungku dan tangan bak berpegang tambang berduri saat mempertaruhkan uang dengan uang. Demi uang yang lebih banyak. Demi hidup yang menurut kami sempurna.
Tapi, kalau tak beruang dan tak terpelajar, sampai kapan bangsa ini tetap tertinggal? Adakah kehidupan yang sebenarnya bila kemiskinan merajalela dan ketertinggalan mendarah daging? Spontan pikirku berubah, kurasa keluargaku adalah peri-peri hujan baik hati yang menurunkan gerimis di negeri mereka yang kering kerontang. Lebih baik berpikir daripada bersantai. Lebih utama maju daripada tertinggal. Aku merasa beruntung lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang dikepalai oleh Roeslan Kawidjaja, seorang ayah yang sayang pada keluarga dan negerinya.
Advertisement
Aku terlambat. Kakek-kakek itu mengembangkan bibir dan menundukkan kepala lebih dulu ketika aku lewat. Itu karena aku berjalan bersama Uti. Jadi, di sini orang tahu siapa aku. Aku merasa tak punya hak merenggut kehormatan mereka. Entah sampai kapan orang kaya diizinkan besar kepala. Walaupun mereka makan dari upah anak-anaknya yang bekerja untuk keluarga kami, bukan berarti kami yang menghidupi mereka. Harta benda sangat berpengaruh dalam stratifikasi sosial di kehidupan kampung.
Lepas meninggalkan kerumunan mereka, kami menyusuri sawah. Baru melewati beberapa kotak, Om Bambang berteriak memanggil Uti dan melambaikan tangan. Uti balas melambai. Kami lalu berlari kecil menyusulnya ke kandang. Hampir saja terpeleset di atas pematang sawah sempit berumput tipis. Sampai di sana hanya berjalan-jalan dan melihat ayam-ayam makan. Ya, aku enggan mengotori tangan dengan dedak dan kotoran ayam.
PENAT. AKU SUDAH SANGAT rindu pada Sukawati, Ubud, Blahbatu, Gelgel, dan semua potensinya yang memberiku penghidupan selama ini. Di sini hanya bersantai dan berpangku tangan. Ibu yang katanya rindu setengah mati padaku pun jam malamnya habis hanya untuk wiridan mendoakan rumah ini seisinya. Kalau hanya ingin menyelesaikan perkara santet, tenun, atau bagaimana orang-orang kampung ini menyebutnya, kenapa tak lekas menemui dukun yang supersakti atau mohon bantuan pada Mbah Kyai saja? Tiap malam cuma merundingkannya tanpa ujung. Muak. Tapi, geli juga hal beginian merepotkan manusia.
“Meja marmer itu kembali berulah,” kata Mas Igun tiba-tiba. Pagi-pagi ia keluar kamar dengan berkacak pinggang.
“Ia benda mati,” kilah Bapak.
“Benda mati berhantu tepatnya, Pak. Kita buang saja meja itu nanti, sebelum kita benar-benar sial dibuatnya,” katanya lagi, dengan nada tinggi. Emosinya bak terbang di ujung kepala. Aku yang paling terperanjat mendengarnya. Yang lain diam, mungkin hanya memendam tanya kenapa ia semeledak itu. Hmm, benda seberharga itu mau disingkirkan dengan tanpa hormat. Diam-diam naluri bisnisku ingin mencegahnya.
“Dijual saja, Mas,” kataku.
“Benda pembawa sial begitu dijual? Itu berarti kita mencelakai pembelinya,” sanggahnya.
“Kalau jatuh di tangan orang yang tepat, seorang spiritual atau sekadar penikmat hal-hal spiritual misalnya, meja itu akan bisa dikendalikan, bahkan dimanfaatkan dan menguntungkan,” bujukku. Diam-diam kutawarkan diri menjadi perantara. Tapi entah dia tahu atau tidak jalan pikiranku yang sebenarnya. “Pasti laku dan mahal.” Aku berusaha meyakinkan.
Mas Igun diam beberapa saat. Tak tahu apakah mempertimbangkan pendapatku tadi. Kepalanya menggeleng-geleng. Dadanya mengembang, lalu hidungnya mendengus perlahan dan panjang. Kelihatannya ia berusaha mengendalikan emosi. Lalu pasang kuda-kuda untuk mencurahkan kekesalan.
“Tengah malam tadi aku terjaga. Awalnya kudengar sesuatu seperti benda besar dibanting-banting di belakang. Kuperiksa ke sana. Waktu kuputar anak kunci pintu belakang beberapa kali, suara itu mendadak hilang. Kulihat empat kursi rotan jatuh dengan posisi tak keruan. Dan meja marmer terguling. Lalu kubenahi posisinya seperti semula.” Ia berhenti sejenak mengambil napas. “Tiba-tiba kulihat seorang wanita duduk di kursi itu. Berpakaian Jawa. Kebaya putih dan tapih (kain batik yang dililitkan dari pinggul hingga kaki). Bersanggul. Mukanya memar semua. Matanya redup.” Bapak, Ibu, Mbak Titin, dan aku mendengarkan serius. “Dan, eh, parasnya mirip kamu. Tapi, ada tahi lalat di ujung hidungnya,” lanjutnya, menatapku. Pandangan tiga orang yang lain ikut  menuju padaku.
“Lalu kamu apakan wanita itu?” tanya Ibu.
“Tiba-tiba lenyap dalam sekali mataku berkedip.” Pandangan Mas Igun masih mengarah padaku. “Mirip kamu, Ru,” kalimat itu diulangi lagi.
Ya, ampun! Bahkan lelembut pun mirip aku. Tuhan, apakah manusia dan lelembut juga satu keturunan Adam dan Hawa? Tidak, ‘kan? Cerdas juga itu setan, mengambil wajah yang rupawan sebagai pengenalnya. Gondok sekali rasanya. Bapak tampak gusar. Keningnya berkerut. Sedangkan Mbak Titin masih melongo menatapku. Mungkin keheranan, ada anak manusia yang mirip lelembut. Atau lelembut yang mirip anak manusia?
“Dulu mimpiku juga begitu,” ucap Ibu tiba-tiba. “Wanita mirip kamu. Tapi kurus dan layu. Beraut wajah dan berpakaian serupa yang Igun ceritakan. Dan bertahi lalat di ujung hidungnya. Dulu kukira kamu, Ndhuk.” Ibu lagi-lagi menatapku. Bapak bertambah gusar. Mendadak aku teringat pula pada mimpi saat malam pertamaku bermalam di rumah ini. Kuceritakan pada mereka juga. Dan Bapak  makin bertambah gusar.
Kubilang, “Kemarin aku bertemu Mbah Sasmito. Beliau juga bilang, katanya aku mirip dengan istrinya.” Mbak Titin tetap melongo menatapku, membiarkan Mas Igun berlalu menenteng jas putih dan tas kulit tanpa diantarnya ke teras depan. Bapak dari tadi juga tak berkomentar. Kelihatannya berpikir serius. Wajahnya menunduk. Bibirnya mengerucut. Jemari tangan kanannya mengurut-urut pelipis. Lalu dengan sendirinya menganggukkan kepala pelan beberapa kali. Sepertinya yakin akan sesuatu dalam pikirannya.
Karena risi  dipandangi terus, kutanyai Mbak Titin, apakah meja marmernya benar-benar mau dibuang. Beliau menggeleng-gelengkan kepala. Entah berarti tidak dibuang, atau tidak tahu. Tapi, habis itu beliau bilang, “Tidak, Ru. Tidak kubuang. Juga tidak kujual.”
Klan Kawidjaja
Entah berapa lama lagi aku tinggal di rumah besar ini. Begitu juga Bapak dan Ibu. Seminggu tinggal di rumah ini bak hidup setahun di keraton sebagai kanjeng yang tiada bertindak hal produktif. Meski di Bali aku pun biasa dilayani, tapi karena memang perlu dan darurat. Ada urusan dan kepentingan yang lebih utama daripada makan, tidur, dan memikirkan ‘guna-guna’. Memang saat tertentu perlu liburan, tapi bukan berarti bermalas-malasan. Rinduku pada pulau seribu pura pun tak berarti aku tidak kerasan di Jawa. Tapi saat delapan puluh persen waktu sehariku disita pekerjaan justru ternyata adalah hari nyamanku. Rasanya ada yang kurang saat diam dan santai begini.
Di belakang Mbak Titin diam-diam sudah kurayu Ibu agar mengizinkanku kembali ke Bali. Tapi beliau naik pitam. Lama nggak pulang, baru tidur serumah tujuh malam saja, kok, sudah minta diri, katanya. ‘Jangan jadi kacang lupa kulitnya’, bahkan aku diingatkan pada peribahasa yang kupelajari saat SD dulu. Beliau juga mengungkit kenangan-kenangan masa lampau saat masih membesarkan kami. Saat lucu, rewel, sedih, senang, yang membuatnya makin kesepian tiap kali teringat di hari-hari senjanya yang hanya berdua bersama Bapak. “Di saat seperti ini, mbakyu-mu juga butuh pendamping,” tuturnya melarangku, menutup nasihatnya yang panjang lebar. Padahal cuma dua tahun. Itu tidak seberapa lama dibandingkan TKW yang kerja di Timur Tengah sana, gerutuku dalam hati, saat itu. Aku selalu cukup memasang telinga acapkali beliau bertutur banyak-banyak, meski diam tak berarti sepakat.
Mangan ora mangan asal kumpul. Biarpun hidup susah, asal bersama keluarga. Dulu semboyan itu yang menahan orang Jawa untuk merantau. Seiring majunya pemikiran jadi berubah, kumpul ora kumpul asal mangan. Penting bisa makan, walau tidak kumpul. Itu juga dasar pemikiran orang tuaku sebelum melepaskan dua anak perempuannya menyeberang dari Pulau Jawa. Saat pertama kali melepas, dulu mereka menutur dan memotivasi. Pelepasan kedua, beliau hanya menatapku layu. Menjelang pelepasan ketiga, berkali-kali Ibu bertutur menghambat keberangkatanku ke Bali. Perasaan makin berat saja. Mungkin karena naluri orang tua, merasa sepi ditinggal jauh dari anak.
Ibu bahkan membuat perumpamaan: kalau ibu jari kaki berdarah, mata ikut menangis. Tapi kalau mata perih, mata menangis sendiri. Orang tua diibaratkan mata, anak diibaratkan ibu jari kaki. Begitulah pengibaratan kasih sayang orang tua dan anak. Orang tua selalu memikirkan anak saat berada tak di sampingnya, tapi tidak sebaliknya. Namun bagaimanapun cita-citaku mulia, demi Ibu, aku, dan keluarga. Pikiran orang memang berlainan, walau sesama perempuan, anak dan ibu pula. Selalu ada perbedaan dalam pengungkapan cinta.
Ibu terlalu khawatir hal buruk terjadi padaku, terlebih setelah apa yang dialami Mbak Titin saat ini. Meski tinggal di tanah seberang dengan adat istiadat dan agama berbeda, tidak lantas aku melebur dan menghilangkan identitas sebagai orang rantau. Ibu tak mengerti betapa pekerjaan mengambil dan menguasai hatiku, walau sebanyak apa pun waktuku disitanya, yang bahkan mampu menaikkan berat badanku meski sangat berhati-hati dalam mengonsumsi makanan.
Hampa hari hanya melamunkan Bali dan rutinitasku di sana. Kalau pun mau, sebenarnya pagi ini aku bisa bertolak ke Semarang, one-stop shopping di Dekranasda. Sekadar sebagai pembelanja, bukan pemasok barang kerajinan. Cuci mata, memperkaya khazanah kerajinan seni Jawa Tengah. Tapi, baru saja kuniatkan pergi, tiba-tiba meja marmer horor kembali mencuri perhatianku.






 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?