Trending Topic
Penggerak Jutaan Massa

3 Nov 2014


Saat membaca tulisan ini, hampir bisa dipastikan Anda sudah menonton atau setidaknya mendengar tentang video liburan Syahrini di Instagram yang menghebohkan beberapa waktu lalu. Akunnya di jejaring sosial foto itu sudah diikuti oleh lebih dari 796.000 orang. Dari  tiap fotonya itu, selalu mendapat ribuan komentar dan belasan ribu like. Suka atau tidak, gaya dandan menor yang menjadi trademark-nya, dan gaya pakaiannya yang selalu mencolok, sudah menjadi komoditas yang menguntungkan di pasar-pasar busana.
   
Harus diakui, dengan caranya sendiri Syahrini sudah menjadi sosok yang memiliki pengaruh. Tapi, pada dasarnya seorang influencer bisa memengaruhi dalam banyak hal  lain yang lebih signifikan dari sekadar menjadi bahan obrolan atau referensi dandan. Misalnya, soal filosofi hidup, gaya hidup sehat, atau bahkan pandangan dan ideologi politik. Hal ini tentu tidak bisa dilakukan hanya dengan memamerkan belanjaan mahal dan tempat liburan eksotis di media sosial.

Sejak dulu, tokoh-tokoh yang inovatif, kreatif, dan ekspresif, karyanya dikagumi dan opininya dihargai bahkan di luar kalangan mereka. Mereka pun dicap sebagai orang yang berpengaruh pada zamannya, hingga sekarang.
Sebut Michael Jackson di bidang musik atau Steve Jobs di bidang teknologi, keduanya adalah influencer. Di industri fashion, misalnya, yang dianggap sebagai influencer adalah para desainer yang menentukan tren mode dan kecantikan tiap musimnya. Pekerja kreatif di industri advertising yang membuat iklan-iklan besar dan catchy, juga contoh yang menjadi influencer karena profesinya.
Kehadiran media sosial kini membuat siapa saja yang memiliki potensi untuk berpengaruh karena alasan apa pun, disengaja atau tidak, menjadi lebih terdengar suaranya oleh orang banyak.

Menurut Iwan Setyawan, salah satu pendiri badan konsultan berbasis data, Provetic, menuturkan bahwa bentuk komunikasinya yang sekarang terjadi tak lagi satu arah seperti di eranya televisi, radio atau koran. "Di era media sosial, karena bentuk komunikasinya banyak arah, orang bisa ngobrol dengan siapa saja dan lebih mudah memengaruhi satu sama lain," ujarnya.

Meski terkadang tidak bisa ditelusuri asal-muasalnya, percakapan ‘berisik’ di media sosial ini bisa dibaca dan dihitung dan dilihat trennya. "Di media sosial kita bisa mengamati berbagai perilaku sosial dan mencari tahu apa yang menjadi public concern atau kekhawatian masyarakat. Contohnya pemilu lalu, terlihat ada banyak sekali undecided voters atau pemilih yang belum menentukan suara di sana," tutur Iwan.
Advertisement
   
Di media sosial sendiri ada banyak nama  yang muncul saat femina mencari berbagai sosok influencer terkini, melalui survei pembaca usia 20-45 tahun. Ada selebritas yang sangat populer seperti Nadya Hutagalung, Dian Sastro, atau Agnes Monica. Ada juga yang datang dari profesi penulis (Alexander Thian), komedian (Raditya Dika), travel blogger (Marischka Prudence), pelatih yoga (Erikar Lebang) atau entrepreneur fashion (Dian Pelangi).
   
Ada juga individu-individu yang sebelumnya tak dikenal, tapi berhasil mengusik dan menggerakkan banyak orang untuk tujuan-tujuan mulia. Sebutlah Melany Tedja, yang berhasil mengumpulkan 73.181 tanda tangan dalam petisi online-nya untuk menolak revisi RUU MD3 (MPR, DPR, DPD, DPRD), yang sejauh ini telah berhasil mendesak Mahkamah Konstitusi untuk melakukan tinjauan yudisial.
   
Atau Ainun Najib, penggagas situs KawalPemilu.org yang menghitung scan C1 atau formulir hasil rekapitulasi suara tingkat TPS di seluruh Indonesia, yang bisa diunduh dari situs KPU. Bukan aktivis apalagi pejabat, pegawai perusahaan teknologi informasi yang bekerja di Singapura ini dalam beberapa hari saja ‘kebanjiran’ 700 orang lebih yang mendaftarkan diri untuk menjadi relawan. Berkat Ainun dan keempat kawannya, rakyat Indonesia, terutama orang-orang muda yang hidup dan bernapas di media sosial, tiba-tiba saja tercolek kepeduliannya terhadap politik dan jalannya pemilu.
   
Sama halnya dengan Melanie Subono, penggiat dunia hiburan yang kini telah menceburkan diri dalam berbagai kegiataan kemanusiaan. Lewat 12 akun media sosial dengan total 6,1 juta pengikut (menurut perhitungan BBC dan CNN), isu-isu kemanusiaan dan lingkungan yang ia suarakan sudah tak terhitung lagi. Mulai dari soal perlindungan rawa gambut di Aceh, hukuman mati TKI di Arab Saudi, dan yang terakhir soal pemecatan polisi yang berusaha mengusut sindikat perdagangan manusia di NTT.
Memanfaatkan segala bentuk media mulai dari tweet, video, petisi online, hingga surat terbuka, Melanie berhasil menjangkau anak muda ‘penggiat’ media sosial yang tadinya tak tahu-menahu soal isu-isu genting di negerinya sendiri.

PRIMARITA S.SMITA





 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?