Didengarkan, diikuti, dan dipercaya oleh berjuta-juta followers tentu ada konsekuensinya. Apalagi akhir-akhir ini sudah terlalu banyak contoh yang mengajarkan kita, orang-orang yang follower-nya mungkin hanya berapa puluh, untuk berhati-hati saat berbicara di media sosial.
Gita Gutawa misalnya, dengan Twitter followers yang kini sudah mencapai 4,27 juta, mengerti betul akan hal ini. Sehari-harinya Gita hanya posting seputar promosi album baru, jadwal manggung, dan lain-lain yang berhubungan dengan pekerjaannya sebagai penyanyi. Ia juga selalu menolak ketika ada pihak-pihak yang ingin ‘menitipkan’ jualan atau promosi tertentu di akunnya. “Saya belajar menggunakan media sosial untuk hal-hal yang positif dan menyaring omongan saya. Saya tidak mau menyinggung kalangan tertentu,” tuturnya.
Belakangan Gita juga menjadi salah satu dari sekian banyak insan dunia hiburan yang mengeluarkan tagar #AkhirnyaMilihJokowi beberapa hari menjelang pilpres. Padahal, sebelumnya ia merasa tidak pada tempatnya untuk ngomongin politik.
“Saya terpengaruh pada suasana pilpres yang begitu meriah. Sebetulnya saya juga sudah lama mengagumi sosok Jokowi. Jadi akhirnya saya menunjukkan kepada orang bahwa saya juga mengambil sikap dalam berpolitik. Harapan saya, banyak orang lain juga akan tergerak,” tuturnya.
Sekilas, Gita dan orang-orang yang disebutkan di atas terlihat begitu berpengaruh dengan jutaan followers-nya yang begitu setia. Apalagi, topik yang diangkat bisa saja berbeda dengan latar belakang sang influencer. Namun, Hamdi melihat bahwa lingkup atau segmen seorang influencer sebetulnya justru terbatas.
Meskipun terbatas, bukan berarti pengaruh mereka tidak memiliki arti yang signifikan. Apalagi di dunia media sosial, suara siapa pun bisa terdengar berkali-kali lebih lantang. Prof. Dr. Hamdi Muluk M.Si, Pakar Psikologi Politik, Ketua Program Doktor Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. membayangkan, misalnya separuh saja dari followers Gita memilih kandidat presiden yang sama, artinya 2 juta suara sudah terkunci di sana. Belum lagi, 2 juta orang itu pasti juga punya followers, teman atau saudara yang bisa jadi terpengaruh juga untuk memilih. Di sini terjadilah efek bola salju.
Ia mengakui, pada dasarnya orang-orang memang memiliki kepribadian yang berbeda-beda di media sosial, yang tidak selalu sama dengan kepribadiannya di dunia nyata. Ada yang sangat hati-hati dengan omongannya, ada yang cuek, ada yang justru banyak omong atau sengaja mencari sensasi, ada pula yang senang memprovokasi. Di sini, Hamdi menekankan pentingnya untuk seorang influencer, berapa pun jumlah pengikutnya, untuk menyadari berbagai konsekuensi dan tanggung jawab dari perkataan dan perbuatannya di depan banyak orang.
Hamdi percaya, mereka yang terbukti tidak kredibel, asal ngomong, atau menyebar gosip semata, nantinya akan ditinggalkan juga. “Beberapa akun Twitter yang dulu sempat heboh dengan ‘berita’ soal pejabat ini-itu, kini sudah mulai ditinggalkan karena terbukti mereka hanya menyebarkan gosip yang tidak benar,” ujarnya. Sebab, pada akhirnya, baik ketika kita menjadi influencer ataupun follower, kita butuh filter untuk menyikapinya.
PRIMARITA S. SMITA