Tak terasa, kebersamaan Nidji sudah menginjak 13 tahun. Keyakinan, keuletan, kedisiplinan, dan kerja keras telah membawa mereka ke puncak popularitas. Namun, semua ini tak mengubah pribadi keenam personelnya. Mereka tetap sosok yang hangat, mau belajar, dan mendengarkan feedback dari sesama musikus maupun pelaku industri musik.
Kesuksesan Nidji memang tak lepas dari support garda pendukung terdepan mereka, yaitu keluarga dan Nidjiholic, sebutan untuk penggemar setia mereka. “Dari dulu sampai sekarang keluarga kami sering datang ramai-ramai untuk menonton konser kami. Bahkan sampai bikin Ikatan Orang Tua Nidji, yang rutin mengkoordinasi acara amal maupun bukber dengan Nidjiholic,” kisah Ariel.
Selama lebih dari satu dekade terus terjadi regenerasi di tubuh Nidjiholic. Ada penggemar yang tumbuh dewasa bersama Nidji, ada pula penggemar muda yang bermunculan tiap tahunnya. Hebatnya, baik penggemar lama maupun penggemar baru terlihat bercampur baur dalam histeria pertunjukkan musik Nidji. ”Kami dapat membuat penonton dari segala kalangan bersemangat dan terhibur saat menonton show kami. Mungkin ini sebabnya kami bisa bertahan hingga sekarang,” tandas Giring.
Bagi Nidji, kebersamaan dengan keluarga, terutama istri dan buah hati ampuh menjadi suntikan semangat di tengah jeda tur maupun hari libur manggung. Menurut para personil Nidji, jam kerja yang fleksibel sangat membantu mereka untuk mengikuti tumbuh kembang anak.
“Saya bisa antar jemput anak sekolah, kemudian sore harinya nemenin putri saya, Rana, belajar dan bermain. Dan, saat ia terlelap, saya baru berangkat kerja. Saya dan teman-teman di Nidji bersyukur sekali dengan jam kerja seperti ini,” ungkap Rama. Rama menambahkan, bila berada di rumah, ia pun memanfaatkan waktu untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada Rana, misalnya tanggung jawab dan disiplin.
Begitu pun dengan Giring. Bersama sang istri Cynthia Riza, ia mengajarkan prinsip kesederhanaan dan keberanian pada Zidane, Aisyah dan Jasmina. “Saya ajarin buat pede dan bekerja keras dengan jalan yang halal, tidak korupsi agar bisa sukses ke depannya. Dimulai dari hal simpel seperti tidak mencontek dan menggunakan uang sewajarnya," tegas Giring.
Berbicara mengenai impian, masih banyak cita-cita besar yang ingin diwujudkan Giring, Ariel, Andro, Rama, Adri, dan Run-D. Salah satunya adalah membuat perusahaan kreatif kolektif. Mereka beranggapan bahwa untuk bertahan di kerasnya persaingan industri musik, materi musik yang bagus saja tak cukup. Untuk itulah, Nidji ingin melebarkan sayap ke ranah bisnis. Mewakili teman-temannya, Andro menjelaskan visinya mengembangkan Nidji menjadi sebuah perusahaan yang bergerak di bidang manajemen artis atau konsultan musik. Mereka juga berharap suatu hari bisa mendirikan rumah produksi dan post production house.
“Nanti kami bisa mengurus apa saja yang berkaitan dengan musik. Misalnya, jingle produk atau perusahaan. Secara garis besar perusahaan ini menangani audio visual yang dibutuhkan oleh klien,” jelas Andro, optimistis.
WORO HARTARI TRIANTI