Celebrity
Eksplorasi + Kolaborasi Nidji

7 Jul 2015

          
Tampaknya, mental dan kerendahan hati para personel Nidji terbentuk dari liku-liku perjuangan karier mereka. Kesuksesan mereka memang tidak datang secara instan. Ditolak beberapa label musik besar, manggung tanpa penonton dan hanya dibayar dengan nasi boks, juga ‘ngamen’ di mal,  sempat dialami Nidji.               

“Dulu, kami ngeband sambil menjalani kuliah. Saat itu kami berpikir, alur kehidupan manusia pada umumnya setelah lulus kuliah pasti bekerja. Tak disangka, kami malah ditawari kontrak rekaman oleh Indrawati Widjaja, atau yang akrab dipanggil Ibu Acin dari Musica Studios. Berkat dukungan keluarga dan pertimbangan yang matang, akhirnya kami memilih total berkarya di musik,” jelas Ariel.           

Berlandaskan persahabatan yang erat serta passion musik yang besar, tak heran bila kekompakan antara Giring Ganesha (vokal), Andi Ariel Harsya (gitar), Randy Danistha (keyboard), Muhammad Ramadista Akbar (gitar), Adri Prakarsa (drum), dan Muhammad Andro Regantoro (bas), masih tetap terjaga. Selain itu, menurunkan ego masing-masing personel juga menjadi ‘resep’ jitu Nidji dalam menelurkan karya-karya terbaik.                                        

Berpegang pada prinsip bermusik yang sama, Nidji tengah memulai proses rekaman album baru. Dalam album kelimanya nanti, Nidji menawarkan formula ‘unik’ dalam berkreativitas. Rencananya, akan ada 10 karya kolaborasi Nidji dengan nama-nama besar di industri musik tanah air.                               

Advertisement
“Bila di album terdahulu kami bikin lagu berenam, kali ini kami mengundang songwriter favorit kami untuk menggodok lagu bersama-sama, misalnya Ryan D’Masiv dan Pongki Barata. Kami belajar banyak dari mereka, mulai dari teknik penulisan lirik sampai berkreasi dengan notasi,” jelas Giring.                           

Di album yang akan dirilis tahun depan itu, Nidji akan lebih ‘bermain’ dari segi sudut pandang penulisan lirik. Giring pun mengaku banyak terilhami oleh kegeniusan para pencipta lagu pop mancanegara. “Saya kagum dengan pencipta lagu California King Bed yang dinyanyikan Rihanna, misalnya. Sebenarnya lagu itu menceritakan jarak antara sepasang kekasih, namun perasaan itu justru diibaratkan dengan benda mati. Ini keren banget dan mendorong saya untuk berkreasi dengan angle yang berbeda,” ujar Giring.                                                   
Soal musikalitas dan kreativitas, tampaknya Nidji memang tak pernah kehabisan ide. Tahun 2013 lalu misalnya, Nidji membuat proyek musik yang mereka namakan N.E.V (Nidji Electronic Version). Konsep musik ini mengedepankan lagu-lagu Nidji yang dibungkus dengan aransemen musik elektronik yang fresh. Entakan beat drum yang menggebu, bassline yang groovy, ritme dan melodi gitar yang dinamis, dilengkapi dengan sound synthesizer yang kaya mampu membuat siapa pun ikut bergoyang.    

Menariknya, N.E.V memang tidak mengeluarkan album, tapi hanya muncul live di panggung festival musik elektronik, seperti Djakarta Warehouse Project (DWP) dan The Sundown Festival, Singapura. Sang pemain keyboard, Run-D, mengatakan bahwa Nidji ingin memberikan pengalaman yang berbeda lewat konsep musik N.E.V tersebut.       

Belakangan, julukan ‘King of Soundtrack’ juga melekat pada Nidji. Karya musik mereka memang langganan ‘mengisi’ film bergengsi tanah air, seperti Laskar Pelangi, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan 5cm yang kemudian dirangkum dalam album yang berjudul King of Soundtrack. Kini mereka gencar mempromosikan 3 lagu untuk film Supernova (2014), bertajuk Takut Bilang Tidak, Semesta Hidupku, dan Terpaksa. WORO HARTARI TRIANTI




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?