Fiction
Musim Gugur Hay On Wye [2]

15 Jan 2015


<<<<< Cerita Sebelumnya

Kisah sebelumnya:
Ketika suaminya menghilang selama tiga hari, betapa bingung hidupnya. Memang dia baru mengenal suaminya sesaat sebelum memutuskan menikah. Proses laporan kehilangan di kantor polisi justru membuatnya kian gamang.   


Petugas penyidik kembali meneliti catatannya. Memberikan berbagai tanda entah apa dengan pulpennya pada beberapa bagian.
    “Hmm, apakah kondisi finansial kalian baik-baik saja?” lagi dia bertanya.
    Kau mengangguk. “Baik, relatif cukup sejauh menurut ukuran kami.”
    “Maksudnya tidak ada kesulitan keuangan, pinjaman pada pihak lain misalnya?”
    Kau menggeleng. Tidak. Sejauh yang kau tahu sejak awal mengenalnya hingga kini, kalian telah bersepakat untuk tidak memiliki sesuatu yang tak sanggup kalian beli. Rumah tinggal itu adalah salah contohnya. Kalian memilih mengontrak rumah kecil pada sebuah kampung sederhana, karena tak cukup besar uang kalian untuk membeli rumah baru.
    “Bagaimana kalian mengelola keuangan?”
    “Maksudnya?” Kau tak mengerti.
    “Begini, biasanya pihak istri adalah pengelola keuangan rumah tangga. Apakah Anda yang mengatur penggunaan dana sehari-hari.”
    “Ya, itu yang kulakukan.” Kau mengangguk.
    “Dari mana sumber keuangannya?”
    “Dari penghasilan kami berdua.”
    “Apakah kalian saling terbuka tentang penghasilan masing-masing?”
Kau mengangguk ragu-ragu. Tak kau tahu ke arah mana pertanyaan itu.
    “Maaf, apakah penghasilan kalian seimbang atau …?”  kalimat petugas penyidik itu berhenti, memberikan sebuah pertanyaan yang mengambang.
    “Tunggu, saya tidak mengerti maksud pertanyaan ini. Apa kaitannya dengan hilangnya suami saya?” potongmu tajam, menghentikan pertanyaan yang pada sangkamu tak mengarah itu.
    Petugas penyidik itu menghela napas.
    “Begini Ibu, kami harus membuka diri terhadap semua alternatif, menganalisanya satu persatu demi menemukan petunjuk dan alasan yang paling mungkin terjadi mengapa suami ibu hilang atau justru menghilang.”
    Mukamu pias seketika.
    “Menghilang? Apa maksudnya?” serumu entah setajam apa.
    “Maaf Ibu,” Petugas itu tampak terkejut melihat reaksimu. Dia gugup mendadak dan tampak berusaha membenahi diri. Lalu dilunakkannya suara.
Kau bergeming. Arus emosi di dalam dirimu kembali bergolak, mengarus deras seumpama sungai menerima curah hujan yang deras. Sejak semula kau mendengar kata maaf yang berulangkali diucapkannya, tapi entah bagaimana kau merasakannya lebih sebagai hal yang teknis belaka.
    “Harus saya katakan bahwa dokumen yang ada tentang suami Ibu sangat minim, sehingga tidak memberi kami banyak petunjuk. Maka kami harus menggali informasi lebih jauh lagi.”
    “Tapi apa kaitannya dengan data finansial? Apakah kalian berpikir bahwa dia menghilang karena faktor finansial? Apakah anda sedang menduga bahwa kami akan menjadikan kasus hilang ini sebagai strategi untuk menghindarkan diri dari sesuatu yang berkaitan dengan uang? Astaga, kami bahkan tak memiliki pinjaman apa pun. Sekedar kartu kredit pun tak dimilikinya. Suami saya membayar dengan uang tunai setiap hal yang diperlukannya.”
    “Apakah ibu juga yakin bahwa suami ibu tidak memiliki problem dana, jauh sebelum kalian menikah? Apakah ibu tahu darimana asal modal toko bukunya?”
    Lagi kau terkejut. Diam mendadak.
    Tidak. Kau tak tahu. Kau bukan seorang yang peduli urusan dompet orang lain sekalipun itu suamimu sendiri. Kau bahkan tidak merasa harus tahu, apalagi menyelidikinya.
    “Maaf, apakah dia mencukupi semua kebutuhan rumah tangga dengan baik, atau justru Ibu yang menanggung semuanya?”
    Pertanyaan yang sangat personal dan sangat menyelidik. Beruntung masih terjaga kesadaranmu bahwa ini adalah proses investigasi.
    “Barangkali ini memang suatu hal yang sangat pribadi, tapi maaf, saya harus bertanya.” Demikian petugas itu membaca ekspresi matamu dengan tepat.
    “Ya, dia mencukupi hidup kami dengan sangat baik. Sangat baik,” jawabmu gagah.
    “Harap jangan tersinggung Ibu. Beberapa tahun terakhir ini banyak terjadi rencana pernikahan fiktif. Maraknya jaringan media sosial membuka kesempatan menjadikan asmara sebagai instrumen penipuan untuk menguras dana pasangannya. Para korban biasanya kaum perempuan.”
    Kau tahu tentang fenomena para penipu perayu di jejaring media sosial itu. Beberapa kali kau mendapatkan surat rayuan semacam itu. Tapi kau yakini dengan sungguh bahwa suamimu bukan salah satu di antaranya.
    “Suamiku bukan penipu,” suaramu bergetar, menahan pedih atas praduga buruk terhadap seseorang yang kau kasihi.
    “Apakah karena prasangka itu maka kalian hanya melakukan penyelidikan di atas meja seperti ini dan tidak segera turun ke jalan dalam proses pencarian yang sebenarnya?” serumu kering menyiratkan kemarahan yang tak lagi terbendung. Habis sudah kesabaran di dalam dirimu, bertambah kini dengan sakit hati oleh prasangka yang dituduhkan.
    “Suamiku dan siapa pun yang dilaporkan hilang, tidak akan pernah kalian temukan dalam kertas-kertas itu!” katamu dengan desis yang sangat tajam. Tanpa pamit kau tinggalkan penyidik yang tercengang-cengang itu.

*

    Kau tidak akrab dengan suasana rumah sakit, jauh dari lorong-lorong berlantai putih dengan aroma disinfektan yang menyengat. Maka berat langkahmu saat menyusurinya kini. Apalagi pintu tertutup bertuliskan ‘Pemulasaran Jenazah’, adalah pelengkap yang membuatmu tercekam. Tak pernah terlintas sedikit pun bahwa kau harus berkunjung pada ruang-ruang semacam itu. Tak terbayangkan.
    Untunglah petugas-petugas rumah sakit itu tidak memberlakukan prosedur yang berbelit. Mereka mendengarkan penjelasan dan memahami pencarianmu. Berdebar kau menunggu mereka mencari data pasien tak dikenal. Tidak banyak pasien semacam itu datang dalam keadaan baik. Umumnya mereka adalah tunawisma atau penderita sakit jiwa. Beberapa di antaranya korban kecelakaan tanpa  identitas.
    Saat meninggalkan ruang-ruang dingin itu, kau tidak tahu apakah harus lega atau sedih. Lega karena para pasien dan jenazah tak dikenal itu bukanlah suamimu. Ataukah sedih karena artinya pencarianmu belum juga memberikan penemuan berarti? Kau tak tahu.
    Pada pelataran rumah sakit terakhir, setelah terbebas dari aroma dan aura yang mencekam itu, kau berhenti. Berpegang tanganmu pada sebuah tiang entah apa. Terengah napasmu, menahan berbagai rasa di dalam dirimu. Itu adalah paduan rasa takut, kehilangan, kekacauan dan kebingungan sekaligus. Dan di atas semuanya itu adalah kesedihan yang tak terjelaskan. Lalu air matamu tumpah, tak mampu lagi membendung segala yang bergumpal dalam benakmu. Meledak semua itu dalam suara tersedu tertahan.  
Di atas sana langit telah berubah warna. Bukan lagi biru terang melainkan dominan jingga di arah barat, berpadu abu-abu. Tak ada lagi matahari yang memberimu cahaya. Hampir gelap namun malam belum sempurna untuk menyembunyikan air matamu.
*
    
Bel pintu rumah berdentang dan kau terkejut mendapati polisi penyidik yang tak menimbulkan simpati itu berdiri di depan pintu.
    “Selamat pagi, Ibu,” salamnya santun.
    Kau membalas salam itu, membuka pintu lebih lebar dan melunakkan hatimu sendiri demi menyadari bahwa tatap mata dan suara penyidik itu telah berubah. Tak lagi kaku dan formal seperti sebelumnya.
    “Adakah informasi baru?” Segera kau bertanya, meluapkan harapan baik yang memenuhi hati.
    Dia mengangguk. Meletakkan berkas-berkas catatannya pada meja ruang tamu.
    “Kami melakukan penelusuran pada kampung halaman terlapor, melalui polisi setempat. Semuanya berdasarkan data-data yang Ibu berikan dan kami lengkapi dengan pencarian data dari berbagai sumber yang sekiranya relevan,” katanya pelan sembari menatapmu. Matanya tak lagi datar.
    “Kalian menemukan kerabatnya?” Lagi kau tak sabar.
    Penyidik itu menggeleng. Gelembung harapanmu kempis seketika.
    “Sama sekali tak ada. Nama-nama dan alamat yang Ibu berikan tidak bisa ditemukan. Bahkan nama daerah-daerah itu tak dikenal, meskipun telah ditelusuri hingga wilayah terjauh, termasuk yang tak terdokumentasi pada peta.”
    Kau terperanjat. “Mengapa begitu?”
    “Kami telah pula melakukan penelusuran lanjutan.” Dia berhenti sebentar. Tampak betul berusaha mengatur tutur katanya sedemikian rupa. “Ternyata nama suami Ibu tak tercantum dalam data penduduk mana pun. Data KTP yang Ibu berikan itu agaknya palsu.”
    “Apa katamu?” Seketika wajahmu pias, pucat. “Tidak mungkin, pasti kalian keliru.”
    “Itulah hasil yang kami peroleh dari penelusuran dokumen dan peninjauan lokasi.”
    “Suamiku memang tumbuh di perantauan. Dia telah yatim piatu sejak anak-anak sehingga berpindah-pindah tumpangan hidup dari satu keluarga pada keluarga lainnya. Sudah berpuluh tahun meninggalkan kampung halaman sehingga sangat mungkin telah dilupakan kerabatnya,“ bantahmu.
    “Betul Ibu, itu sangat mungkin terjadi. Masalahnya, nama daerah dan data identitas penduduk itu, sama sekali tidak ada di provinsi tersebut.”
    “Aku  tidak mengerti,” kau termangu dalam kebimbangan.
    Penyidik itu menghela napas, menatapmu dengan prihatin. Kini kau tahu apa yang membuatnya lebih ramah padamu.
    “Kami perlu melakukan penyelidikan lebih lanjut. Untuk itu izinkan kami memeriksa rumah dan toko bukunya, terutama dokumen dan barang-barang yang ditinggalkan. Pemeriksaan forensik pada umumnya memberikan petunjuk berarti. Bagaimana?”
    Kau tak merasa perlu berpikir lebih panjang untuk mengangguk. Pikiranmu buntu. Tak kau punya alasan untuk membantah apalagi menolak, sekaligus tak berdaya.
    “Tak banyak barang yang kami punya, hanya buku,” desismu muram. Kau merasa lemas, bukan lelah. Kau perlukan tiang untuk bersandar, namun saat yang sama seolah tiang-tiang itu menjauh dari jangkauanmu.
    “Tidak masalah. Koleksi buku dan catatan-catatan bisa menunjukkan jati diri seseorang, dan sesuatu yang tak sengaja tertinggal acap kali mengungkapkan hal-hal tak terduga,” jawab penyidik itu, tampak sangat optimistis. Matanya mendadak seolah yakin pada sesuatu. Memberimu harapan.
    “Baiklah, silakan,” katamu mempersilakan.
    Dia berterima kasih dan menghubungi timnya untuk membantu. Termangu diam kau melihat mereka bekerja. Membiarkan mereka memasuki ruang-ruang pribadimu. Memberi mereka kewenangan untuk menelusuri segala milikmu, demi menemukan yang tak kau sadari. Tanda tanya dan rasa kehilangan berkerumun di sekitarmu memberimu pukulan-pukulan yang menyakitkan.
“Diperlukan penelusuran lebih jauh untuk mengetahui jati diri suami Ibu yang sebenarnya. Sesudah ini kami akan melakukan investigasi melalui kawan-kawan dan orang-orang yang pernah bertemu dengannya.”
Kau mengangguk.
“Silakan Ibu menuliskan daftar teman-teman yang sekiranya bisa kami hubungi untuk mendapatkan data sebanyaknya, yang mungkin saja relevan.”
Kau terdiam, mempertimbangkan sesuatu. Benar kau memerlukan data sebanyaknya demi menemukan petunjuk dalam pencarian, tapi memberikan data yang gegabah dan melibatkan banyak pihak bisa mengakibatkan hal-hal yang tidak positif. Pada sisi yang lain kau tidak ingin terlalu banyak pihak mengetahui hilangnya suamimu. Bahkan orang tuamu pun belum kau beri tahu. Bukan karena kau ingin merahasiakan namun demi supaya membuat mereka tidak mengkhawatirkanmu. Hal-hal semacam itu justru bisa memberikan beban tambahan padamu, maka kau justru ingin melokalisasi kasus ini.
“Akan saya berikan nanti, beri saya waktu untuk berpikir,” tolakmu halus.
Petugas penyidik itu mengangguk. Melalui sinar matanya, kau melihat pemaklumannya.
*
    Kau memilih alternatif yang lain, yaitu dengan mencari sendiri data melalui pihak lain. Beberapa sahabat suamimu telah menjadi temanmu pula. Kau memilih salah satu di antaranya sebagai langkah awal, Praha.
    Kau tidak datang terlambat, tapi temanmu datang lebih cepat. Dia menunggu di teras, di depan pintu toko yang tertutup.
“Mengapa tutup?” tanya Praha heran.
Advertisement
Kau berusaha tersenyum. Kau tidak ingin mengabaikan pertanyaan itu, hanya belum tepat untuk menjawabnya sekarang. Kau menyamarkan gerak mengelak itu dengan membuka pintu.
“Ada beberapa judul buku yang kupesan, entah apakah sudah ada,” kata Praha mengikuti langkahmu dan menelusuri deretan buku.
Beberapa saat kemudian suaranya menghilang dan kau mendapati dirinya berhenti di tengah ruangan. Diam menatap padamu, lurus dengan barisan tanda tanya.
Napasmu terhela di tempatmu berdiri. Kau membaca ekspresinya dan menafsirkannya pada saat yang sama. Mungkinkah aura ruangan ini telah memberinya sebuah pertanda? Praha pencinta buku, barangkali nalurinya menangkap kesedihan buku-buku di dalam gerai yang kehilangan pemiliknya.
Praha membuka jendela, memberi jalan bagi udara pengap yang terkunci beberapa hari. Gumpalan udara pengap itu berhamburan melarikan diri. Aroma kertas menguar memberi aroma yang khas.
“Ada apa?” mata Praha menatap di kedalaman matamu. Kau melihat bergumpal-gumpal tanda tanya menyertainya.
“Berapa lama kalian berteman?” kau balik bertanya.
“Mengapa?” Praha juga balik bertanya.
“Jawablah dulu,” katamu lembut. Tidak memohon, tak pula memaksa. Namun lebih sebagai sesuatu yang tak bisa ditolak.
Praha berusaha mengingat sebentar. “Entahlah, sebelum dia membuka gerai ini.”
“Berapa tahun?”
“Tak selama itu, barangkali setahun?”
Kau terkejut. Pada sangkamu dia adalah sahabat lama.
“Kalian bukan sahabat lama?”
Praha menggeleng, tersenyum. “Dalam hitungan waktu memang tak lama, tapi begitu bertemu kami langsung nyambung dalam banyak hal, seolah sahabat lama yang bertemu kembali.”
Kau termangu. Ternyata itulah yang terlihat olehmu. Seolah sahabat lama.
“Bagaimana kalian bertemu?”
“Di bandara.”
“Bandara di mana?”
“Ibu kota. Bukan di ruang tunggu atau kedatangan. Kau tahu di mana?”
Tentu saja tidak. Kau menggeleng sebagai tanda sedang tidak ingin bermain duga menduga.
“Bagian Lost and Found.”
“Apa yang terjadi?”
Praha tersenyum. “Barang kami tertukar. Dia membawa banyak sekali buku. Hampir sepuluh kardus. Punyaku hanya satu. Rupanya aku salah ambil. Kusadari itu saat membongkarnya di rumah. Isinya buku-buku yang tak kukenal.”
“Buku apa?”
“Segala macam. Semua buku bekas, itu yang membuatku langsung mengetahuinya karena semua bukuku baru.”
“Lalu?”
“Seolah takdir bekerja. Kami datang di kantor Lost and Found pada saat yang sama. Bahkan petugas belum memproses laporan saat kami mengenali kotak buku masing-masing.”
“Sebenarnya aku yang lebih takjub pada bagasinya. Semua buku bekas itu sangat istimewa, menjadi tanda tanya bagaimana dia mendapatkannya.”
“Hay On Wye?” kau menduga.
Praha menjentikkan jari. “Nah itu. Sebuah desa menakjubkan yang tak pernah bosan dia ceritakan.”
 “Artinya saat itu dia baru saja datang dari sana?”
“Hmm, rasanya begitu.”
“Kalian terus bertemu sesudahnya?”
Praha menggeleng. “Melalui e-mail. Seingatku dia juga tidak memiliki ponsel ketika itu, bahkan merasa tidak memerlukannya.”
Kau mengangguk. Sesuatu yang tetap tidak dimilikinya hingga kini.
“Aku bahkan tidak tahu di kota mana dia tinggal. Tidak pernah dikatakannya dengan jelas. Sepertinya dia sering berpindah tempat, mungkin berkaitan dengan pekerjaannya ketika itu.”
“Pekerjaan apa?”
“Entahlah. Barangkali semacam penelitian atau organisasi nirlaba. Kami tak pernah saling menanyakan. Itu bagian dari ciri khas laki-laki bukan? Tidak terlalu memperdulikan detail kehidupan pihak lain, apalagi urusan personal.”
Kau mengerti.
“Tunggu, mengapa kau menanyakan ini? Mana dia?’
Kau masih harus menunda jawaban.
“Kau tahu mengapa dia kemudian memilih tinggal di kota ini?” Lagi kau bertanya.
“Suatu hari kebetulan dia melewati kota ini dalam sebuah perjalanan dan kami bertemu. Kami ngopi di kedai di tikungan itu. Rupanya dia menyukai suasana jalan ini. Lalu entah bagaimana, dia datang lagi beberapa bulan kemudian dan dengan caranya sendiri menemukan rumah tua ini sebagai gerai bukunya.”
Kau termangu.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” kembali Praha bertanya.
“Apa yang bisa kau katakan kalau kau harus bercerita tentang dia?” Lagi kau balik bertanya dan menunda jawabmu.
Praha menatap tajam. “Kau memberiku pertanyaan-pertanyaan yang mengherankan. Aku tak akan menjawabnya sebelum kau jelaskan apa tujuanmu. Mengapa aku merasa seolah diinterogasi?”
Kau tak berhak menolak keberatan itu. Kau memahami tanda tanya yang memenuhi kepalanya. Kegusaran-kegusaran yang ada di dalamnya. Hampir mirip dengan perasaanmu saat berhadapan dengan penyidik beberapa hari lalu.
Hening sebentar. Bahkan tak kau dengar suara napasmu sendiri.
“Dia hilang.” Suaramu terdengar kering. “Sudah tiga hari.”
Temanmu tercengang. Kau melihat matanya yang tak berkedip, lurus terarah padamu. Kau mengangguk, memberinya keyakinan.
“Polisi sudah melakukan penelusuran. Semua rumah sakit sudah kudatangi. Bahkan kuperiksa jenazah-jenazah tak dikenal di sana.”
“Astaga. Apa yang terjadi?”
“Itulah pertanyaan besarnya. Dia mendadak hilang, begitu saja, tanpa pertanda apa pun. Dalam situasi yang membingungkan ini, justru penyidik sempat curiga bahwa dia sengaja menghilang.”
 “Kecurigaan yang gegabah. Tidak mungkin dia melakukannya. Apa alasannya?”
“Mereka harus membuka alternatif terhadap semua faktor. Hal-hal yang beralasan sebagai motif, modus operandi yang biasa terjadi,” kau menjelaskan.
“Apakah kau percaya dia sanggup melakukannya?” sergah Praha.
“Aku tidak tahu. Kini aku sedang berhadapan dengan seseorang yang asing. Bukan seperti yang kukenal selama ini,” gumammu kosong, dalam kebimbangan yang membingungkan. “Maka bantulah aku, katakan apa yang kau tahu tentangnya?”
“Apa lagi yang bisa kuceritakan, telah kukatakan segala yang kutahu. Dia nyaris tidak pernah bercerita tentang dirinya sendiri.”
“Apakah kau tahu tentang teman-temannya yang lain?”
“Sebenarnya itu adalah teman-temanku, aku yang membawanya bergabung. Nanti akan kuhubungi, mungkin saja mereka mengetahui sesuatu. Hm, bagaimana dengan keluarganya? Apakah mungkin dia mendadak pulang ke kampung karena terjadi sesuatu?”
Kau menggeleng. “Kampung itu tidak pernah ada, polisi telah melakukan penelusuran. Data penduduk itu ternyata fiktif.”
“Apa katamu?” Praha sangat terkejut. “Itu mustahil. Pasti mereka tidak teliti.”
Tangan Praha terulur, menggenggam jemarimu. Kau merasakan genggaman yang bergetar, berpadu dinginnya telapakmu. Kalian berbagi ketakutan dan kesedihan.
“Mungkinkah dia melakukan hal-hal terlarang?”
“Rasanya dia bukan tipikal yang fanatik atau radikal untuk berada dalam pergerakan semacam itu.”
“Kita tahu betapa baiknya dia selama ini.”
“Atau justru itu yang menjadikannya too good to be true? Bahwa semua kebaikan itu kamuflase belaka?”
“Kamuflase demi apa? Biasanya hal semacam itu demi memerdayai seseorang bukan?”
Kalian berbagi pertanyaan, terbentur pada segala dugaan dan kemungkinan yang membingungkan.
“Kita sedang berhadapan dengan misteri. Hal-hal yang tak terduga, pertanyaan-pertanyaan tak terjawab. Tapi di atas semua itu, percayalah padaku satu hal, yaitu bahwa dia mencintaimu. Bahwa kau dan toko buku itu telah menjadi rumahnya,” kata Praha serius. Menatapmu sungguh-sungguh.
“Benarkah?”
“Ya, kami berbincang dengan bahagia saat itu. Dengan kopi latte, bukan kopi hitam. Kau telah berhasil membuatnya minum kopi latte. Kalau selama ini dia hanya memilih kopi hitam, karena itulah representasi hidup yang dijalaninya. Pahit belaka. Hingga pertemuannya denganmu, kehidupan yang kau bawa memberinya rasa baru selain pahit. Persis seperti kopi latte pilihanmu, serupa itulah dirimu baginya. Paduan pahit, gurih dan manis yang seimbang tak berlebihan.”
Kau tersipu, analogi itu melambungkan hatimu.
“Kau tidak sedang menghiburku bukan?”
“Tidak.” Praha menggeleng, “aku lebih memilih untuk menjaga harapanmu.”
“Tapi jangan menjaganya dengan harapan palsu, kebohongan seperti itu akan meninggikan titik jatuhku.”
Lengan Praha merengkuhmu, melingkarimu dengan ketulusan yang menenangkan. “Aku bersamamu.”(f)

>>>>> Cerita Selanjutnya


************
Sanie B Kuncoro




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?