Fiction
Muka Sapi [4]

5 Mar 2014


<<<<<<Kisah Sebelumnya

Kisah Sebelumnya:
Fay menderita vitiligo, kelainan pigmen kulit yang membuat mukanya belang-belang putih. Ia pun dijuluki si muka sapi. Rasa minder membuatnya terobsesi untuk menjadi yang terbaik dan membuatnya terlalu percaya diri. Fay juga bermimpi untuk bisa bekerja sebagai karyawan di perusahaan terkemuka yang berkantor di gedung mewah. Ia sama sekali tidak ingin menggeluti bisnis ayahnya yang kian surut, gerabah Dinoyo, Malang, meski ia punya bakat seni.


Ia terjaga mendengar suara ibunya yang tertawa-tawa, sambil sesekali mengucapkan terima kasih. Fayzah menegakkan tubuhnya. Bukunya jatuh dari pangkuannya. Dengan segera diambilnya lagi buku yang jatuh ke bawah kasurnya itu. Hatinya seperti ditusuk-tusuk. Buku akuntansi tingkat mahir itu jatuh ke kolong. Seperti sebuah isyarat yang menandakan bahwa itulah akhir harapannya di dunia profesional.
    “Fay? Kau sudah bangun?” ketukan di pintu kamarnya berbarengan dengan suara ibunya yang masih terdengar bersemangat.
    Ia tidak menjawab kecuali membuka pintunya. Ya. Ibunya masih kelihatan segar dan siap tempur sekalipun semalaman ia menemani Ayah membakar gerabah hingga dini hari tadi.
    “Kau tahu siapa yang menelepon?”
    “Ela?” tebaknya asal saja.
    Kedua mata ibunya bersinar terang. Kapan terakhir kali ia melihat sinar mata seterang itu? Oh, ya, kemarin dulu, ketika ibunya menghitung uang dari Pak Untoro. Kapan lagi? Mungkin ketika ia lulus dengan nilai sempurna tahun  lalu.  Yang jelas tidak terlalu sering juga. Jadi, sesuatu pasti sudah menyenangkan hati ibunya pagi ini.
    “Bu Marjono!” kedua bola mata ibunya  makin terang bersinar.
    Oh, teman pengajian ibunya itu.
    “Katanya, dekorasi kue ulang tahun kemarin begitu lucu. Cucunya sampai tidak mengizinkan kuenya untuk diiris.”
    Itu tidak terlalu mengejutkannya, namun justru membuatnya cemas.
    “Mengapa Ibu kelihatan sangat senang?”
    Senyuman lebar seketika lenyap dari wajah ibunya.
    “Apa yang harus membuat Ibu sedih? Orang sekelas Bu Marjono bisa memesan kue di bakery besar dan ternama di kota ini. Justru ia memesan pada kita dan ia sangat puas dengan hasil karyamu, Fay.”
    Fayzah menarik napas. Ia benar-benar merasa kesal. Mengapa tidak seorang pun di rumah ini yang memahami perasaannya sekarang? Mengapa selalu gerabah dan kue-kue itu saja yang mereka bicarakan? Apakah mereka tidak tahu kalau passion-nya bukan berada di sana?
    “Apa Ibu juga sudah mengatakan kalau yang menghiasnya adalah seorang penderita vitiligo? Yang mungkin akan menulari cucunya atau….”
    “Cukup!” ibunya memotong kalimatnya. Fay terkesima karena tidak pernah ibunya berteriak seperti itu kepadanya. Wajah perempuan itu menjadi kaku dan memerah. Fay tahu, ibunya pasti sedang marah padanya sekarang.
    “Ada apa denganmu?”
    Ia tidak berani menjawab kecuali menundukkan kepalanya.
    “Aku sudah bersabar sejauh ini dengan segala tingkah kekanakanmu, Fayzah! Karena kesalahanmu sendiri yang membuatmu gagal diterima bekerja. Lantas kau ingin membuat semua orang ikut merasakan kesialanmu?”
    Lidahnya serasa terpilin. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun  karena tidak mengira ibunya akan meledak seperti ini.
    “Apa kau ingin menyalahkan aku juga karena melahirkanmu seperti itu?” serbuan kemarahan itu membuatnya mundur selangkah ke belakang. Hatinya tergetar.
    “Mengapa tidak kausalahkan Tuhan sekalian untuk menyempurnakan kesombonganmu?”
    Yang terakhir itu seperti bunyi ledakan petasan yang menggetarkan gendang telinganya. Mengguncang jantungnya hingga memompa lebih cepat. Dadanya terasa sesak dan kedua kakinya goyah dengan hebat. Fayzah terempas ke atas lantai kamarnya yang dingin. Tubuhnya gemetaran. Tidak pernah ia melihat ibunya marah seperti sekarang.
    Terdengar ibunya menarik napas berkali-kali.
    “Kesalahanku padamu adalah memaksamu menjadi pintar agar tidak menjadi minder karena keadaanmu itu. Tapi tidak kusangka, kau akan menjadi pribadi yang begitu sombong dan egois. Kau tidak bisa menerima kehadiran orang lain dan tidak mau mendengar pendapat orang lain. Karena kau selalu berpikir mereka akan menyakitimu.”
    Air mata  menggenangi pelupuk matanya sekarang. Teguran yang sama pernah dilontarkan Pak Warsito beberapa hari yang lalu.
    “Lalu, bagaimana orang lain akan mengerti keadaanmu jika kau selalu merasa dirimulah yang paling benar selama ini?”
    Kini air matanya mulai berjatuhan di atas lantai. Sekali lagi ibunya menarik napas dalam-dalam.  Ia pasti bersusah payah menahan dirinya agar tidak diamuk rasa kesal.
    “Ibu sudah mendengar dari Bu Harso, yang keponakannya bekerja sebagai satpam di kantor itu. Kelakuanmu amat memalukan  saat seleksi penerimaan pegawai di sana.”
    Rasanya seperti disambar petir mendengar penuturannya itu. Tanpa sadar Fayzah mengangkat wajahnya yang basah. Hatinya  makin sakit melihat ibunya memegangi kusen pintu kamarnya, menahan tubuhnya yang gemetaran. Ia juga menyaksikan betapa luar biasanya perempuan itu menahan air matanya agar tidak sampai jatuh. Ibunya… ibunya benar-benar sangat marah.
    “Selama kau tidak mengubah sikap dan sifatmu itu, Fay, maka jangan pernah berharap kau akan mendapatkan tempat di luar sana. Itu adalah nasihatku, jika kau masih mau mendengarkanku sebagai ibumu.”
    Fay jatuh menelungkup. Ia menangis tanpa ampun lagi. Ibunya tidak berkata apa-apa,  kecuali meninggalkan dirinya sendirian.


                        *****    
    Ibunya benar. Ibunya selalu benar. Dirinyalah yang keterlaluan selama ini. Sudah seminggu ini ia berusaha menahan rasa malu dan marahnya atas kegagalannya itu. Ia benar-benar merasa terhina karena tidak mampu menunjukkan kepada orang-orang atas kepintarannya itu. Ia merasa, semua orang akan menertawakannya dan lebih mengasihaninya lagi karena ia telah gagal di babak awal.
    Fayzah sudah berusaha menutup mata hatinya selama itu. Ia tidak mendengarkan kata orang lain kecuali dirinya sendiri. Ia berjalan dengan caranya sendiri. Semata-mata agar dirinya tidak mendengar komentar-komentar yang tidak mengenakkan seputar muka sapinya itu.
    Bahkan, selama ini ia tidak memiliki seorang teman pun untuk berbagi cerita. Ia tidak pernah bergaul, karena takut terlibat dalam percakapan yang akan menyeret ketidaksempurnaannya. Apalagi seorang kekasih, jelas tidak ada dalam kamusnya.
    Makin besar, makin keras pula usahanya untuk mengalahkan keterbatasannya. Fayzah mulai berhijab sejak masuk SMU. Bukan karena untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang muslim, tapi lebih ditujukan untuk menutupi tubuhnya sebanyak mungkin. Agar orang-orang tidak perlu mengetahui betapa banyak  belang pada tubuhnya.  
    Waktunya dihabiskan di dalam kamar untuk belajar dan belajar. Ia sudah merencanakan masa depannya sendiri dengan baik selama bertahun-tahun. Dan ia sudah  mengacaukannya  dalam waktu beberapa jam saja.
    Sekarang, rasa bersalahnya  makin besar karena ibunya benar-benar kecewa pada sikapnya. Ego yang terkalahkan itu membuatnya begitu sensitif sehingga tidak menyadari apa yang dilakukannya dapat membuat orang lain tersinggung. Ia terlambat menyadari bahwa Tuhan sudah memberikan peringatan keras kepadanya.
    Fayzah bangkit beberapa lama kemudian. Ia harus meminta maaf kepada ibunya. Ia benar-benar sangat menyesal. Maka, ia segera bergegas mencari ibunya itu ke sekeliling rumah mereka yang kecil. Tapi, tampaknya ibunya sedang ke luar rumah. Ia hanya menemukan Ayah tengah duduk termenung di bengkelnya.
    Fayzah mendekat. Sebagian gerabah    sudah  dimasukkan ke dalam peti. Sedangkan sisanya yang telah diberi cat dasar dibiarkan tergeletak menunggu kering.
    “Ibu di mana, Yah?”
    Ayah mengembuskan napas panjang seperti ingin membuang seluruh beban di dada melalui hidungnya. Ia tidak menoleh, selain meneruskan mengemasi sisa gerabah ke dalam peti.
    “Sedang pergi mencari utangan.” Jawaban itu mengagetkannya.
    “Utangan? Untuk apa?”
    “Untuk mengembalikan uang yang terpakai buat membeli bahan-bahan dan cat-cat ini.” Ayah menunduk dalam-dalam, seakan-akan ingin membenamkan rasa kecewanya  ke dalam peti itu dan menutup harapannya.
    Fayzah merasakan getaran hebat di dalam dadanya lagi. Ia tidak boleh membiarkan kekacauan ini  makin berlanjut. Ia harus menghentikannya segera. Atau gelarnya akan bertambah satu, yaitu: tidak berbakti pada orang tua.
    Ia mengambil sebuah bangku. Kemudian diraihnya kaleng cat dasar yang tergeletak tak jauh darinya. Diaduknya cat itu dengan cepat menggunakan sebatang bambu untuk meratakan kekentalannya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mulai mengecat cangkir-cangkir yang sudah kering  itu dengan kuas. Gerakan tangannya begitu cepat sehingga ia bisa menyelesaikan setengah lusin cangkir dalam waktu beberapa menit saja.
    Ayah hanya diam memperhatikannya.
    “Sebaiknya Ayah mencari Ibu dan memintanya untuk segera pulang. Kita harus bergegas,” katanya pelan. Fayzah tidak sanggup  mengangkat wajahnya menghadapi Ayah yang masih berdiri mengawasinya.
    Terdengar helaan napas panjang Ayah.
    “Baiklah,” itu saja yang dikatakannya.
    Fayzah mendengar suara sandal Ayah yang terseret-seret meninggalkannya. Sebenarnya, bisa saja Ayah menelepon ibunya dari sini. Namun, tampaknya  Ayah ingin memberikan kesempatan untuknya sendirian saja di sana.  Fayzah tahu,  Ayah tidak ingin mempermalukannya dengan menanyakan alasannya meneruskan pengecatan gerabah  itu.
    Ia menunduk. Ayahnya memang selalu begitu.    

                        ****
Advertisement
    Fayzah memandang takjub ke luar jendela di mana terbentang  peternakan sapi Mitra Ranch Pujon yang sangat luas. Ia tidak tahu berapa hektare lahan yang dikelola oleh Pak Untoro itu. Yang pasti, bagian belakang peternakan ini langsung berbatasan dengan hutan  di lereng perbukitan yang hijau.
    Selama perjalanan menuju kantor ini, ia  melihat berbagai sarana sudah hampir selesai dibangun di sini. Ada kolam pemancingan, green house, kebun sayur dan kebun bunga, taman bermain, serta out bond area. Dan tentu saja, barisan kandang  sapi yang melingkari lapangan yang sangat luas.
    Fayzah juga melihat pembangunan depo biogas untuk menyuplai kebutuhan bahan bakar di peternakan ini. Selain itu ada unit pengolahan hasil susu yang berada di samping kantor ini. Beberapa pekerja tampak sedang menyelesaikan pembangunan bangsal besar di sisi kiri kantor ini. Yang mungkin akan digunakan sebagai tempat pertemuan atau mungkin tempat beristirahat pengunjung.
    Kembali ia mengamati ruang tamu  ini. Semua didominasi warna hitam dan putih, khas motif sapi perah. Namun ia berpendapat,  kedua warna itu kurang menarik minat anak-anak. Alangkah baiknya jika warnanya dibuat lebih ramai agar menimbulkan kesan segar, ceria, dan penuh semangat.
    Tapi, sudahlah, terserah bagaimana pengelolanya saja. Saat ini ia tengah menunggu Pak Untoro untuk menyerahkan berbagai model suvenir sebagai pengiriman tahap pertama. Ia ingin mendengar komentar dan reaksi Pak Untoro atas hasil karyanya itu. Mudah-mudahan tidak mengecewakan.
    “Aduh, sudah lama menunggu, ya, Mbak?” suara Pak Untoro menyapa dari pintu sebelah dalam. Pak Untoro masuk dengan pakaiannya yang khas, hitam-hitam.
    Fayzah bangkit dan membungkuk sedikit memberi hormat. Pak Untoro melepas sarung tangannya.
    “Silakan duduk… maaf, ya, jadi terlalu lama menunggu,” ia menyilakan kembali. Tangannya menekan sebuah tombol dari meja kerjanya.
    “Mbak Ning, tolong antarkan minuman ke sini. Terima kasih.” Ia tidak menunggu jawaban, khas seorang bos. Fayzah menelan ludahnya. Ia… ia harus belajar melupakan memiliki seorang bos seperti yang diharapkannya dulu.
    Pak Untoro mengalihkan pandangannya pada dua buah dus yang diletakkan di dekat tempat duduknya.
    “Jadi sudah selesai, ya? Benar-benar tepat waktu!” Kelihatan kalau ia menghargai jerih payahnya.
    Fayzah membungkuk untuk membuka dus-dus yang dibawanya dengan menggunakan angkot tadi. Disingkirkannya kertas-kertas pengganjal yang terbuat dari koran bekas yang dirajang oleh mesin penghancur kertas. Kemudian ia meletakkan satu per satu suvenir ke atas meja. Mangkuk, cangkir, mug, gelas, dan pigura foto. Semuanya bermotif sapi dalam berbagai karakter dan warna.
    Pak Untoro mengamatinya sambil sesekali tersenyum-senyum. Fayzah merasa lega. Setidaknya, lelaki itu tidak mengkritik karyanya.
    “Ini menarik. Karakternya unik-unik. Ada yang manis, ada juga yang konyol. Seperti ini…,” ia menunjuk wajah sapi gila yang menjadi favorit keponakannya.
    “Bapak tidak keberatan dengan yang itu? Saya bisa mengubahnya.”
    “Jangan! Jangan!” ia memotong cepat. ”Saya justru berharap karakter yang ini bisa menjadi daya tarik. Kau harus membuatnya yang banyak.”
    Fayzah mencatat pada agendanya yang selalu dibawanya.
    “Kau boleh mencetaknya di agenda seperti itu juga. Atau di bolpoin, tas daur ulang, atau payung,” Pak Untoro bergumam seraya berpikir.
    Jantungnya jadi berdebar-debar mendengar rencana sebanyak itu. Jika Pak Untoro benar-benar serius,  proyek ini akan besar sekali nilainya.
    “Kita bertahap saja, Pak.…”
    Pak Untoro tertawa.
    “Hai, saya terlalu bersemangat! Saya harap, kau bisa membuat lebih banyak lagi. Sebab, kami berencana akan membukanya akhir bulan depan.”
    Fayzah mengangguk.
    “Soal warna, Pak? Ada masukan untuk saya?” sekarang ia belajar merendah. Ia teringat  pada Pak Warsito yang kakinya masih direparasi itu. Ia pernah mengingatkannya untuk lebih mudah meminta maaf dan merendahkan hatinya terhadap orang lain.
    Pak Untoro terkejut dengan pertanyaannya.
    “Kenapa dengan warnanya?”
    “Sapi di mug itu berwarna pink dan biru, tidak seperti warna aslinya,” ia menjelaskan sambil menunjuk ke  mug-mug bermotif wajah sapi konyol itu.
    Lelaki itu tertawa.
    “Ah, terserah kau sajalah. Bagi saya, semua warna tetap saja sama.”
    Fayzah menggeleng.
    “Biasanya anak-anak kurang menyukai warna hitam dan putih, Pak. Karena itu saya tawarkan warna pink, biru, dan ada juga yang oranye untuk menyesuaikan selera anak. Atau barangkali Bapak ada pilihan lain?”
    “Oh, begitu, ya? It’s ok. Bagi saya tidak ada bedanya,” Pak Untoro menyetujui seketika dengan tanpa beban.
    Fayzah merasa tidak yakin dengan dirinya mendengar komentar yang enteng dari klien pertamanya itu.
    “Tidak ada bedanya bagaimana, Pak?” tanyanya bingung. Sebab, sepengetahuannya  tiap warna akan membawa efek yang berbeda. Seperti hijau yang menyegarkan, atau  warna kuning yang ceria.
    Pak Untoro menarik napas. Ia memandang kepadanya sesaat lamanya.
    “Karena saya tidak bisa membedakan warna!” katanya terus terang.
    Fayzah terperanjat. Jika tidak bisa membedakan warna, apakah berarti Pak Untoro itu seorang penderita buta warna?
    Lelaki itu tertawa lepas melihatnya kebingungan.
    “Ya, saya memang buta warna,” masih saja ia tertawa saat mengatakan keterbatasannya itu.
    Kemudian Pak Untoro menceritakan bahwa keadaannya itu sudah terdeteksi sejak dirinya masih kecil. Sehingga, ia sudah dilatih orang tuanya untuk tidak terlalu mengharapkan cita-cita yang muluk-muluk, misalnya menjadi dokter atau pilot seperti kebanyakan anak kecil memilih cita-citanya kelak. Orang tuanya sudah mengarahkan padanya untuk membiasakan hidup mandiri dengan memanfaatkan kreativitas sendiri. Mereka menyadari keterbatasan ruang gerak bagi pemilik keterbatasan seperti dirinya.
    Fayzah  makin terkesima melihat kesantaian orang ini menceritakan cacat mata yang dimilikinya. Ia tidak tampak terbebani dengan masalah yang barangkali bagi sebagian orang, bahkan dirinya sendiri, akan menjadi musibah. Menderita buta warna di dunia yang kaya warna ini? Sungguh merupakan malapetaka.
    “Yang penting adalah bagaimana kita bisa berusaha, berkarya dan berguna bagi orang lain. Soal warna, itu bisa diatur, ‘kan? Lagi pula, warna gelap dan terang sudah cukup memuaskan saya. Jadi tidak perlu dipusingkan dengan pilihan warna seperti yang kaupikirkan. Ha…ha…ha…!” ia tergelak lagi.
    Sebuah pukulan besar menumbuk relung hatinya yang terdalam. Meretakkan segala egonya selama ini. Tiba-tiba Fayzah merasa malu sekali pada dirinya sendiri karena telah mendramatisasi hidupnya menjadi terlalu penting. Ia merasa begitu istimewa sehingga tidak peduli dengan keadaan orang lain. Ia selalu merasa dirinya yang paling… paling patut diberi kesempatan.
    Ternyata, ada banyak orang yang jauh lebih parah kondisinya, tetapi  mampu bergerak lebih maju ketimbang dirinya. Mereka tidak menunggu kesempatan untuk datang menjemput, namun justru berlari menyongsongnya.
    Ia sudah mendapat pelajaran berharga dari Pak Warsito. Dalam keadaan terbatas seperti itu, ia mampu menduduki posisi yang bergengsi di perusahaan telekomunikasi besar itu. Dan kini dari Pak Untoro, seorang penderita buta warna yang menjadi pengusaha dan peternak yang sukses.
    Sudah seharusnya ia lebih banyak bersyukur kepada Tuhan karena dikaruniai tubuh yang sempurna, otak yang cemerlang, serta daya kreativitas yang lumayan menjual seperti ini.  Ia benar-benar beruntung mendapat ledakan kemarahan ibunya pagi itu. Jika tidak, barangkali hingga detik ini ia tidak akan pernah memahami kehidupan.    
    Pintu diketuk sebentar. Seorang perempuan bertubuh subur masuk membawakan minuman berwarna pink. Dari baunya, ia mencium aroma yoghurt yang masam. Pasti menyegarkan jika diminum di tengah panas seperti sekarang.
    Perempuan itu bernama Mbak Ning, yang bertugas sebagai humas di peternakan itu.  Ia menyilakan dirinya untuk mencicipi hasil olahan susu produksi mereka sendiri. Tanpa merasa canggung,  Fayzah mengangkat gelas tinggi itu lalu mulai mengaduk yoghurtnya. Warna asli stroberi bercampur susu begitu menggoda lidahnya. Dan rasanya memang enak. Segar dan tidak terlalu manis.
    Sementara itu Mbak Ning dan Pak Untoro masih saja mengamati suvenir-suvenir buatannya. Perempuan itu sependapat jika wajah sapi konyol yang ramah namun lucu itu bisa dijadikan semacam maskot peternakan. Katanya, anak-anak pasti menyukai karakter yang menarik seperti itu.
    Jantungnya berdebar kencang mendengarnya. Jika sudah begitu, maka urusannnya bisa lebih panjang lagi. Karena akan menyangkut hak paten dan kontrak jangka panjang yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Membayangkannya saja membuat dadanya menjadi sesak.
    “Oh, ya, Mbak Fay. Kontraknya akan diisi dengan menggunakan nama pribadi atau nama perusahaan?” tiba-tiba  Mbak Ning bertanya.
    “Nama perusahaan!” jawabnya spontan.
    “Baiklah. Apa nama perusahaannya, Mbak?”
    Fayzah menunduk sesaat. Tidak ada salahnya jika ia menggunakan nama galeri ayahnya, karena sudah cukup dikenal di kawasan perajin gerabah Dinoyo. Jika ia menggunakan namanya sendiri, pasti jarang orang mengenalnya. Tapi, ia harus memulai bisnisnya sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Pak Untoro. Apa pun risikonya!
     Lalu pandangannya tertuju pada mug dengan motif wajah sapi konyol   buatannya itu. Ia tersadar akan suatu hal yang membuatnya tersenyum seketika.    “Mukasapi Handycraft!”
    Mulai hari ini, ia dan semua orang akan terbiasa melihat dan menyebut nama itu sebagai rujukan mencari suvenir.
    Fayzah mengangguk mantap.
    “…mukasapi handycraft, pakai huruf kecil.”
    Mbak Ning menarik napas. “Yakin?” tanyanya sekali lagi.
    Ya, itu dia. Mukasapi. Entah mengapa sekarang ia merasa dipenuhi oleh rasa bahagia mendengar nama itu. Membayangkan seekor sapi gemuk yang ramah, jenaka, dan baik hati sekalipun wajahnya sedikit konyol. Perutnya  gendut, penuh dengan susu yang lezat dan sangat digemari anak-anak. Ia merasa nama itu akan menjadi sumber kegembiraan baginya kelak. Terutama bagi masa depannya.
    Ya, ia sudah menata niat dan hatinya untuk berubah. Ia tidak akan dan tidak perlu tersinggung lagi. Tuhan sudah memberikan wajah itu kepadanya, sebagai satu kekurangan dari sekian banyak kelebihan yang ada dalam dirinya. Dan itu adalah sebuah anugerah yang sempat membuatnya lupa untuk mensyukurinya.(f) (Tamat)

************
Shanty Dwiana Filmira




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?