<<<< Cerita Sebelumnya
Kisah Sebelumnya:
Setelah sekian lama pacaran, Parlindungan melamar Tiur. Berita ini sangat membahagiakan orang tua Tiur yang mendambakan putrinya mendapatkan jodoh orang satu suku. Apalagi setelah Nauli, kakak perempuan Tiur, memilih pergi dari rumah untuk menikah dengan pria pilihannya. Masalahnya, Nauli yang dimusuhi keluarga itu ingin membiayai pernikahan Tiur.
Tapi, rencana yang ditawarkan Nauli telah mengibarkan kembali mimpinya. Nauli bersemangat sekali untuk mengubah rencananya secara total. Nauli sudah memberi gambaran secara mendetail tentang konsep yang dia tawarkan kepada Tiur.
Resepsi pernikahannya akan berlangsung di sebuah hotel bintang lima dengan kapasitas tempat untuk seribu orang. Sedangkan untuk pemberkatan di gereja, baju pengantinnya tetap mengambil konsep Tiur. Menurut Nauli, baju pengantin Tiur sudah sangat cantik, tak perlu diubah. Hanya saja, untuk di gereja, Nauli akan menghiasinya dengan banyak bunga berwarna putih….
Nauli itu seperti namanya. Dalam bahasa Batak, dia mendekati arti ‘cantik’. Dulu, ayahnya selalu berkata, Nauli itu seperti padang rumput yang hijau, rerumputan indah yang menyejukkkan hati dan mata. Kakaknya itu merancang hidupnya dengan baik dan Tiur selalu terkagum-kagum pada Nauli. Mungkin, satu-satunya kesalahan yang pernah dibuatnya adalah dengan menikahi Rizal, lelaki yang telah membuat Nauli melangkahi prinsip-prinsip kehidupan yang dianut mereka sejak lahir.
Telepon seluler Tiur berbunyi. Di layar tertulis nama Parlindungan. Tiur ragu-ragu untuk menjawab. Dibiarkannya saja telepon itu berbunyi berkali-kali.
Satu SMS masuk. Tiur membukanya. Ternyata masih saja dari Parlindungan.
Masih marah padaku, Sayang?
Tiur membiarkan saja pertanyaan itu.
*****
“Tiur, kita harus bicara.” Parlindungan ternyata menunggunya di gereja. Tiur tidak dapat menghindar. Dia tidak mau bertengkar di tempat umum.
“Kau terlihat kurus sekali….”
Tiur tak mengacuhkan perhatian itu. “Kau tahu, aku bisa mati karena persoalan ini, Bang,” ucapnya dengan suara rendah, mencoba terlihat lemah di mata Parlindungan agar dikasihani dan akhirnya Parlindungan menyerah pada keinginannya.
Parlindungan menghela napas. Tiur menatapnya lekat, mencoba membaca apa yang diinginkan lelaki terkasih itu.
“Apa keputusanmu….”
“Ya, Tuhan, Tiur….”
“Jadi untuk apa bicara padaku kalau belum ada keputusan apa-apa,” potong Tiur dengan ketus, disebarkannya pandangan ke sekeliling gereja, takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.
“Pintalah apa saja, asal jangan yang satu ini, Ur,” pinta Parlindungan. Dia diliputi rasa bersalah.
“Sayangnya, cuma itu permintaanku, Bang,” ucap Tiur lirih. Keputusasaan melandanya. “Kasihani Kak Nauli, kasihani niat baiknya….”
Tiur merasa percakapan mereka tetap sia-sia, tak juga menemukan titik temu sama sekali. Tidak ada keajaiban kali ini, pikirnya.
Tiur segera beranjak pergi, tapi tangan Parlindungan yang kokoh memegang tangannya. Tiur tidak berusaha menepiskannya, tindakan itu bisa memancing pandangan orang ke arahnya. Tiur tidak mau itu. Dia lalu kembali menoleh pada Parlindungan sambil berharap keajaiban.
“Maafkan aku, Ur…. Aku tidak bisa,”
Tiur berlalu tanpa kata lagi. Harapannya sia-sia. Doanya kali ini tak berjawab.
***
Parlindungan kehilangan kantuk dalam beberapa malam ini. Permintaan Tiur yang begitu tiba-tiba itu telah mengganggu ritme hidupnya. Sudah lima hari ini dia tidak dapat tidur dengan tenang. Pekerjaan di kantor tidak dapat dilakukannya dengan baik, banyak jadwal yang harus disusun ulang karena kealpaannya. Teman-temannya mengatakan dia terkena sindrom pranikah. Tapi, baginya, ini lebih dari sekadar sindrom.
Sebagai laki-laki, apalagi seorang laki-laki Batak, bergalur murni Batak, dia harus menjunjung tinggi harga diri. Baginya, apa yang ditawarkan Nauli lewat Tiur adalah sesuatu yang menggiurkan. Menjadi pengantin tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun juga… Hmm. Menarik sekali! Sayangnya, hal itu tidak bisa dibanggakan!
Lalu bagaimana ini, dia tidak mau kehilangan Tiur karena prinsip yang baku itu. Apa yang bisa dikompromikan dari semua ini? Parlindungan berpikir keras. Dimiringkannya tubuhnya ke kanan, lalu ke kiri, berulang-ulang. Tapi, tetap saja tidak menemukan jawaban. Udara kamar yang tiba-tiba terasa pengap, memaksanya untuk keluar kamar.
“Belum tidur, Cok?” Ibunya terheran-heran melihat laki-lagi gagah itu masih saja berada di teras, melamun di sana.
Sadar kalau ibunya memperhatikan gerak-geriknya, Parlindungan menyerah. Dia harus mengatakan kegusaran yang melandanya.
“Aku tidak bisa tidur, Ma.”
“Kau memang terlihat gelisah akhir-akhir ini. Apa yang kau pikirkan?”
Parlindungan menghela napas sebelum bicara, lalu membeberkan perubahan rencana Tiur.
“Hotel?” ibunya mengulang kata terakhir Parlindungan. Diseretnya kursi teras mendekati Parlindungan.
Parlindungan menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tak gatal. Teramat matang, malah, seperti apel ranum yang siap dipetik, keluhnya dalam hati.
“Ya…. Tapi, rencana setelah pemberkatan berubah total karena kakaknya, Nauli, menginginkan ada resepsi besar-besaran setelah acara itu. Dia yang akan membiayai pernikahan kami….”
“Nauli yang katamu….”
“Ya…,” potong Parlindungan. Dia tahu maksud ibunya.
“Lalu masalahnya…?”
“Aku tidak mau… Apa kata orang banyak bila tahu perkawinan mewah yang digelar itu bukan uangku sendiri. Harga diriku bisa jatuh, Ma.”
Ibunya menatap Parlindungan sambil tersenyum. “Kau mirip almarhum papamu. Oya, tentang Nauli, kakaknya Tiur, apakah hubungannya dengan keluarga Tiur sudah membaik?”
Pertanyaan itu mengingatkan Parlindungan pada sesuatu. Bukankah Tiur sudah mewanti-wanti agar rahasia ini hanya dia, Rizal, dan Tiur saja yang tahu? Mengapa sekarang dia melibatkan ibunya? Aduh! Tanpa sadar Parlindungan memukul kepalanya. Dia baru menyadari kebodohannya.
Parlindungan buru-buru menutup pembicaraan malam itu.
“Cok,” panggil ibunya, sebelum Parlindungan meninggalkan teras. ”Selesaikan masalahmu dengan Tiur baik-baik. Kalau didiamkan, bisa-bisa pernikahanmu terancam batal.”
Parlindungan tiba-tiba terserang cemas, takut kehilangan Tiur secara tiba-tiba.
“Tiur, kita harus bicara…,” kata Parlindungan tergesa. Waktu di kamarnya sudah menunjukkan pukul dua belas malam, waktu yang konyol untuk bicara tentang hati.
Tapi, Parlindungan tidak peduli. Dia takut, bila tidak detik ini juga, cerita besok hari akan betul-betul mengubah kehidupannya menjadi buruk.
Terdengar suara Tiur yang berat.
“Maaf, kalau mengganggu, tapi kita harus bicara….”
Parlindungan tak bisa langsung bicara ke inti persoalan. Dia kebingungan untuk mengatakan maksud hatinya. Berkali-kali Tiur mengingatkan maksudnya, tapi Parlindungan tetap tak bisa.
Pertanyaannya tak terjawab. Parlindungan merasa Tiur sedang menghukumnya. Menghukumnya agar bingung seribu keliling.
“Tiur, jawab aku,” ucapnya lagi.
“Persyaratanku masih berlaku, Bang….”
Kata-kata Tiur membuatnya lega, diam-diam dia tersenyum.
“Baik. Dengan berat hati, aku akan mengubah keputusanku. Aku… aku setuju dengan perubahan rencanamu….” Dadanya terasa longgar ketika mengucapkan itu. Batu impitan sudah terangkat.
Lama Tiur tak menjawab. Sesaat kemudian, dia mendengar tangisan dari kejauhan. Suara tangisan Tiur. Kata-katanya lalu terdengar tersendat-sendat. Parlindungan tahu, gadis itu tengah bahagia dengan keputusannya.
*****
Perubahan rencana pesta pernikahan Tiur cukup melegakan Alfred, papanya. Sepertinya, pensiunan perwira menengah di kepolisian itu adalah orang yang paling bersukacita atas perubahan rencana itu. Dulu, sempat tebersit bahwa pesta pernikahan Tiur haruslah besar-besaran. Itu kadonya buat Tiur karena si bungsu itu telah memberikan kado terbaik pula buatnya: seorang calon menantu Batak, bergalur murni Batak.
Tiur sepertinya tahu bahwa lelaki pilihannnya kelak akan menjadi pengobat luka setelah beberapa kekecewaannya terhadap pernikahan kakak-kakaknya. Ronggur memilih gadis Autralia sebagi istri dan Nauli…. Ah! Dia malas mengingat nama itu lagi.
Tapi, kebakaran belasan hektare kebun kelapa sawit miliknya enam bulan lalu telah ikut meluluhlantakkan rencananya terhadap Tiur. Dia tidak punya persiapan ketika Tiur mengatakan rencananya untuk menikah. Seluruh tabungannya telah habis untuk reboisasi lima belas hektare kebun sawit yang terbakar di Sibolga.
Malam berikutnya, Alfred menelepon Saut dan Ronggur. Ponsel Saut tidak aktif. Dia pasti masih berada di luar kota, melewati laut lepas, mencari berita. Hanya Ronggur yang baru bisa dihubungi.
“Begitu, Pa?“ reaksi Ronggur terdengar datar di telinganya. “Baguslah…. Kemarin Tiur juga meneleponku, mengatakan rencana pernikahannya berubah total. Pestanya akan diadakan di hotel berbintang….”
“Ya… pesta adat kemungkinan besar juga akan dipakai. Aku sudah menghubungi Bang Halomoan untuk menghubungi beberapa kenalannya yang tahu tentang pesta adat itu.”
“Biayanya pasti besar. Pengusaha besar calon si Tiur itu rupanya….”
Ucapan Ronggur terdengar seperti sindiran.
“Tidak juga. Calonnya Tiur hanya pegawai bank swasta biasa. Kau tahu sendiri itu, ‘kan?”
“Tapi, kenapa perubahannya bisa sedrastis itu, ya, Pa?”
Alfred menghela napas. Pertanyaannya pada Tiur tidak sampai sedetail itu. Ketika dua malam yang lalu Tiur dan Parlindungan mengatakan perubahan besar dalam rencana mereka, Alfred sudah begitu bahagia mendengarnya, sampai lupa bertanya . “Entahlah, mungkin karena Tiur memikirkan aku dan mamamu. Bayangkan, dari dua perkawinan anak-anakku, belum pernah aku duduk di pelaminan pula.”
Sesaat tidak ada sahutan di seberang sana. Alfred tahu, Ronggur tersindir kata-katanya. Tujuh tahun yang lalu, saat dia memperkenalkan gadis Australia sebagai calon istrinya, papanya pernah menentang cukup keras rencana itu. Ronggur pun akhirnya menikah di Autralia tanpa persetujuan dari papanya.
“Ah, Papa…,” suara Ronggur terdengar lagi. “Maksudku… apa Papa tidak curiga kalau pernikahan Tiur melibatkan sponsor….”
Ucapan Ronggur menggantung. Alfred tidak mengerti maksudnya.
“Sponsor? Apa maksudmu?”
“Tidak… tidak apa-apa.” Suara Ronggur akhirnya menghilang.
Alfred terserang gusar. Direbahkannya dirinya di sofa. Apa yang ingin dikatakan Ronggur padanya? Ingin mengatakan bahwa Nauli ada di balik perubahan rencana Tiur? Mengapa orang banyak berpikir begitu?
Dia tahu dengan pasti, Nauli memang mampu membiayai semua ini. Suami Nauli, seorang bankir muda yang sukses, sedangkan Nauli sendiri seorang akuntan publik yang cukup terkenal. Uang baginya tak jadi masalah. Tapi, dia tidak yakin, Tiur akan mengkhianatinya.
****
Dua hari kemudian, Saut akhirnya bisa dihubungi. Tapi, Alfred memutuskan untuk tidak bicara soal Tiur melalui telepon, tapi saat dia di rumah saja.
Saat Saut pulang, Alfred langsung membicarakan rencana Tiur. Dia sangat berharap, Saut satu-satunya orang yang tidak mengaitkan perubahan rencana Tiur dengan Nauli.
Tapi, Alfred salah besar. Saut tidak hanya curiga bahwa Nauli berada di balik rencana besar Tiur, tapi dia malah akan bertanya langsung kepada Tiur tentang semua biaya yang dia peroleh.
“Jangan, nanti Tiur malah kecewa, merasa kita merendahkan calon suaminya. Jangan sekali-kali kau tanyakan!” tegas Alfred.
“Tapi, Pa, seperti kata Ronggur….”
“Kamu sudah tahu dari Ronggur rupanya…,” Sela Alfred.
“Ya. Coba Papa analisis. Parlindungan itu cuma karyawan bank biasa, dari keluarga sederhana pula. Sementara Tiur… dia baru saja lulus kuliah. Belum punya pekerjaan. Tidak mungkin bisa menggelar pesta pernikahan semegah itu, Pa. Papa tahu, berapa kemungkinan biaya yang akan dikeluarkan untuk pesta di hotel berbintang itu…”
Alfred terbatuk-batuk. Cepat-cepat diambilnya segelas air putih. Air dingin itu mengaliri dadanya yang terasa sesak tadi.
Malamnya, percakapan tadi terus terekam di otaknya. Matanya sulit terpejam. Hatinya sedang terbelah. Setengah hatinya menolak, setengah hatinya menerima argumen-argumen Saut dan Ronggur. Kepercayaannya pada Tiur mulai goyah. Haruskah dia menanyakan ini pada Tiur?
Sepi menghinggapi kamar. Alfred mencoba berkompromi sendiri dengan hatinya. Ya, pikirnya, besok kan masih ada. Dia akan melanjutkan kembali pembicaraan ini besok dan besoknya lagi. Menganalisis semua perubahan rencana Tiur sampai menemukan jawaban yang pasti.
****
Tiur merasa ada mata yang mengikuti. Perjalanannya menuju kantor Nauli disertai rasa gelisah. Beberapa kali dia bermaksud membatalkan kedatangannya ke kantor Nauli. Tapi, setiap dia menelepon Nauli, kakaknya itu memastikan agar tidak terlalu khawatir. Bagi Nauli, itu hanya bayang-bayangnya karena habis bertengkar hebat dengan Saut.
Tiur menghentikan taksinya tiba-tiba di depan mal. Dia masuk ke dalam mal sebentar, lalu keluar lagi dengan mengganti taksi yang lain. Persis seperti adegan film action.
“Jalan Mongonsidi, ya, Pak….” Tiur baru merasa lega setelah berada di dalam taksi yang baru. Sepuluh menit kemudian dia sampai di kantor Nauli.
“Kamu tegang sekali,“ Nauli menertawakannya. Tiur diam saja. Malas membahas apa yang membuatnya begitu tegang. Dia hanya ingin bertemu Nauli untuk memberi laporan bahwa rencana mereka sudah berjalan sekitar 60 persen. Katering dengan menu yang diinginkan sudah dipesan, kartu undangan sudah hampir selesai, suvenir tinggal menunggu kiriman dari Medan.
“Syukurlah….” Nauli menghela napas lega.
“Aku pulang, ya, Kak. Satu atau dua minggu lagi aku kabari.” Tiur mencium pipi Nauli, lalu berlalu dari kantor itu.
Entah mengapa, Tiur kembali merasa ada mata yang mengikutinya. Jangan-jangan Saut, pikirnya gelisah. Dia ingat, saat ini Saut sudah kembali ke Jakarta. Bisa saja Saut mengikutinya.
Tiur betul-betul merasa tidak nyaman, bahkan perasaan itu tetap tidak dapat dihilangkannya saat berada di dalam taksi sekalipun
Penulis: ANDRY ISKANDAR