“Akhirnya dapat juga kau hela (menantu) Batak, Bang,“ gurauan itu terlepas setelah acara lamaran telah selesai dan keluarga besar Parlindungan sudah pulang.
“Eh, Butet… Marga calonmu itu dengan marga kita adalah perpaduan yang bagus…. Pintar rupanya kau cari calon suami.” Gurauan kali ini ditujukan pada Tiur. Gelak tawa yang khas orang Batak terdengar.
Tiur tersenyum. Lalu, dengan gerakan halus, dia menyisih dari keramaian itu dan masuk ke kamarnya. Diambilnya telepon seluler yang tersimpan dalam lemari dan kemudian menekan-nekan sebuah nomor.
“Parlindungan telah melamarku malam ini, Kak.” Tiur mengabarkan peristiwa malam ini kepada Nauli, satu-satunya orang terdekat yang tidak hadir.
“Syukurlah, Tiur,“ terdengar suara dari seberang telepon. “Pasti Papa Mama senang sekali, ya?”
“Begitulah…” Tiur tidak terlalu semangat untuk menggambarkan kebahagiaan itu. Itu akan menyakiti hati Nauli. Lima tahun yang lalu, saat Nauli menyatakan rencana pernikahannya dengan Rizal, pernyataannya justru berbuah kemarahan dan berujung pengusiran.
“Jadi, apa rencanamu. Maksudku, apa yang bisa aku bantu untuk pestamu nanti…”
“Pestaku sederhana saja, Kak. Cuma pemberkatan di gereja, kemudian ada sedikit resepsi kecil di rumah,” beber Tiur. “Apa??…. Kakak ingin bertemu…. Besok sore di tempat biasa?” Tiur mengecilkan suaranya, takut rencana itu terdengar. “Ya….. Sampai besok sore.”
****
Keesokan hari, Tiur memutuskan untuk pergi menemui Nauli tanpa memberi tahu Parlindungan terlebih dahulu. Dia memilih untuk naik taksi saja daripada mengendarai sedan hitamnya membelah jalan-jalan di Jakarta.
Di resto yang telah ditentukan, Nauli ternyata sudah menunggunya hampir setengah jam lebih. Dengan setengah berlari, Tiur mendekati Nauli.
Nauli lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. “Pilih salah satu, Ur,” pinta Nauli, sambil menjejerkan lima buah contoh undangan yang semuanya tampak sangat bagus dan mahal.
Tiur memilih undangan berwarna merah tua keemasan dengan hiasan pita berwarna keemasan pula.
“Seleramu bagus…Aku juga suka undangan ini.”
“Tapi untuk apa, Kak?”
“Aku akan memesankan undangan ini untukmu.Untuk berapa undangan? Tiga ratus? Lima ratus…?”
“Pestaku sederhana saja, Kak. Mana cocok untuk undangan mahal seperti ini….”
“Ya, aku tahu… Tapi, masih ada waktu untuk mengubah konsep pesta, ‘kan?”
Tiur tercengang, meraba-raba maksud Nauli.
“Bagaimana kalau resepsinya di hotel saja. Aku kenal salah satu PR hotel di bilangan Gatot Subroto….”
Tiur cepat-cepat menggeleng. “Itu akan memakan biaya yang tidak sedikit, Kak. Aku dan Bang Lindung tidak punya uang sebanyak itu.”
Senyum Nauli terkembang. Ada rahasia yang tersamar. Tiur pelan-pelan membaca isyarat yang ingin disampaikan Nauli kepadanya, tetapi dia akhirnya tidak yakin dengan kesimpulannya.
“Jawabannya… Mau atau tidak, Ur…?” tanya Nauli, masih dengan senyumnya yang penuh makna.
Ditodong pertanyaan seperti itu, Tiur gamang untuk menjawab. Sambil mengaduk-aduk blueberry milk shake-nya Tiur terus berpikir. Biayanya dari mana? Dari tadi Nauli tidak tegas mengatakannya.
“Jangan takut, aku yang akan membiayai semuanya….” Seperti sedang membaca pikiran Tiur, ketegasan Nauli akhirnya keluar juga.
Tiur terlonjak karena girang. Naluri kekanakan yang sering muncul di saat-saat tak terduga. Tapi, alam bawah sadar segera mengontrolnya. Tiur teringat Parlindungan. Lelaki terkasih itu harus dilibatkan pula pada keputusan ini. Dia tidak bisa memutuskan sepihak.
“Aku akan bicara dulu pada Bang Lindung….”
Nauli mengangguk. Dia memberi tenggang waktu seminggu untuk Tiur dan Parlindungan berpikir.
Tiur melirik jam tangannya. Sudah mendekati pukul tujuh. Jarak tempuh dari kawasan Pantai Indah Kapuk ke rumahnya di Jakarta Selatan, memerlukan waktu sedikitnya 45 menit, itu pun kalau tidak terjebak macet. Tiur takut pulang kemalaman.
“Pulang bersamaku?” tanya Nauli.
Tiur cepat-cepat menggeleng.. Dia tidak mau mengambil risiko dan Nauli pun mengerti. Mereka keluar resto secara terpisah. Nauli terlebih dahulu keluar dari resto dan Tiur menyusul beberapa menit kemudian. Tatapannya langsung ke langit yang terlapisi awan tebal. Hujan akan turun sebentar lagi, pikirnya. Lalu hanya seperdetik kemudian, gerimis benar-benar turun. Tiur berubah pikiran. Naik taksi di malam hari, apalagi di tengah gerimis begini, rasanya tidak nyaman. Tiur menelepon Nauli, memintanya agar jangan dulu pergi.
*****
. Lalu dengan setengah berlari karena ingin menepis gerimis, Tiur melintasi tempat parkir menyusul Nauli yang menunggunya di mobil.
Langkahnya terhenti sesaat ketika ada yang memanggil namanya…..
“Tiur?”
Tiur menoleh, membiarkan gerimis membasahi. Di depannya tengah berdiri sosok laki-laki bertubuh kekar yang sangat dikenalnya. Astaga!!! Tulang (paman) Marudut dan kedua anaknya! Tiur tak bisa menutupi rasa keterkejutannya. Jakarta begitu luas, tetapi justru di tempat terpencil ini mereka bertemu.
“Sendirian saja, Tiur?”
“Ya…,” Tiur menjawab dengan tegang. “Maaf, Tulang. Saya jalan dulu….”
Setelah memastikan Tulang Marudut dan rombongan kecilnya pergi, Tiur berjalan lagi menuju mobil Nauli. Kelegaannya tergambar jelas.
“Ada apa?” tanya Nauli.
“Tulang Marudut dan anak-anaknya….”
“Astaga….Jakarta ini begitu kecil rupanya. Bagaimana pula dia bisa sampai di ujung Jakarta begini…,” keluh Nauli, sambil memasang seat belt-nya. “Kau yakin Tulang Marudut tidak melihat aku?” tanya Nauli, seperti tidak yakin.
“Sepertinya tidak. Dia sepertinya baru sampai di parkiran resto ketika aku keluar. Heran. Apa di Jakarta Selatan tidak ada resto yang enak….”
Nauli tertawa. “Mungkin dia berpikiran sama dengan kita….”
“Maksudnya?”
“Ya… Dia pasti heran malam-malam begini kamu ada di sana juga, sendirian lagi. Apa dia pikir, tidak ada lagi resto yang enak di Jakarta Selatan….”
Tiur tersenyum seadanya. “Kita ke sini kan karena ada alasan. Kita tidak mau ada yang melihat kita bertemu. Tapi… eh, dasar sial, masih ada juga. Tulang Marihot pula….”
“Tapi, kamu yakin kalau dia tidak melihatku?” Nauli menguji keyakinan Tiur.
Walau tidak pasti, Tiur mengangguk saja. Dia malas membahas masalah ini terus-menerus.
“Syukurlah kalau kau yakin.” tutur Nauli, sambil memutar mobil di sebuah tikungan. “Aku, sih, tidak apa-apa, Tiur. Tetapi, Papa pasti akan marah besar kalau ada yang melihat kamu bersamaku…,” ucap Nauli. “Itu saja yang kutakutkan. Bukan soal mengantarkanmu malam-malam begini….”
Tiur terdiam. Nauli benar, pikirnya. Empat tahun lalu, dia pernah merasakan amuk badai yang dahsyat saat papanya tahu dia baru saja pulang dari kantor Nauli. Rasa sakit karena tamparan itu akan terus terasa setiap kali dia mengingatnya.
“Stop di sini saja, Kak…,” ucap Tiur, sambil menunjuk ke tepi jalan yang berpohon rindang.
Mobil sedan hitam keluaran terbaru itu lalu berhenti di sisi jalan yang ditunjukkan, sekitar seratus meter dari rumahnya. Lalu, tanpa berbasa-basi, Tiur menutup pintu mobil sambil berdoa, semoga tak ada satu pun orang yang melihat dia turun dari mobil itu atau paling tidak, tidak ada yang curiga bahwa dia turun dari mobil Nauli.
“Tolong pertimbangkan kembali tawaranku....” Ucapan Nauli sedikit menghambat langkah Tiur.
“Pasti,” balas Tiur, tanpa menoleh lagi, lalu melesat pergi.
Sampai di rumah, jantung Tiur hampir berhenti saat papanya ternyata ada di teras. Padahal, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul delapan, jam di mana ayahnya sudah berada di kamar untuk istirahat. Tiur tidak mengerti, untuk malam ini saja, sudah dua kali kesialan nyaris mendekati dirinya. Hari yang aneh, pikir Tiur kesal, sambil menutup pintu pagar yang berderak jika dibuka atau ditutup karena sudah jarang diberi pelumas di engselnya dan banyak yang berkarat.
“Malam-malam, kok, pulang sendirian, mana si Lindung…?” Pertanyaan yang tak terduga itu sedikit membuat Tiur gelagapan. Adrenalinnya kembali tak stabil.
“Bang Lindung ada pekerjaan, Pa. Jadi aku pulang dengan teman saja….”
Tiur lalu bergegas masuk ke kamar sebelum pertanyaan-pertanyaan ‘aneh’ terlontar, yang nanti akan menjebaknya pada jawaban yang salah sehingga akan membuka rahasia yang disimpannya selama bertahun-tahun.
Ya…. Pertemuan-pertemuan Tiur dengan Nauli adalah rahasia besar, tidak seorang pun di rumah ini yang boleh tahu tentang pertemuan itu. Semua tentang Nauli adalah masa lalu, dan tak satu pun orang yang boleh membawanya pada situasi kekinian dalam bentuk apa pun.
“Kalau kamu masih mau mencoba-coba menghubungi anak tidak tahu diri itu Tiur, kau pun akan aku anggap sama dengan dia, tidak ada tempat pula buat kau dalam keluarga ini. Kau pegang kata-kataku!!!”
****
Tiur tahu, Nauli tidak pernah bermaksud untuk benar-bernar ‘pergi’ dari mereka. Kakaknya itu hanya perlu dimengerti bahwa cinta mampu menembus segala batasan.
Namun, pintu rumah telanjur tidak akan pernah terbuka untuk Nauli. Semua orang di rumahnya menutup mata, pintu hati, dan jiwa. Tak ada tempat lagi untuk Nauli sejak kakaknya itu memutuskan untuk pergi, menjemput masa depannya sendiri.
“Parlindungan menunggumu di luar….” Tiur terkejut ketika mamanya tiba-tiba berada di kamar. “Hei, Butet, kenapa kau sekaget itu….”
Tiur tersenyum, menutupi kebingungannya. Dulu, panggilan ‘Butet’ adalah untuk Nauli, tetapi akhir-akhir ini dia sering dipanggil begitu. Dia lalu bergegas keluar. Parlindungan ternyata sedang berbicara dengan ayahnya. Entah apa yang mereka bicarakan. Biasanya, tidak jauh dari soal politik. Oh, mereka bicara tentang pertarungan memperebutkan kursi DKI I, pikir Tiur sambil duduk di samping Parlindungan. Pembicaraan ‘dua pengamat politik’ itu pun lalu terhenti.
“Kita bicara di luar saja, ada yang mau aku bicarakan padamu…,” ucap Tiur kepada Parlindungan. Parlindungan mengangguk. Tiur memutuskan untuk menceritakan pertemuannya dengan Nauli sore tadi, di sebuah warung tenda sekitar lima puluh meter dari depan rumahnya.
“Rencana pesta pernikahan kita berubah, Bang…,” ucap Tiur, dengan antusias. Mata bulatnya berbinar-binar.
Parlindungan hampir tersedak jus apel yang dipesannya.
“Maksudmu?”
“Bagaimana kalau rencana pernikahan kita tidak sekadar pemberkatan saja di gereja seperti rencana semula….”
Parlindungan tertegun. Alis tebalnya bertaut, menandakan kebingungannya. Tiur tersenyum, disadarinya kata-katanya mengambang, membingungkan.
“Ada yang memengaruhimu?” tanya Parlindungan lagi, sebelum Tiur sempat membuka suara untuk menjelaskannya.
“Biar kujelaskan….”
Tiur menjelaskan semuanya dengan panjang lebar. Namun, sampai di akhir cerita, Parlindungan tak juga terlihat senyumnya, berkali-kali dia menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepala. Tiur menangkap sinyal ketidaksetujuan Parlindungan.
“Abang tidak suka dengan perubahan rencana itu?” Tiur meminta kepastian.
“Terus terang, aku bingung…. Kenapa tiba-tiba sekali, sih. Apa jangan-jangan kamu yang merengek pada Kak Nauli …?” Tatapan mata Parlindungan seperti sedang menuduhnya.
“Astaga, Bang! Nggak mungkinlah. Aku tahu diri. Ini murni kemauan Kak Nauli sendiri.” Tiur benci tatapan itu.
“Dan kamu setuju begitu saja?”
Tiur tertunduk. Ketidakantusiasan Parlindungan mengecewakannya. Baginya, seorang yang mencintai satu sama lain, harus pula mengimbangi rasa satu sama lain. Tapi, sepertinya kali ini, Parlindungan tidak.
“Kau juga seperti mengabaikan harga diriku, Tiur…,” ucap Parlindungan, pelan. “Di mana harga diriku sebagai laki-laki kalau pernikahanku sendiri harus dibiayai oleh orang lain….”
Tiur merasa tertohok mendengar kata-kata Parlindungan. Kata-kata itu sama sekali tidak tebersit dalam bayangannya.
“Astaga, Bang. Tidak ada yang merendahkan Abang… Ini kado pernikahan Kak Nauli untukku. Kamu tahu kan bagaimana dekatnya aku dengan dia?” Tiur mencoba bertahan.
”Apa perlu kita bicara dengan Kak Nauli agar semuanya jelas?”
Diam, tak ada sahutan.
“Papa Mama tahu tentang perubahan ini?”
Tiur menggeleng. Pertanyaan Parlindungan baginya terkesan bodoh. Bagaimana mungkin dia memberitahukan ini kepada mereka.
“Aku tidak mau mengambil risiko, Tiur. Ini namanya mengkhianati kepercayaan mereka. Aku tidak ingin kehilangan rasa simpati mereka kepadaku….”
Tiur menghela napas panjang, tatapannya nanar karena menahan tangis. Di mata Tiur saat ini, Parlindungan betul-betul mewakili sifat-sifat lelaki Batak. Teguh dengan prinsip-prinsip yang kaku. Dia persis seperti Papa, pikir Tiur.
“Bagaimana kalau pembicaraan ini kita teruskan besok?” Tiur memberi solusi, berharap ada angin perubahan.
“Bagaimana kalau jawabannnya tetap tidak…?” ucap Parlindungan. Tegas tanpa basa-basi. “Aku tidak mau ada perubahan apa pun.“
Ucapan Parlindungan memberi sentakan ke sekujur tubuhnya. Seketika dia kehilangan kata-kata.
Parlindungan meraih tangan Tiur. Tiur seketika menarik tangannya. Kemarahannya dialirkannya lewat tatapan matanya.
“Tolong jangan marah dengan keputusan ini, Tiur.“ bujuk Parlindungan. “Katakan terima kasihku kepada Kak Nauli, tapi maaf, aku tidak bisa menerima kebaikan yang teramat besar ini….”
Tiur betul-betul tak mampu berkata-kata lagi. Semangatnya telah menurun drastis. Penolakan Parlindungan, secara tidak langsung --dan tak terniat-- adalah penolakannya juga. Bukankah dia tidak mungkin menikah sendirian?
*****
“Bagaimana, Ur….” Pertanyaan-pertanyaan Nauli menghantuinya. Tiur pun merasa harus segera mengambil keputusan. Dia tidak mau terus-menerus terbebani pertanyaan itu.
“Oke, kita bicara di tempat biasa saja. Biar enak….”
“Lewat telepon sajalah. Kak.“ Tiur mencoba menghindar untuk bicara langsung dengan Nauli. Dia takut melemah di depan Nauli. Tapi, Nauli mendesak dan Tiur tidak dapat berkelit lagi. Nauli memutuskan bertemu di restoran biasa.
“Bagaimana, Ur…?” tanya Nauli, sambil menatapnya. Binar matanya penuh harap. Tiur menundukkan kepalanya, menatap permukaan meja jati resto yang kokoh.
“Aku…,” Tiur bingung untuk memulai kata. “Aku belum bicara dengan Bang Lindung….” Tiur mencari aman. “Tapi, kupikir, biarlah aku pakai rencana semula saja….”
“Kamu belum bisa membuang ketakutanmu, ya….”
Tiur mengangguk, dibiarkannya Nauli menebak-nebak tentang perasaannya tanpa menyangkutpautkan Parlindungan. Dia masih ingin melindungi Parlindungan agar seolah-olah penolakan ini hanya dari dia semata.
Dan Tiur pun kembali mengukuhkan rencana awalnya. Pernikahannya hanya akan dilangsungkan dengan sederhana saja. Cuma acara pemberkatan di gereja, lalu resepsi seadanya. Tidak ada pesta adat atau semacamnya.
“Kamu tidak jujur padaku, Ur. Apa ini sebenarnya maumu….”
Inilah yang dibenci Tiur. Nauli selalu bisa membaca hatinya. Dari dulu, Nauli selalu begitu. Naluri Nauli lebih tajam dari Mama, bahkan pula Parlindungan, kekasihnya.
Tiur lalu mengeluarkan sehelai tisu dari tasnya, menghapus beberapa titik di wajahnya yang sebenarnya tak berkeringat. Tiur hanya ingin membiaskan ekspresi wajahnya yang dapat dengan mudah dibaca oleh Nauli. .
“Ini pernikahan seumur hidup, Tiur. Aku tahu keinginanmu tidak begitu….”
“Tapi, kan yang penting doa restunya….”
“Kau menyindirku, Ur.” Ekspresi wajah Nauli berubah.
Uppss! Tiur kelepasan bicara. Untungnya, Nauli tidak benar-benar tersinggung.
“Aku yakin, kamu tidak benar-benar menolak keinginanku, ‘kan?”
Tiur ingin menangis mendengar pertanyaan itu. Betapa pintar Nauli membaca hatinya yang sesungguhnya.
Parlindungan memang tak pernah menjanjikan pernikahan yang mewah kepadanya. Jauh-jauh hari Parlindungan sudah mengatakan bahwa kalaupun mereka nanti menikah, dia hanya bisa menawarkan pesta pernikahan yang sederhana. Padahal, sekali dalam kehidupannya, Tiur ingin punya satu peristiwa yang terbingkai dengan begitu indah dan bisa dikenang banyak orang.
Tadinya, Tiur yakin, kalaupun Parlindungan tidak mampu mewujudkan mimpinya, ada Papa dan Mama yang akan membantu. Tapi, kebakaran perkebunan kelapa sawit di Sibolga yang menjadi sumber kehidupan utama keluarga saat ini sejak ayahnya menjadi purnawirawan polisi, telah meluluhlantakkan perekonomian keluarga. Keuangan keluarga mereka dikonsentrasikan untuk reboisasi kebun yang memakan dana ratusan juta rupiah. Bagaimana mungkin Tiur merengek meminta pesta pernikahan yang mewah di tengah keadaan tidak menentu seperti itu.
Parlindungan sendiri datang dari keluarga yang sederhana. Sebenarnya cukup mapan untuk kehidupannya sendiri, namun kehidupan kedua adiknya yang masih kecil dan masih butuh biaya besar untuk sekolah, tak bisa diabaikan.
Tiur tak bisa memaksa. Tiur tidak ingin seperti monster kecil yang siap menggerogoti kehidupan Parlindungan.
Penulis: ANDRY ISKANDAR