<<<<<< Cerita sebelumnya
Bagian 3 (tamat)
Kisah sebelumnya:
Martha yang asal Medan diam-diam pergi ke Mentawai untuk mengunjungi tantenya, Mindo, yang menjadi aktivis sosial di sana. Di sana ia dijemput oleh Yunus, salah satu kolega Mindo. Kepergian itu membuat Martha dicari-cari oleh kekasihnya di Medan, dan kedua orang tuanya. Di Siberut, Martha tertarik untuk menjadi relawan guru bagi anak-anak di pedalaman Mentawai. Petualangan baru pun dimulai.
“Anailoita…!” sahut beberapa suara dari dalam. Seorang bapak tua menyambut kami. Nyaris sekujur badannya dipenuhi tato. Aku jadi ingat pernah membaca tentang tradisi penduduk Mentawai yang mempraktikkan tato sebagai salah satu warisan budaya tertua di dunia. Ketika ia mengulurkan tangannya, tato bermotif bintang lima sudut alias pentagram di lengan atasnya menarik perhatianku.
Ia hanya memakai cawat berwarna cokelat kemerahan. Kepalanya diikat sejenis kain. Lehernya dilingkari kalung manik-manik aneka warna. Di belakangnya, seorang ibu berkulit kecokelatan tersenyum malu-malu. Aku menduga-duga rok sederhana yang dikenakannya itu terbuat dari sejenis kulit kayu. Beberapa orang dewasa lainnya menyalami kami dengan ramah. Anak-anak kecil bersembunyi di belakang ibu-ibu mereka, sambil menjulurkan kepala, seolah-olah aku adalah makhluk asing dari planet lain.
Beberapa gerakan yang berlalu lalang di kolong rumah terlihat sekilas dari celah-celah lantai papan uma yang tidak begitu rapat. Lalu terdengar dengus berisik dan suara-suara aneh yang segera kukenali. Rupanya, kolong uma ini difungsikan sebagai kandang ternak, yaitu babi dan beragam unggas.
Tiba-tiba Yunus menyenggol tanganku agar menyambut uluran tangan tuan rumah.
“Ini Bapak Bismar Sabaogok. Ini Ibu Bai, istrinya,” Yunus menerangkan. “Beliau adalah kepala dusun di desa ini. Mereka inilah yang menjadi perpanjangan tangan pemerintah dan beberapa LSM untuk mendaratkan program-program mereka. Mereka sudah bisa berbahasa Indonesia,” lanjutnya. Sambil tersenyum, kuanggukkan kepala pertanda hormat kepada mereka. Kulihat mereka sedikit tersipu, kurasa karena sanjungan yang diberikan Yunus.
“Dan ini Martha. Dia pengganti sementara dari guru kita yang sedang dirawat di Kota Padang. Besok ia akan mulai mengajar anak-anak di sini. Jadi tolong nanti Bapak sampaikan supaya anak-anak kembali datang untuk belajar esok hari,” jelasnya. Bapak Bismar menggumamkan sesuatu, yang kutafsirkan pertanda setuju.
“Martha ini adalah keponakan Ibu Mindo!” imbuh Yunus, yang segera membinarkan pijar indah di wajah mereka. Aku menduga bahwa mereka sangat menghormati tanteku itu.
“Mereka ini sudah seperti orang tua saya sendiri. Saya sering menginap di sini. Dan Martha juga akan tinggal di uma ini. Mereka sudah menyiapkan sebuah kamar untukmu selama di sini,” lanjutnya. Lalu Ibu Bai menarik tanganku, menuntunku berjalan melintasi ruangan luas tanpa dinding yang menjadi semacam balai pertemuan, lalu membawaku masuk ke sebuah ruangan yang berdampingan dengan beberapa kamar lainnya. “Ini kamarmu,” katanya ceria.
Aku sangat berterima kasih atas kesediaan mereka membuka rumah dan hatinya.
***
Walau baru beberapa jam saja berada di laggai –desa– ini, aku sudah terpikat pada mereka. Kesederhanaan menjalani hidup yang selaras dengan alam telah melekat pada mereka sebagai warisan dari leluhur. Nilai kekeluargaan juga sangat erat. Tetapi, kata Yunus, semangat persaudaraan ini sudah sangat luntur di banyak laggai di kepulauan ini, terlebih jika daerahnya makin maju. Menurutnya, itu dikarenakan pemerintah yang salah urus.
Dulu, tiap kali pemerintah melakukan program tertentu, mereka memanjakan masyarakat dengan memberikan uang. Akhirnya penduduk lokal menjadi terbiasa. Semangat gotong royong dan swadaya masyarakat dalam mengerjakan sesuatu menjadi hilang. Mereka mengukur segala sesuatu dengan uang. Tak ada lagi program yang gratis, sekalipun itu demi kepentingan mereka sendiri, seperti memperbaiki jalan atau jembatan, atau membangun fasilitas umum lainnya. Akibatnya, penduduk lokal sulit keluar dari kungkungan perangkap keterbelakangan.
Ketika senja mulai jatuh, aliran Sungai Silaoinan memantulkan cahaya kuning kemerahan, seolah-olah arus sungai itu berubah menjadi cairan emas. Kemudian kegelapan merenggut keindahan itu, berganti bunyi serangga malam yang riuh. Sagai, anak sulung Pak Bismar, seorang pemuda berusia dua puluhan, menyalakan genset. Beberapa lampu pijar segera mengusir pekat malam.
Di laggai ini, hanya uma milik Pak Bismar yang mempunyai mesin genset. Belakangan baru aku tahu, salah satu alat ukur kekayaan penduduk di sini adalah memiliki genset, selain mesin perahu, televisi, sejumlah ternak, ladang nilam, ladang cokelat, dan puluhan batang pohon sagu. Beliau bercerita bahwa dulu mesin genset ini didapatnya dengan membarter tiga ekor babi besar kepada orang Muntei, suatu daerah dekat Muara Siberut. Tetapi, mereka tidak menggunakannya tiap hari, hanya pada saat-saat tertentu saja. Karena, selain harga bahan bakar yang mahal, mereka juga harus membelinya jauh ke kota.
Ibu Bai menyuguhkan makan malam kami, dengan dibantu Yui, anak gadisnya. Aku sudah menawarkan diri membantu, tetapi Ibu Bai berkata, “Martha baru saja datang. Biarlah hari ini kamu benar-benar menjadi tamu. Tetapi besok, kamu boleh membantu.”
Selain menghidangkan nasi, Ibu Bai juga menyuguhkan olahan tepung sagu yang masih basah dan keras, lalu diparut dengan parutan rotan, kemudian dibungkus daun sagu dan dipanggang. “Ini namanya kapurut,” terang Yunus. Katanya, selain keladi rebus, inilah makanan pokok mereka sehari-hari. Bisa dimakan tanpa lauk, atau dengan rebusan ikan sungai dalam tabung bambu.
“Tepung sagu juga bisa diolah dengan memanggangnya dalam bambu dekat bara api, namanya kaogbuk. Rasanya lebih lembut dibandingkan kapurut. Nanti bisa kita buat, Kak!” kata Yui, antusias.
Keluarga Pak Bismar punya tujuh anak, empat di antaranya laki-laki. Tak seorang pun di antara mereka yang pernah mengenyam bangku sekolah. Dulu, orang tua Pak Bismar turut dalam program pemerintah untuk menempati desa yang baru dibuka di Saliguma, jauhnya sehari berjalan kaki dari desa asal mereka. Di sanalah Pak Bismar sempat bersekolah hingga kelas tiga SD, serta belajar bahasa Indonesia. Tetapi, ketika orang tuanya memutuskan kembali ke laggai mereka di pedalaman, ia terpaksa meninggalkan sekolah dengan sedih hati.
Untungnya, ia sudah dapat membaca dan menulis. Manfaatnya benar-benar ia rasakan sekarang. Itulah sebabnya, ia sangat mendukung ketika lembaga yang ditangani Tante Mindo berniat membuka sekolah di laggai mereka. Bahkan dengan antusias Pak Bismar menawarkan uma miliknya difungsikan sebagai sekolah. Dua anaknya yang paling kecil juga menjadi anak-anak yang paling bersemangat dalam belajar.
Aku masih tidak bisa membayangkan apa yang akan kulakukan besok ketika anak-anak laggai itu datang dengan penuh semangat untuk belajar. Namun, Yunus meyakinkanku untuk tetap optimistis. Yui akan menjadi penerjemah yang mendampingiku, walau dengan kemampuan bahasa Indonesia yang terbatas, karena ternyata anak-anak di daerah ini sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia. Yunus juga memberi tahu bahwa lembaga Tante Mindo sebenarnya sedang mengader Yui agar dapat menjadi staf lokal mereka di laggai itu.
Meskipun usianya masih belasan tahun, gadis itu menunjukkan keterbebanan untuk menolong anak-anak mengenyam pendidikan yang baik. Yui adalah salah satu murid pertama ketika sekolah di uma ayahnya dibuka beberapa tahun lalu. Ia sudah lancar calistung – membaca, menulis dan berhitung.
Aku benar-benar merasa sedang berada di ujung bumi. Anak-anak ingusan di kampungku saja sudah mahir berceloteh dengan bahasa nasional berkat adanya televisi. Bahasa pengantar di sekolah juga sudah memakai bahasa Indonesia. Bahkan, mereka nyaris gagap berbahasa daerah. Suatu kenyataan yang serba dilematis. Idealnya, semua anak negeri dapat berbahasa nasional, namun jangan meninggalkan bahasa ibunya.
Malam itu, kami berbincang hingga sekitar pukul sepuluh. Ketika mesin genset dimatikan, pekat malam menggurita di seluruh sudut uma.
***
Ketika fajar mulai mengintip di ufuk timur, beragam kegiatan telah menggeliat di dalam dan di sekitar uma. Ibu Bai sedang memasak di api tungku, dibantu Yui. Yunus sedang duduk berjongkok di dekat onggokan api sambil mengamati seorang bapak meruncingkan anak-anak panah. “Koi Kojik sedang membuat ramuan racun untuk anak panahnya,” jelasnya tanpa kutanya. Laki-laki berkulit legam itu sedang menggiling dedaunan, akar-akaran dan kulit kayu tertentu, lalu menambahkan beberapa butir cabai rawit. Setelah cukup halus, ia memerasnya dengan penjepit kayu dan cincin rotan. Kemudian anak-anak panah diolesi dengan cairan racun itu, dan dikeringkan dekat api. “Kalau sudah kering, baru bisa digunakan!” katanya.
“Mau berburu apa, Pak?” tanyaku.
“Macam-macam. Monyet, babi hutan, tupai, rusa, juga burung,” sahutnya. Lalu ia menunjuk pada berbagai tengkorak binatang yang tergantung menjadi hiasan di pintu uma. Katanya, itu adalah hasil buruan yang empunya rumah, suatu kebanggaan yang layak dipamerkan kepada orang lain.
Di kepulauan ini, berburu monyet secara berkelompok adalah salah satu kebiasaan yang telah turun-temurun. Warisan berharga untuk mempertahankan kehidupan. Setelah panah beracun mengenai sasarannya, perburuan sudah dipastikan berhasil. Mereka hanya tinggal mengikuti buruannya dari jauh, atau mengamati jejaknya, karena hewan buruan itu hanya dapat bertahan beberapa menit saja. “Kami pernah mendapat lima puluh monyet dalam sekali berburu,” ujar Koi Kojik dengan bangga. Kubayangkan segundukan monyet meregang nyawa dengan mengenaskan.
Cahaya menyilaukan dari salah satu dinding uma menarik perhatianku. Sejumlah kuali besar, bahkan ada yang berdiameter setengah meter hingga satu meter, tergantung berjejer di sana, juga beberapa periuk. Makin kuperhatikan, ternyata beberapa kuali besi juga digantung di langit-langit, juga di dinding dapur. “Untuk apa kuali sebanyak itu?” tanyaku pada Yui yang berjalan mendekat ke arahku.
“Oh, itu untuk persediaan alak toga –maskawin– saudara laki-laki saya,” katanya. “Bulan depan, sebagian kuali itu akan diberikan untuk keluarga calon istri Bang Sagai. Ia akan menikah!” lanjutnya.
Mendengar percakapan kami, Ibu Bai nimbrung dari dapur. Ia menceritakan bahwa ia sudah mengoleksi 39 kuali dan 15 periuk. Tetapi, itu belum cukup karena ia punya empat anak laki-laki, juga dua orang keponakan lelaki suaminya. Ia telah mengumpulkannya selama ini secara perlahan-lahan, supaya tidak pusing ketika tiba waktunya bagi anak-anak lelakinya untuk menikah. Alak toga ini akan menjadi milik mertua perempuan. Ketika kutanya sejak kapan budaya itu dipraktikkan, ia tidak tahu. Yang jelas, kuali menjadi salah satu dari sejumlah alak toga yang diminta keluarga perempuan, selain hewan ternak dan sejumlah ladang sagu, mata kapak dan kelambu.
Ah, rasanya jadi tak sabar melihat ritual pernikahan ala Mentawai.
***
Wajah-wajah polos itu berseri. Aku dapat membaca gurat harapan di sana. Seorang gadis kecil mencuri perhatianku. Namanya Luyung Sakening Oinan, seorang anak perempuan bermata ceria, datang dengan menggendong adik perempuannya berusia sekitar dua tahun, dengan keranjang rotan kecil berisi buku. Butir-butir keringat mengalir di sekujur wajahnya. Yui memberi tahuku bahwa Luyung adalah seorang murid pintar yang rajin. Ia nyaris tidak pernah absen, sekalipun harus berjalan kaki setengah jam dengan menggendong adiknya. Ia harus menyeberangi tiga anak sungai. Kalau sungai sedang banjir, ayahnya akan mengantarnya dengan pompong.
Puluhan anak lain datang dengan berjalan kaki, sebagian lagi diantar dengan pompong. Beberapa anak yang lebih kecil didampingi oleh ibu-ibu mereka yang masih sangat muda. Beberapa orang bahkan masih berusia belasan tahun, seumuran dengan Yui. Mereka juga antusias membantu anak-anak mereka menulis huruf dan angka dari papan tulis hitam yang tergantung di salah satu dinding uma.
Yui menjadi asisten sekaligus penerjemah bagiku. Ia mengajak anak-anak itu menyanyikan beberapa lagu ceria yang tak satu katanya pun kupahami. Beberapa anak dikelompokkan sesuai kemampuan mereka. Ada yang masih belajar huruf dan angka. Yang lain mulai belajar mengeja dan membaca. Yang lain sudah bisa mengerjakan hitungan sederhana. Semuanya sangat bersemangat. Sebentar-sebentar, ada saja yang menanyakan sesuatu. Sebenarnya diperlukan lebih banyak guru untuk mengajar mereka. Kadang-kadang Yui memberikan jawaban singkat, namun sesekali ia meminta penjelasan kepadaku.
Hari yang panjang dan melelahkan. Namun ini sepadan dengan semangat dan jerih payah mereka.
Sebagai seorang anak kampung yang telah mengenyam pendidikan tinggi dan bersentuhan dengan segala kemudahan fasilitas di kota, hatiku menangis melihat anak-anak ini. Akan jadi apa mereka tanpa akses pendidikan yang layak? Mereka akan tersingkir atau digilas roda zaman jika tidak diperlengkapi menghadapinya. Inikah yang dirasakan Tante Mindo sehingga ia memutuskan berkarya di Bumi Sikerei ini?
Mereka begitu haus akan ilmu. “Kami suka membaca surat!” teriak mereka gembira ketika aku membacakan sebuah buku cerita bergambar. Di sini, semua buku bacaan mereka sebut surat. Majalah, buku, komik dan koran. Di uma ini tersedia sebuah lemari buku dengan ratusan buku di dalamnya. Sebuah dunia mahaluas bagi anak-anak yang sepanjang hidupnya tak pernah meninggalkan tanah kelahiran mereka. Jika sudah selesai belajar, mereka akan memilih buku yang mereka suka dan membacanya berkelompok. Anak-anak yang sudah lancar membaca akan membacakannya kepada teman-temannya.
Keriuhan akan terjadi hingga siang hari. Lalu mereka kembali ke rumah masing-masing, membantu pekerjaan rumah tangga, bekerja di ladang, atau berburu ke hutan. Begitulah keseharian mereka. Sore harinya, Yui akan membawaku berkunjung ke beberapa uma, bahkan ke laggai lain untuk berkunjung, meminta orang tua mereka untuk mengantar anak-anak mereka yang sudah mencapai usia sekolah agar belajar ke uma Bapak Bismar Sabaogok.
Menghabiskan beberapa hari bersama anak-anak ini rasanya telah membuatku menjadi pribadi yang baru. Aku begitu menyukai mereka. Aku akan merasa khawatir dan kehilangan ketika salah seorang anak tidak muncul di suatu pagi. Aku bahkan mulai berpikir apa yang akan kulakukan jika nanti tidak bersama lagi dengan mereka. Bagaimana masa depan mereka, jika tidak ada pengajar tetap di sini? Aku tidak tahu bagaimana menjawabnya.
***
“Kakak Martha juga akan pergi tidak lama lagi, ‘kan?” Luyung, si gadis kecil bermata ceria itu, mengajakku berbincang setelah kelas belajar usai. Sementara anak-anak lain berebut membaca buku, gadis kecil ini malah menarikku bicara ke bagian uma yang cukup sepi. Yui dengan setia mengalihbahasakan percakapan kami.
Aku mengangguk. Binar di matanya segera meredup, berganti kekosongan.
“Tuhan tidak menjawab doaku!” desisnya. Ia menginginkan seorang guru yang akan menetap lama bersama mereka, mengajari mereka banyak hal, mempersiapkan mereka menjadi setajam anak-anak panah yang siap melesat ke depan. Yui menambahkan, selama ini, guru-guru yang mengajar di daerah ini adalah para relawan yang datang untuk waktu yang singkat. Ada yang hanya beberapa minggu. Juga ada yang beberapa bulan. Tante Mindo juga sudah menjelaskan ini kepadaku. Sebenarnya, mereka memerlukan lebih banyak tenaga tetap. Mereka menghargai pengabdian para relawan, namun mereka lebih mengharapkan ada orang-orang yang rela menginvestasikan hidup mereka selama bertahun-tahun untuk mendampingi orang-orang lokal.
“Kakak pasti tidak tahan dengan kami! Apakah karena kami bodoh dan jelek?”
“Tidak sama sekali, Luyung!” jawabku sambil menepuk-nepuk pipinya. “Kalian anak-anak yang baik dan manis. Kalian juga pintar. Kalau kalian terus belajar, kalian akan makin pintar. Dan kau Luyung¸kalau kau terus giat belajar, Kakak yakin suatu hari nanti kau akan menjadi orang yang hebat!” ujarku, tulus.
“Tapi, tidak ada orang kota yang tahan hidup dengan kami!” Air matanya mulai mengalir, tanpa suara.
Ah, kudekap dia dalam pelukanku.
Ketika Ibu Bai menghidangkan makan malam kami, suasana terasa senyap. Dalam waktu sesingkat ini, keluarga Bapak Bismar Sabaogok telah menjadi sangat rekat dalam hatiku. Dan aku yakin, begitu juga aku bagi mereka. Sagai dan ketiga adik lelakinya juga kelihatan sekali terpaksa menikmati makan malam diiringi deru mesin genset, serta seliweran laron dan serangga malam yang terpikat dengan cahaya.
“Pesan kami, jangan lupakan kami. Dan kalau Nak Martha berkenan, datanglah lagi,” ujar Pak Bismar sambil mengunyah sagu bakar. Aku mengangguk sambil tersenyum haru. “Pasti, Pak,” ujarku, lirih.
Aku telah memiliki keterikatan dengan orang-orang di laggai ini, khususnya di uma Pak Bismar. Mengutip pendapat Tante Mindo, aku seperti sepotong puzzle yang menemukan tempatnya di sini. Memiliki arti. Dapat berkarya bagi yang lain. Apakah aku sanggup? Ah, kuralat pertanyaan itu –lagi-lagi, seperti kata Tante Mindo– apakah aku mau?
***
Aku menaiki pompong dengan gemetar. Ketakutan bercampur dengan gemuruh kepedihan karena harus berpisah dengan orang-orang yang kukasihi. Puluhan anak berdiri di sepanjang tanggul Sungai Silaoinan di depan uma Pak Bismar. Kuberanikan menatap wajah-wajah yang murung itu. Beberapa orang tua juga ada di antara mereka. Tangan-tangan yang melambai itu berusaha mengikhlaskan lenyapnya satu pengharapan mereka akan masa depan yang lebih baik.
Ketika pompong sudah berjalan, air mataku mengalir deras. Terpujilah Tuhan yang menciptakan air mata, yang mampu menerjemahkan banyak hal yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Raungan mesin pompong yang riuh membuatku tak perlu khawatir kalau-kalau pengemudi pompong akan mendengar isak yang berusaha kutahan.
***
Tante Mindo menghadiahiku pelukan yang hangat dan lama. “Terima kasih sudah menolong kami, ya!” gumamnya. Namun sebenarnya, justru akulah yang patut berterima kasih atas kesempatan berharga ini.
Dengan simpatik dan antusias, ia mendengarkan petualangan seru yang kujalani.
Lalu ia memberi tahu beberapa pesan yang dititipkan melaluinya. Mamak berpesan agar sekembalinya dari Mentawai, aku harus singgah ke kampung, jangan langsung ke Medan. Kemudian pesan dari Bintatar. Katanya, ia perlu membicarakan hal yang sangat penting. “Ia hampir tiap hari menanyakan kapan kau bisa dihubungi,” jelasnya.
Bintatar.
Sebelumnya, mendengar namanya saja membuatku sesak. Namun kini, bahkan mengeja namanya pun aku sudah serasa tak punya beban. Seolah aku beroleh kekuatan untuk mengenyahkan dominasinya dari pikiranku. Baiklah, aku sempat mengira ia adalah lelaki terpilih dan calon menantu kesayangan Bapak dan Mamak. Tapi, seandainya mereka tahu semua tentangnya, mereka juga pasti berada di pihakku.
Ia memang lelaki penuh perhatian dan punya masa depan baik dalam kariernya. Penampilannya yang menarik juga akan mencuri hati banyak wanita. Namun, ketika seorang perempuan mengaku dihamili oleh pacarmu, justru ketika kau sedang mempersiapkan rencana pesta pernikahan, apa yang akan kau lakukan?
Tidak ada penjelasan yang bisa dilakukan Bintatar. Ia hanya berusaha meyakinkanku bahwa itu adalah suatu kekhilafan. Ia tidak menyangkalnya. Ia dan perempuan itu sudah sepakat mencari jalan damai, yang aku tak berniat untuk mengetahuinya lebih lanjut. Yang kutahu, aku telah memilih calon yang salah. Lalu, aku menjauh dan menutup semua akses kepadanya. Namun, karena ia tetap saja gigih ingin menemuiku, aku memilih mengasingkan diri ke pulau ini, sembari meyakinkan diri bahwa memang aku bisa hidup tanpanya. Dan, selama sepuluh hari di pulau ini, aku makin dapat memikirkannya dengan jernih, tanpa balutan emosi yang sentimental. Aku sudah berusaha berhenti membencinya. Namun, aku sudah putuskan bahwa ia tidak punya tempat lagi dalam hatiku.
Kali ini, biarlah aku yang meneleponnya.
***
“Sebelum meninggalkan Siberut, ada yang ingin mengajakmu jalan-jalan nanti malam!” kata Tante Mindo.
“Siapa?” aku penasaran.
“Yunus!”
Oh, aku masih berutang maaf padanya.
“Berdua?” Entah apa yang ingin kupastikan dengan pertanyaan itu.
“Tenanglah, Yunus itu lelaki yang baik. Tante tidak mungkin mendorongmu masuk ke jurang, ‘kan?” Mimik Tante Mindo berubah lucu.
“Dia memang sedang mencari calon istri. Tapi, malam ini ia hanya mau mengajakmu makan malam, kok. Mungkin dia ingin menunjukkan pada kamu sesuatu tentang Siberut, sehingga kamu akan merindukan tempat ini dan ingin kembali suatu hari nanti. Siapa tahu?”
Ah, apakah Tante Mindo sudah dapat membaca hatiku, bahwa aku sangat ingin kembali ke pulau ini? Lalu, apakah Yunus nantinya akan menjadi salah satu alasan penguat yang menarikku ke sini? Untuk saat ini, aku tidak tahu jawabannya. Namun, debaran aneh dalam hatiku membuatku ingin bersenandung ceria.(TAMAT)
Hembang Tambun
Pemenang III Sayembara Mengarang Cerber Femina 2015