Celebrity
Marissa : Belajar Dari Jurnalistik Dan Film

2 Aug 2013


Kecintaan Marissa Anita akan dunia jurnalistik ia rasakan sejak kecil. Ayahnya, Nicolaas Sutanto, mengenalkanya pada beragam buku bacaan hingga membuatnya tertarik dengan banyak hal. Marissa kecil memiliki mimpi suatu saat bisa bekerja sebagai jurnalis majalah. Selepas menempuh pendidikan Sastra Inggris dengan IPK 3.82, Marissa kemudian bekerja sebagai guru di lembaga bahasa Inggris, di daerah Tebet. Meski ia  begitu menikmati profesinya sebagai guru, delapan bulan kemudian, ia tetap melanjutkan kuliah S2 Jurnalistik di Sydney University, Australia.

Garis hidup membawa Marissa tak jauh dari cita-cita kecilnya. Sepulangnya dari Australia, ayahnya, yang pecinta saluran Metro TV, menyuruhnya mencoba tes masuk sebagai jurnalis, “Saya pikir mengapa tidak dicoba, apalagi nilai saya di bidang jurnalistik bagus,” ungkap satu dari enam lulusan terbaik di kampusnya ini. Dan ternyata, setelah 5,5 tahun bekerja sebagai jurnalis, Ia merasa telah menemukan passion-nya. Bahkan, salah satu mimpinya terwujud, ia dapat siaran bersama Dalton Tanonaka di Indonesia Now, program favoritnya.

Marissa menyadari profesi jurnalis tidak jauh berbeda dengan guru. “Ibaratnya, para penonton adalah murid di ruang kelas. Saya memberikan informasi kepada audiens, juga melakukan tanya jawab interaktif bersama mereka, sama seperti di kelas,” ungkap wanita yang mahir 5 bahasa, Inggris, Prancis, Jepang, Mandarin, dan Italia ini. 
  
Sebagai jurnalis, salah satu pengalamannya yang paling berkesan adalah saat ia mewawancarai aktris idolanya, Meryl Streep, di ajang Berlin Biennale for Contemporary Art di Jerman, tahun 2012 lalu. “Saya bertanya, mengapa ia selalu tampil cemerlang di setiap perannya, Kuncinya, ia mencari karakter tokoh yang ia mainkan dalam dirinya sendiri. Jika karakter tokoh itu depresi, maka ia akan mengubah kadar keceriaan yang ia miliki dan meniru karakter tokoh yang ia perankan. Menjadi otentik, karena berasal dari dalam diri sendiri,” tuturnya, mengutip dari Meryl.  

Bagi Marissa, salah satu keuntungan menjadi jurnalis adalah setiap hari mempelajari hal baru dari orang-orang yang ia temui; seniman, musisi, politisi, hingga presiden.  “Juga dari orang-orang bebanyakan yang kaya akan pengalaman hidup, sama halnya ketika saya belajar tentang hidup dari film,” jelas wanita hobi menonton film ini sejak SMP ini.  
Memang, bagi wanita pencinta film ini, menonton film bisa membuka wawasan dan cara pandang seseorang. Seperti ketika ia menonton The Bridges of Madison County yang dibintangi Clint Eastwood dan Meryl Streep. Film ini bercerita tentang cinta dua kekasih yang tidak bisa bersatu. Dari film ini, Marisa belajar bahwa hidup itu tidak hitam putih. Apa yang diyakini orang pada umumnya suatu kebenaran, belum tentu benar bagi orang lain.

Advertisement
“Saya percaya, seseorang mengambil suatu keputusan karena ada alasan. Misalnya, ada selebritas bercerai, orang dengan mudah mencemooh, padahal mereka tidak tahu apa yang terjadi. Tidak menghakimi orang, itulah hal bijak yang saya dapat dari film,” jelasnya.

Kecintaan Marissa akan film ia tuangkan di blognya marissaanita.com. Ia menempatkan diri sebagai penonton pada umumnya. “Bahasa yang saya gunakan juga tidak terlalu canggih karena saya bukan ahli perfilman. Bagi saya, yang penting, seni akan terlihat indah jika seniman tahu bagaimana menyampaikan pesan,” jelas wanita yang pernah mengisi kolom review film di sebuah media online.

Kadang-kadang, sepulang kerja, Marissa tak ragu menonton film di bioskop sendirian. “Saya bisa menonton 2 hingga 3 film dalam sehari. Mungkin orang lain menilai saya aneh menonton sendirian, tapi saya justru lebih konsentrasi,” ujar wanita yang berakting di film pendek Superwoman karya Reza Rahadian dan Borrowed Time karya Edward Gunawan.
Film dan teater seperti nafas di hidupnya, sama seperti profesi jurnalis yang tak bisa ia tinggalkan. Ia mengibaratkan keduanya sebagai kedua tangan yang membuat hidupnya seimbang.

Itulah sebabnya, Marissa akan senang hati menerima tawaran akting di film maupun teater. Ia berprinsip tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang padanya. “Hidup manusia itu pendek. Memikirkan boleh, namun jangan terlalu lama, Every day is always to live your life to the fullest, love to the fullest. Saya tidak mau menyesal di kemudian hari,” jelasnya.

Daria Rani Gumulya




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?