• Lakukan riset melalui internet tentang jenis penyakit hingga rumah sakit yang ada di negara yang akan Anda kunjungi. Daftar rumah sakit dan dokter tepercaya, serta sistem kesehatan di negara bersangkutan. Dengan demikian Anda tidak akan tertipu oleh dokter gadungan. Di beberapa negara seperti India, praktik dokter ilegal masih cukup banyak ditemukan.
• Kenali emergency sign di negara yang Anda tuju. Tiap negara punya emergency sign yang berbeda, seperti di Indonesia ada UGD. Setidaknya, ketika Anda mencari dokter atau klinik di negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris, Anda bisa mengenali emergency sign yang tertera.
• Ketahui kondisi kesehatan negara yang kita tuju, seperti cuaca, penyakit endemik, dan musim flu apa yang sedang terjadi. Ini penting bagi orang tua yang mengajak anak kecil karena anak-anak cenderung lebih mudah terkena influenza dibandingkan orang dewasa.
• Ketahui pula jenis vaksinasi yang dibutuhkan untuk tiap negara di website negara tujuan. Beberapa negara yang angka penderita penyakit menularnya tinggi biasanya menjelaskan hal ini agar para pendatang telah mendapatkan vaksinasi jenis tertentu.
• Anda bisa mencari informasinya di sini:
www.iamat.org >> Website milik International Association for Medical Assistance to Travellers ini memberikan informasi lengkap tentang kesehatan di berbagai negara. Di sini juga tersedia informasi tentang dokter dan klinik kesehatan di 350 kota yang tersebar di 100 negara.
www.who.int >> Di website ini Anda bisa melihat jenis vaksinasi yang dibutuhkan saat berkunjung ke berbagai negara.
2. Berkonsultasi dengan dokter
Jika anggota keluarga dalam keadaan sehat, konsultasi bisa dilakukan 1-2 minggu sebelum keberangkatan. Tapi, jika salah satu anggota keluarga menderita penyakit kronis, seperti asma, darah tinggi, atau gangguan jantung, sebaiknya pemeriksaan dilakukan minimal 1 bulan sebelumnya agar kondisi kesehatan Anda prima saat berlibur.
“Beri tahu dokter Anda ke mana dan berapa lama Anda akan pergi berlibur. Sampaikan juga kepadanya informasi tentang kondisi cuaca dan flu season yang sudah Anda dapatkan dari hasil browsing,” saran dr. Astari. Dengan demikian, dokter Anda bisa membantu menyiapkan keperluan Anda, mulai dari menghitung kebutuhan obat-obatan hingga memberi saran untuk vaksinasi tambahan.
Saat berkonsultasi, pertama, periksa kembali riwayat imunisasi, terutama jika Anda mengajak anak berlibur. Vaksinasi tambahan akan diberikan dokter tergantung pada kondisi tubuh, usia, dan negara mana yang akan dituju. Anak kecil di atas usia 5 tahun umumnya sudah menjalani imunisasi lengkap. Jika membawa balita, konsultasikan dengan dokter vaksinasi yang perlu segera diberikan. Begitu pula dengan orang tua, harus dilihat vaksinasi apa saja yang benar-benar dibutuhkan.
Kedua, ketahui riwayat alergi Anda karena penyakit ini bisa timbul sewaktu-waktu jika ada pemicunya. Jika anak memiliki riwayat alergi, maka orang tua harus menyiapkan obat antialergi yang dianjurkan dokter.
Ketiga, tanyakan tanda-tanda kegawatdaruratan yang umum, seperti demam, diare, hingga sesak napas, terutama pada anak atau orang dewasa yang memiliki penyakit kronis. Hal ini perlu diketahui agar kita tidak cepat panik. “Dokter tentu lebih paham dan bisa mengomunikasikan kondisi ini, sehingga kita dapat lebih waspada,” jelas dr. Astari.
Bagi orang dewasa yang bepergian dalam kondisi sehat, konsultasi ke dokter cukup dilakukan untuk mendapatkan obat-obatan yang dibutuhkan. Karena, mendapatkan obat di luar negeri tidak semudah seperti di Indonesia. Belum lagi kendala bahasa bisa menyebabkan Anda mengonsumsi obat yang tidak sesuai.
3. Bawa catatan kesehatan dan persiapkan asuransi kesehatan
Ke mana pun Anda pergi, bawalah selalu buku catatan kesehatan anak yang berisi daftar imunisasi serta penyakit yang pernah diderita anak. Sedangkan bagi orang tua yang memiliki penyakit kronis atau yang menggunakan alat pacu jantung, jangan lupa meminta resume medis dari dokter.
“Perlakukan buku catatan kesehatan dan resume medis ini layaknya paspor Anda. Karena, ketika terjadi sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan, buku catatan kesehatan dan resume medis penting untuk ditunjukkan kepada dokter yang menangani,” jelasnya.
Jika ternyata Anda perlu membawa banyak obat, termasuk obat khusus, sertakan resep dokter untuk obat-obatan tersebut agar Anda tidak dicurigai oleh petugas imigrasi. Selain itu, untuk berjaga-jaga, Anda perlu memiliki asuransi kesehatan yang bisa menanggung biaya rumah sakit. “Jika keadaan benar-benar darurat, asuransi kesehatan bisa menutupi biayanya terlebih dahulu. Tentu prosesnya akan lebih mudah,” ungkap dr. Astari.
Waspadai! Penyakit-penyakit berikut ini mungkin terjangkit saat Anda liburan di luar negeri:
• Diare. Meski sebenarnya orang Indonesia memiliki pencernaan yang kuat, Anda tetap perlu berhati-hati. Terutama saat mengonsumsi air minum langsung dari keran air. Di negara maju sekalipun, tidak semua air keran layak dikonsumsi. Jaga juga kebersihan dengan rajin mencuci tangan.
• Infeksi saluran pernapasan. Perubahan cuaca bisa menyebabkan gangguan saluran pernapasan. Pada musim gugur dan dingin, udara cenderung lebih kering, membuat Anda lebih mudah terserang sakit tenggorokan dan batuk.
• Alergi. Ketahui alergi yang Anda dan anggota keluarga lainnya miliki. Ketika berlibur, hindari pencetus alergi Anda sekeluarga. Saat musim semi dan panas, udara lebih banyak mengandung pollen (serbuk sari) dan ini bisa merangsang alergi. Jika tidak dapat dihindari, sebaiknya siapkan obat alergi.
• Demam. Demam ringan bisa disembuhkan dengan mengonsumsi obat-obatan standar yang telah dipersiapkan. Yang perlu diperhatikan adalah bila demam mencapai 39 derajat lebih, terutama pada anak-anak. Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya segera bawa anak Anda ke rumah sakit atau klinik terdekat.
• Influenza. Jika Anda bepergian saat musim flu, sebaiknya berikan anak vaksin influenza. Tapi, konsultasikan hal ini terlebih dahulu ke dokter anak. Tingkatkan juga daya tahan tubuh anak dengan banyak mengonsumsi multivitamin serta makanan bergizi.
• Dehidrasi. Kegiatan yang padat dan udara yang berbeda membuat tubuh lebih mudah mengalami dehidrasi, terutama pada anak dan balita. Karena itu, pastikan asupan makanan dan cairan yang sesuai untuk tubuh. Jika anak mulai menunjukkan gejala lemas dan tidak mau makan, segera bawa ke dokter untuk mencegah dehidrasi yang makin parah.
• Winter depression. Orang yang terbiasa mendapatkan sinar matahari sepanjang hari dapat mengalami gangguan kejiwaan winter depression ketika tubuhnya tidak mendapatkan sinar matahari, seperti saat musim dingin. Umumnya, orang tersebut akan merasa lebih gloomy, tidak bisa menikmati suasana, tidak ceria, dan malas melakukan apa-apa. Tapi tak perlu khawatir, kondisi ini akan hilang dengan sendirinya setelah tubuh beradaptasi.
Faunda Liswijayanti
Foto: Corbis