Alexander Fergusson: Kepiawaian Menjaga Konsistensi Tim
1.Tidak Minder
Saat masih awal menangani MU di awal tahun ‘90-an, Fergie sempat diremehkan fans MU karena tidak memiliki prestasi selama 3 tahun. Tetapi, ia tak patah semangat. Ia membenahi kedisiplinan tim, yang sebelumnya terbilang kendor karena kerap kali bermasalah dengan minuman keras. Fergie juga lebih aktif berkomunikasi dengan para pemainnya. Hasilnya? Trofi Piala FA dan menjuarai Liga Inggris tahun ’92-‘93 setelah sekian lama minim prestasi.
Kata Psikolog: Seorang pemimpin harus paham apa yang ia rencanakan itu akan berhasil atau gagal. Kalau gagal, segera lakukan evaluasi dengan tim. Sehingga, anak buah juga tahu penyebab kegagalan dan segera memperbaiki kinerja tim bersama-sama. Tanpa komunikasi yang baik dengan anak buah, pemimpin tidak akan berhasil mencapai tujuan perusahaan.
2. Tegas dan Fokus Saat Menegur
Fergie terkenal dengan ketegasannya. Ia tak segan berbicara blakblakan saat menegur pemain yang berbuat salah. Bagusnya, Fergie tergolong fokus menjelaskan detail kesalahan tersebut tanpa membumbui masalah lain yang tak ada hubungannya. Setelah itu, ia langsung menutup permasalahan dan tak pernah mengungkitnya lagi.
Kata Psikolog: Tiap pemimpin memiliki gaya masing-masing, termasuk saat menegur bawahannya. Saat ada bawahan yang bersikap tak disiplin, tegurlah sesuai porsinya. Bila memang perlu marah, lakukan dengan sepantasnya tanpa mengungkit masalah lain. Yang juga perlu diingat, bersikaplah objektif dan terbuka saat menegur bawahan. Persilakan anak buah Anda menyampaikan alasan mengapa ia berbuat kesalahan.
3. Menyamaratakan Pemain
Bagi Fergie, seterkenal apa pun David Beckham ataupun Wayne Rooney di luar lapangan, ketika bertanding, keduanya tetap harus respek kepada pelatih maupun pemain lain. Pernah, David Beckham bersikap jumawa sebagai selebritas dengan tak mengindahkan larangan-larangan pelatih. Menyikapi hal itu, Fergie pun memarahi Beckham dengan keras, bahkan sampai tak sengaja menendang sepatu yang melukai pelipis sang megabintang sebagai bentuk peringatan agar tetap bertanggung jawab sebagai atlet.
Kata Psikolog: Pemimpin harus tahu kapan menyikapi mereka yang kerap bersikap dominan. Dalam situasi ini, keterampilan berkomunikasi sangat diperlukan. Bila ada bawahan yang bersikap dominan dan mulai mengganggu kinerja tim, Anda harus segera mengintervensi. Lakukan ini dengan konsisten, penuh wibawa dan tanpa pandang bulu, agar si dominan juga paham kapan bisa mengontrol diri.
4. Never Stop Adapting
Bertahan menjadi pelatih Manchester United selama 20 tahun lebih, membutuhkan kemampuan beradaptasi yang tidak main-main. Dan, Fergie terbukti dapat melakukannya dengan baik. Ia mampu beradaptasi dengan semua pemain, baik dari generasi ‘90-an maupun 2000-an. Hal ini membuat dia bisa bertahan memimpin dan menjadikan MU bukan hanya klub terkuat di Inggris, tapi juga di Eropa.
Kata Psikolog: Pemimpin harus mampu memilih dan memilah mana cara yang efektif untuk kemajuan tim. Individu zaman sekarang terbilang lebih kritis dan tak takut ‘menyerang’ balik. Makanya, Anda dituntut bisa memahami karakter tiap anak buah. Bila Anda tetap bersikeras tak mau belajar beradaptasi dan bertahan dengan gaya kepemimpinan lama, tunggu saja tanggal mainnya ketika banyak karyawan Anda yang mengajukan resign.
RIZKA AZIZAH, AYU WIDYA S.