Sejak kecil, penyanyi dan aktris Kelly Osbourne (28) sudah menjalani hidup ala bintang rock & roll. Hidup di antara trailer dan pesawat jet, mengikuti ayahnya, Ozzy Osbourne (64), tur bersama band Black Sabbath, Kelly tumbuh besar di 20 kota di Amerika Serikat dan Inggris. Ia juga jadi saksi ikatan kuat narkoba dan rock & roll, serta bagaimana narkoba berhasil mendongkrak rasa percaya diri ayahnya di atas panggung. “Jangan pernah mencoba narkoba atau kau akan berakhir seperti saya,” cetus Ozzy, berusaha memperingatkan putrinya.
Namun, Kelly tak mengindahkannya dan mulai meminum pil painkillers sejak usia 13 tahun. Pada awalnya ia mengonsumsi painkillers Vicodin, lalu beralih ke Oxycon yang merupakan heroin sintetis. Perkenalannya dengan Vicodin dimulai pascaoperasi pengangkatan amandel. “Awalnya, saya hanya minum satu pil tiap akhir pekan, lalu satu pil tiap hari, kemudian tiga pil tiap hari. Hingga akhirnya, saya minum sebanyak 50 butir pil tiap hari, dua kali lebih banyak dari dosis legal. Sering kali, saya merasa tak tahan dan akhirnya muntah darah,” ujar Kelly.
Akibat kecanduan itu, pada April 2004, ia direhabilitasi di pusat rehabilitasi Promises, di Malibu. Setahun kemudian, dia direhabilitasi lagi di Las Encinas Hospital, di Pasadena, California, setelah kecanduannya kambuh lagi. Sayangnya, berkali-kali keluar-masuk pusat rehabilitasi tidak membuat Kelly kapok. Tahun 2009, ia kembali masuk ke pusat rehabilitasi selama sebulan setelah sempat mengalami kejang-kejang akibat kecanduannya tersebut.
“Kelly sedang direhabilitasi. Dia tahu, ini yang terbaik untuknya. Kami bangga dia menyadarinya dan kami akan selalu mendukungnya,” ujar Sharon Osbourne (60), sang ibunda, kepada Radar Online. Beberapa hari sebelumnya, Kelly ditahan dan didakwa penganiayaan ringan karena menampar seorang wanita di sebuah night club di London. Tampaknya, kejadian itulah yang mendorongnya kembali ke pusat rehabilitasi.
Ternyata, keputusannya sangat tepat. Karena, di pusat rehabilitasi terakhir itulah Kelly akhirnya merasa bahwa proses rehabilitasi berhasil membuatnya lebih baik. “Sebelum rehabilitasi, saya selalu minum painkillers sambil berharap saya tidak akan bangun lagi. Jika saya tidak direhabilitasi, mungkin saya tidak akan ada lagi di sini,” ujarnya, dalam wawancara dengan majalah People.
Banyak orang menduga, kecanduannya terhadap narkoba karena contoh negatif sang ayah. Namun, Kelly tak mau menyalahkan ayahnya. “Sepertinya, apa pun yang ayah saya lakukan, saya tetap akan menjadi pecandu,” ungkapnya. Kelly mengakui, dulu ia membenci dirinya sendiri. Ia merasa gendut dan jelek. Rasa percaya diri yang timbul usai minum Vicodin membuatnya bahagia. Sejak saat itu, Vicodin menjadi ‘teman baiknya’.
Kini, Kelly berhasil menata hidupnya kembali berkat bantuan keluarganya. Dalam wawancaranya dengan CNN pada Mei 2012, ia mengatakan bahwa ia juga senang ayahnya pun sudah terbebas dari narkoba dan alkohol. Namun, ia merasa sedih karena sang ayah merasa bersalah telah menyebabkan Kelly kecanduan alkohol.
Setelah keluar dari rehabilitasi untuk terakhir kalinya, Kelly berjanji tak akan kembali lagi ke sana. “Saya mendapat kesempatan kedua dalam karier dan saya ingin memanfaatkannya dengan baik,” ujar wanita yang pernah menjadi kontestan reality show Dancing With Stars (2009), host di Fashion Police (2010 – sekarang), co-host Miss USA (2011 & 2012), hingga guest judge American’s Next Top Model (2012). Merasa bahwa dulu narkoba telah membuatnya menjadi orang yang egois dan kasar, Kelly juga meminta maaf kepada orang-orang yang telah ia sakiti di masa kelamnya dulu.
EKA JANUWATI