Ini menjadi senjata makan tuan, karena bagaimanapun juga rotan adalah salah satu penanda budaya Indonesia. Belum lagi penggunaan rotan sintetis yang masif dan tidak sesuai peruntukannya, sehingga perlahan menggeser keberadaan rotan alami. Menyikapi hal ini, desainer produk dan furnitur lokal mulai berlomba-lomba untuk mengembangkan potensi rotan dan mengembalikan citranya.
Salah satunya adalah Irvan A.Noeman, yang sempat membagi pandangan dan harapannya akan perkembangan furnitur rotan Indonesia sebelum kepergiannya pada Minggu, 19 April 2015. Kepada femina, desainer yang dihormati atas jasanya di industri kreatif Indonesia ini menjelaskan bagaimana kemewahan masa kini justru berasal dari hal-hal sederhana, contohnya rotan.
Keindahan dari Ketidaksempurnaan
Desainer produk Irvan A. Noeman melihat hal ini sebagai satu perubahan pola pikir yang memberi dampak positif bagi masyarakat Indonesia. “Dengan adanya gerakan slow design, masyarakat mulai sadar bahwa mewah tak selalu yang instan dan mengilap. Semua yang dari alam dan disuguhkan lewat proses tepat serta apa adanya, justru menjadi kemewahan yang baru,” jelas Irvan, menceritakan latar belakangnya menggeluti material rotan.
Lewat koleksi Matala yang merupakan hasil kolaborasinya dengan brand Vivere, Irvan berusaha menampik anggapan bahwa furnitur rotan adalah produk lawas yang tak cocok untuk hunian modern. Koleksi yang terdiri dari 7 jenis single chair ini didesain dengan konsep slim dan ringan untuk menjawab keterbatasan ruang pada sebagian besar hunian saat ini.
Ditujukan untuk hunian modern, tak lantas membuat Irvan lupa untuk tetap mempertahankan ciri khas rotan. Warna dan tekstur alami rotan justru ditonjolkan sebagai daya tarik utamanya. Daya tarik ini yang menjadi kunci Irvan untuk ‘menceritakan’ keaslian furnitur rotan tersebut dan keindahan proses pembuatannya.
Ini menjadi jawaban bagi masyarakat yang mulai sadar bahwa sumber daya yang disajikan apa adanya justru memperlihatkan kecantikan yang maksimal. “Dulu masyarakat begitu terobsesi dengan tampilan rotan sintetis yang rapi dan presisi, tapi lama-kelamaan pasti akan terlihat kepalsuannya. Baru kemudian masyarakat sadar bahwa kecantikan yang asli ada pada rotan alami dengan segala ketidaksempurnaannya, imperfection is the new perfection,” tegas Irvan dengan slogan andalannya.(NATHANIA HAPSARI)